Asprov PSSI DIY memberikan instruksi kepada tim Mataram Utama agar melakukan pembinaan terhadap pemain yang melakukan 'tendangan kungfu' dalam laga Piala Soeratin U-13 DIY. Mataram Utama diwajibkan menjalankan program pembinaan karakter.
"Ini sifatnya adalah pembinaan, bagian dari pembinaan. Kami juga sampaikan kepada Mataram Utama untuk melakukan pendampingan kepada anak ini agar nantinya anak ini jangan sampai merasa dia dimatikan kariernya," ujar Sekretaris Umum Asprov PSSI DIY, Wendy Umar Seno Aji, saat jumpa pers di Kota Jogja, Sabtu (22/8/2026).
Wendy menambahkan, Asprov PSSI DIY juga memberikan pembinaan kepada klub Mataram Utama. Pembinaan tersebut berupa pendidikan karakter yang ditujukan kepada seluruh elemen Mataram Utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain keputusan hukuman atau pembinaan kepada pemain ini tadi, kita juga tentunya membuat keputusan kepada tim, tim Mataram Utama, untuk bisa menambahkan materi character building atau pendidikan karakter kepada semua pihak di Mataram Utama itu yang terlibat di sepakbola, tidak hanya pemain, tidak hanya pelatih, wali juga," terangnya.
Program tersebut tidak hanya dilakukan sekali. Weny bilang, Mataram Utama diminta menjalankannya secara berkala selama enam bulan dan melaporkan pelaksanaannya kepada PSSI DIY setiap bulan.
"Nantinya Mataram Utama ini selama periode enam bulan kita minta untuk selalu melaksanakan dan monthly, setiap bulannya, periodik harus mengirimkan report itu kepada kita," jelasnya.
Wendy melanjutkan, program tersebut untuk sementara difokuskan kepada Mataram Utama sebagai evaluasi atas insiden yang terjadi. Namun, ke depan pendidikan karakter akan diperluas ke klub-klub lain di bawah naungan PSSI DIY.
"Nantinya ke depan Asprov PSSI DIY akan mengajak semua pihak di bawah PSSI DIY ini untuk melakukan pendidikan karakter. Kita sudah gandeng dari KONI DIY berkaitan dengan program-program ke depan tersebut sehingga nantinya ada pendampingan berkaitan dengan materi character building itu atau pendidikan karakter," katanya.
"Sehingga nantinya asas fairness, fair play, saling menghargai di dalam lapangan itu tetap bisa tercipta untuk iklim sepak bola yang jauh lebih baik lagi ke depannya," sambungnya.
