Serunya Naik Lori di Madukismo Bantul Sambil Melihat Produksi Gula

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Senin, 14 Sep 2026 07:02 WIB
Serunya naik lori sambil melihat proses produksi gula di Agrowisata Madukismo Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Bantul -

Madukismo tidak hanya terkenal dengan pabrik gula (PG) dan pabrik spiritus (PS), ternyata Madukismo memiliki argrowisata yang menawarkan sensasi menaiki lori atau kereta tebu. Selain itu, masyarakat juga bisa menyaksikan langsung proses produksi gula di Madukismo.

Pantauan detikJogja, Rabu (9/9/2026), para pengunjung bakal mendapatkan briefing dulu sebelum menjajal lori. Para pengunjung bisa naik lori dari Gedung Madu Candhya.

Setelahnya kereta bertenaga uap itu melaju lambat ke arah kawasan pabrik gula Madukismo. Sepanjang perjalanan, cukup terasa guncangan saat lori bergesekan dengan rel.

Setelah tiba di kawasan Madukismo, lori ini bakal berhenti di area bongkar muat. Tampak sejumlah pekerja yang tengah memindahkan tebu untuk masuk ke ruang produksi.

Aroma tebu pun menguar begitu memasuki area pabrik. Para pengunjung lalu diarahkan untuk masuk ke area pabrik gula Madukismo. Tampak sejumlah mesin-mesin pabrik berukuran besar yang beroperasi baik otomatis, maupun dengan bantuan manusia.

Sepanjang tur berkeliling area pabrik ini, petugas pemandu menjelaskan proses produksi tebu hingga menjadi gula kristal.

Serunya naik lori sambil melihat proses produksi gula di Agrowisata Madukismo Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Awal Mula PG Madukismo Berdiri

Koordinator Pengembangan Aset PG-PS Madukismo, Mahmud Safrudin, menceritakan awal mula adanya Pabrik Gula Madukismo. Kehadiran PG Madukismo ternyata untuk mengganti 17 pabrik gula di Jogja yang dimusnahkan.

"Lalu dibangunlah Madukismo ini untuk mengganti ke-17 pabrik gula itu atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1955," kata Mahmud kepada wartawan di Kasihan, Bantul, Rabu (9/9/2026).

Mahmud menyebut adanya PG Madukismo dulu untuk mempekerjakan para tenaga kerja pabrik gula yang sudah dibumihanguskan itu. Seiring berjalannya waktu, Madukismo menjadi terbuka bagi masyarakat.

"Tahun 1997 dibuka. Jadi, Madukismo terbuka untuk umum untuk dikunjungi," ujarnya.

Lama kelamaan kehadiran PG Madukismo juga menarik perhatian masyarakat yang penasaran dengan proses produksi gula. Akhirnya Madukismo membuat agrowisata.

"Nah, agrowisata itu untuk memperlihatkan anak-anak atau orang berkunjung di kami atau di perusahaan kami bagaimana proses pengolahan tebu menjadi kristal gula," ucapnya.




(ams/alg)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork