Makna dan Rangkaian Acara Nyadran, Tradisi Masyarakat Jawa Jelang Ramadan

Makna dan Rangkaian Acara Nyadran, Tradisi Masyarakat Jawa Jelang Ramadan

Arum Sekar Pertiwi - detikJogja
Rabu, 04 Feb 2026 12:41 WIB
Warga Padukuhan Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, saat melaksanakan upacara nyadran di Pasar Wonosari, Rabu (19/2/2025).
Ilustrasi nyadran. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja
Jogja -

Menjelang bulan Ramadan, masyarakat akan melakukan berbagai persiapan untuk menyambut bulan ke-9 dalam kalender Hijriah terseburt Dalam budaya Jawa, terdapat sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat, yaitu tradisi Nyadran.

Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Jogja, kata Nyadran sendiri berasal dari bahasa Sanskerta "sraddha" yang berarti "keyakinan". Tradisi Nyadran dilakukan dengan kegiatan ziarah kubur serta rangkaian acara lainnya yang bertujuan untuk mendoakan roh leluhur. Tradisi ini juga dikenal dengan nama Ruwahan karena dilakukan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa.

Untuk lebih memahami prosesi dan makna tradisi Nyadran, simak penjelasan tentang makna dan rangkaian acara nyadran berikut ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makna Tradisi Nyadran

Dirangkum dari artikel bertajuk Nyadran dalam Tradisi Islam Kejawen: Integrasi Budaya dan Religi dalam Masyarakat Jawa karya Muhamad Aminudin dan artikel Nyadran: Bentuk Akulturasi Agama dengan Budaya Jawa oleh Wildan Novia Rosydina, tradisi Nyadran memiliki makna spiritual sekaligus makna sosial.

Makna spiritual tradisi Nyadran tercermin dari kegiatan doa untuk menghormati leluhur sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Doa-doa yang biasa dipanjatkan meliputi surat Al-Fatihah, surat Yasin, serta doa-doa lain untuk keselamatan leluhur. Rangkaian acara nyadran juga sekaligus menjadi pengingat akan kematian dan mengingatkan peserta bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah SWT.

ADVERTISEMENT

Tradisi Nyadran juga menjadi perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT. Dalam acara ini, para peserta berkumpul dan saling berbagi makanan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat Ibrahim ayat 7, "...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Tradisi Nyadran pun menjadi bentuk syukur dan upaya menolak azab.

Adapun makna sosial tradisi Nyadran terlihat dari gotong royong dan kebersamaan yang terjalin di tengah masyarakat selama acara Nyadran, terutama saat acara makan bersama. Dalam kegiatan ini, para peserta saling berbagi makanan dan berbincang dengan peserta lainnya. Acara ini pun dapat menjadi sarana berbagi, menjaga kerukunan, saling menghormati, serta memperkuat hubungan sosial antarmasyarakat.

Rangkaian Acara Nyadran

Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Jogja, acara Nyadran tidak hanya berupa kegiatan ziarah biasa. Lebih dari itu, tradisi ini berisi rangkaian acara yang sarat akan nilai-nilai sosial budaya, seperti gotong royong, pengorbanan, silaturahmi, dan saling berbagi antarmasyarakat.

Berikut adalah rangkaian acara dalam tradisi Nyadran yang dirangkum dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Jogja dan artikel dari jurnal Humanis bertajuk Nyadran: Bentuk Akulturasi Agama dengan Budaya Jawa.

1. Besik

Besik merujuk pada kegiatan pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan. Pembersihan ini dilakukan secara gotong royong oleh keluarga dan masyarakat.

2. Kirab

Kirab adalah arak-arakan peserta nyadran menuju tempat upacara adat.

3. Ujub

Kegiatan ini berisi penyampaian ujub atau maksud dari upacara Nyadran oleh pemangku adat. Selain itu, pemangku adat atau pemimpin Nyadran juga biasanya memberikan sambutan dalam bahasa Jawa yang berisi pengingat agar selalu bersyukur atas nikmat dari Allah SWT.

4. Doa

Doa bersama dipimpin oleh pemangku adat dan ditujukan kepada roh leluhur yang sudah meninggal. Doa tersebut berisi permohonan ampunan agar roh leluhur mendapat jalan yang terang dan terhindar dari siksa neraka.

5. Kembul Bujono atau Tasyakuran

Selepas doa bersama, para peserta Nyadran kemudian melakukan kembul bujono atau makan bersama. Dalam kegiatan ini, setiap keluarga yang terlibat harus membawa makanan sendiri berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur, perkedel, tempe dan tahu bacem, dan sebagainya.

Makanan yang dibawa peserta akan dikumpulkan di depan dan didoakan oleh pemuka agama agar mendapat berkah. Setelah itu, dilakukan tukar menukar makanan, lalu peserta pun makan bersama sambil saling mengakrabkan diri.

Demikian penjelasan tentang makna dan rangkaian acara Nyadran, tradisi ziarah kubur masyarakat Jawa untuk menyambut bulan Ramadan. Semoga bermanfaat, Lur!

Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(par/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads