Ibu di Cileungsi, Jawa Barat, tak menyangka putra semata wayangnya Wilmar Zebaoth Siburian (18) bisa kuliah gratis di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ibu bernama Charoline Sihole (52) sudah enam tahun menjadi tulang punggung keluarganya.
Keduanya tinggal di rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter di Cileungsi. Area teras rumah berwarna kuning itu tampak dipenuhi jajaran tabung gas dan galon air yang menjadi mata pencaharian Charoline sejak ditinggal suaminya, Wilmar Siburian (65) berpulang enam tahun lalu.
"Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih Rp 1,5 kadang Rp 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua," kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, dikutip dari keterangan tertulis UGM, Selasa (21/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Charoline mengenang dia dan suaminya merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Keduanya pertama kali bertemu sejak sama-sama menjadi penjual koran, majalah, dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan Kota Cileungsi.
"Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran," kenangnya.
Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur kehidupan keluarganya banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja.
"Saya dapat bantuan dari gereja, dapat beras dan untuk dia (Walmer) dapat uang saku," jelasnya.
Walmer pun termasuk anak yang tak berpangku tangan di tengah keterbatasan keluarganya. Sejak kelas 11 di SMAN 1 Cileungsi dia selalu langganan 5 besar di kelasnya.
"Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada lima besar hingga lulus," ujar Walmer.
Walmer pun memahami kondisi ekonomi keluarganya ini. Sejak SMP hingga SMA dia terbiasa membawa bekal makan siang dari rumah, dan juga sepulang sekolah membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon ke rumah tetangga yang memesan via WhatsApp.
Mimpinya meraih pendidikan tinggi di kampus terbaik pun terus dia pupuk. Meski begitu, dia sempat berat hati meninggalkan ibunya jika harus kuliah jauh dari rumah.
"Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya," kata Walmer.
Terima Kabar Saat Charoline Melayat
Saat hari pengumuman tiba, ibunya sedang melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal di daerah Kecamatan Gunungputri. Walmer pun girang saat menerima pesan jika diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik UGM.
Walmer pun bergegas menyampaikan kabar bahagia ini ke ibunya via telepon. Namun, ibunya tak sempat menerima telepon sehingga dia mengirim pesan tertulis.
"Ma, aku diterima di UGM," tulis Walmer.
Pesan Walmer ke ibunya pun berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,".
Sementara itu, Charoline tampak bingung dengan pesan yang dikirim Walmer.
"Kamu kenapa?" kata seorang sahabatnya.
"Nggak tahu, baca ini,"jawab Charoline.
"Anakmu diterima di UGM," celetuk temannya.
"Apa itu UGM?" tanya Charoline ke temannya.
"Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu. Selamat ya," ucap teman Charoline.
Kala itu, Charoline mengaku dipeluk sahabatnya beramai-ramai. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM.
Ibu dan anak ini akhirnya bertemu saat Charoline pulang ke rumahnya pukul 17.00 WIB sore. Walmer yang sudah menunggu di depan pintu pun memeluk ibunya dengan haru. Keduanya saling menitikkan air mata.
"Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa," kenang Walmer.
Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan.
"Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," ujar Charoline.
"Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,"sambungnya.
Walmer lalu menginformasikan kabar soal beasiswa via telepon. "Mama, saya dapat gratis di UGM," ucap Walmer.
Mendengar kabar bahagia ini, Charoline tak kuasa menahan tangisnya. Momen itu pun disaksikan pelanggannya.
"Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak," kata Charoline.
Sebagai Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu.
"Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya," ungkapnya haru.
Charoline pun tak mempersoalkan akan ditinggal anaknya untuk menempuh studi di Jogja. Dia mendoakan Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi putranya itu akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM.
"Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga," harapnya.

Komentar Terbanyak
Mahasiswa UGM Terancam Sanksi Buntut Hina Pasien BPJS Yurizal
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia
Ancaman Sanksi Pemasang Pelang Jalan Malioboro Ilegal