eretan becak masih terlihat berjajar di kawasan Malioboro, Jogja. Namun di balik riuh wisatawan yang datang silih berganti, para pengayuh becak kini tak lagi merasakan masa kejayaan seperti puluhan tahun lalu.
Salah satunya dirasakan Ngapiyo (56), warga Pundong, Bantul, yang sudah mengayuh becak di Malioboro sejak tahun 1988. Hampir empat dekade lamanya, ia menggantungkan hidup dari menarik becak di kawasan wisata tersohor di Kota Jogja itu.
Ngapiyo mengenang masa ketika becak menjadi transportasi favorit wisatawan maupun warga lokal. Saat itu, menurutnya, penghasilan tukang becak jauh lebih menjanjikan dibanding sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"NarIk becak sudah dari 1988, sudah 30 tahun lebih lah. Dari dulu memang di Malioboro. Perbedaannya dulu kan uang masih aji, buat apa-apa masih bisa. Sekarang apa-apa makin mahal jadi susah dan nggak nyukup," kata Ngapiyo saat berbincang dengan detikJogja di kawasan Malioboro, Kamis (28/5/2026).
Ia bercerita, pada era 1980 hingga 1990-an, tarif becak memang relatif murah. Namun jumlah penumpang jauh lebih ramai dibanding sekarang.
"Tarifnya dulu 100 perak, 200 perak itu dari KFC Malioboro ke Pasar Beringharjo. Dulu sehari itu bisa narik 10 kali dalam sehari, ya jaya banget, Mbak. Dulu banyak sekali dibandingkan sekarang," ujarnya.
Kini kondisi berubah drastis. Dalam sehari, Ngapiyo mengaku kadang hanya mendapat dua hingga tiga penumpang saja. Bahkan tak jarang ia harus pulang tanpa membawa uang sepeser pun.
"Kalau sekarang tarifnya paling Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu, paling dari Malioboro ke Stasiun Tugu. Tapi nariknya paling cuma dua kali, tiga kali. Pernah sehari nggak dapat sama sekali itu terus-terusan, iya sering," tuturnya.
Di tengah kondisi yang semakin sulit, Ngapiyo mengaku tetap bertahan menjadi tukang becak karena merasa tidak punya banyak pilihan pekerjaan lain.
"Mau kerja apa juga susah kan. Ya akhirnya tetap narik becak," katanya pelan.
Sebelum kembali sepenuhnya menjadi tukang becak, Ngapiyo sempat mencoba peruntungan lewat usaha kayu gelondong sekitar dua tahun lalu. Namun usaha tersebut justru membuatnya mengalami kerugian besar hingga puluhan juta rupiah.
"Saya dulu pernah usaha juga dua tahun lalu, bangkrut Rp 70 juta. Usaha kayu gelondong. Nyelot suwe, nyelot macet (semakin lama semakin macet). Kalau di Godean (tempat usahanya) itu biasanya satu bulan ambil ada tiga kali. Jadi ya berhenti karena cari pelanggannya susah," ungkapnya.
Saat menjalankan usaha kayu itu, Ngapiyo sempat berhenti menarik becak. Namun setelah usahanya bangkrut, ia kembali lagi ke Malioboro untuk mengayuh becak demi memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, bentor (becak motor) miliknya juga sempat dijual untuk biaya sekolah anaknya.
"Saya dulu punya bentor terus saya jual buat masukin anak sekolah. Terus beli lagi ini becak sepeda," katanya.
Kini, Ngapiyo masih rutin mangkal di Malioboro sejak sore hingga malam hari. Ia biasanya mulai menarik becak pukul 17.00 WIB hingga sekitar pukul 23.00 WIB, berharap ada penumpang yang datang menghampiri.
"Biasanya saya narik dari jam 17.00 WIB sampai 23.00 WIB. Kalau pas nggak ada kendaraan (Car Free Night) itu juga sama aja, jarang ada pelanggan, mboten kacek (tidak ada bedanya)," pungkasnya.
(ahr/ahr)












































Komentar Terbanyak
Sultan HB X Angkat Bicara soal Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
Terungkap Detik-detik Pelajar Tewas Dibacok 6 Gangster di Dekat SMAN 3 Jogja
Soal Pembubaran Ibadah di Gereja, Wabup Bantul Singgung Masalah Izin