Sendang Moyo merupakan sebuah kolam yang terletak di sebelah timur laut kompleks makam Ratu Malang, tepatnya berada di puncak paling atas Gunung Kelir, Pleret, Bantul. Konon, lokasi sendang ini pada zaman dulu rencananya untuk memakamkan Ratu Malang, tapi batal karena terus mengeluarkan air.
Jarak antara Sendang Moyo dan kompleks makam hanya berjarak sekitar 25 meter. Akses jalan untuk menuju Sendang Moyo cukup menanjak dengan bebatuan kecil di sepanjang jalan. Sendang tersebut juga dikelilingi oleh tembok putih yang cukup tinggi, sama seperti tembok yang mengelilingi makam.
Memasuki area sendang, terlihat sebuah kotak panjang dengan kain mori putih yang menyelimutinya. Air Sendang Moyo terlihat berwarna hijau tua. Di tepi sendang terdapat sebuah gayung yang biasa dipakai peziarah untuk mengambil air.
Sendang Moyo disebut-sebut sebagai salah satu saksi bisu dukanya Amangkurat I saat kehilangan Ratu Malang, permaisurinya.
"Itu dulu mau buat makam Ratu Malang. Tapi setelah sampai di sana airnya keluar dan Amangkurat menunggu di situ selama 7 hari 7 malam tetap nggak kering," kata Juru Pelihara Makam Ratu Malang, Sardjito (48) saat ditemui di lokasi, Senin (11/12/2023).
"Tapi malam yang terakhir Amangkurat mimpi, bahwa Ratu Malang sudah berdampingan dengan suaminya, terus minta dimakamkan dekat suaminya. Terus dipindah dekat suaminya, tapi beda kompleks karena dia sudah dianggap sebagai permaisuri raja," jelasnya.
Selama menunggu air surut, Amangkurat I membaringkan jasad Ratu Malang di atas kotak panjang. Konon, kotak panjang tersebut merupakan tempat untuk menyimpan koleksi wayang milik Ki Dalang Panjang.
Amangkurat I memiliki keinginan untuk dimakamkan dalam satu liang lahad bersama Ratu Malang. Pemilihan Sendang Moyo yang berada di puncak bukit Gunung Kelir sebagai makam memiliki filosofi bahwa semakin tinggi tempat pemakaman, maka akan semakin dekat dengan nirwana atau surga.
"Ratu Malang sama Amangkurat I rencananya kan berdua, satu liang lahad. Kan (Amangkurat I) diserang sama Trunojoyo dari Madura. Amangkurat kalah, terus meninggalnya di Tegal Arum. Dulu keratonnya (Kerajaan Mataram Islam di Pleret) dekat dari sini cuma 500 meter," terang Sardjito.
Terkait dengan penamaan sendang, Sardjito menjelaskan nama Sendang Moyo merupakan inisiasi dari Amangkurat I yang berarti samar.
"Yang ngasih nama Moyo, Amangkurat juga. Moyo itu semu, kamulyan, samar. Pemakamannya kan samar," jelasnya.
Kompleks Sendang Moyo ini pun dikelilingi oleh tembok setinggi tiga meter yang terbuat dari batu putih. Kondisi tembok di area sendang tampak lebih kokoh dibandingkan dengan tembok yang mengelilingi makam. Bedanya, tembok pada Sendang Moyo tidak dihiasi dengan guratan wayang.
Air Sendang Moyo Tak Pernah Kering
Kompleks Sendang Moyo memiliki luas 400 meter. Kedalaman Sendang Moyo sekitar dua meter. Uniknya, kata Sardjito, sendang tersebut tidak pernah kering sampai saat ini.
"Belum pernah (kering). Pernah sat (kering) (saat) saya kuras," terang dia.
Saat ini, sendang tersebut digunakan untuk mandi oleh orang-orang yang berziarah di kompleks Makam Ratu Malang.
"Iya (orang-orang mandi di Sendang Moyo), biasanya peziarah," jawabnya.
Selengkapnya di halaman selanjutnya.
(ams/dil)