Round-Up

Temuan Para Geolog soal Biang Kerok Teror Api di Rumah Seyegan Sleman

Tim detikJogja - detikJogja
Minggu, 31 Mei 2026 05:05 WIB
Tim Geologi UGM mengecek penyebab kebakaran misterius berulang kali di rumah warga Seyegan, Sleman, Sabtu (30/5/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Sleman -

Tim geolog dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jogja dan Universitas Gajah Mada (UGM) melakukan investigasi untuk menemukan penyebab teror api di rumah Mutfiana, warga Seyegan, Sleman. Berikut temuannya.

Diketahui rumah Mutfiana sudah terbakar 39 kali sejak Sabtu (24/5) hingga Kamis (28/5). Api diduga muncul dari gas metana yang menumpuk di area rumah.

Geolog UPN Jogja Ungkap Sumber Gas

Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Jogja, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad ikut mengobservasi rumah Fia. Dia mengungkap gas metana di rumah Fia diduga bersumber dari area lahan yang merupakan bekas rawa.

Basuki dan tim menemukan indikasi sumber gas berada di kawasan sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah tersebut. Di lokasi itu terdapat singkapan batuan berwarna gelap dengan genangan air yang mengeluarkan gelembung gas.

"Nah akhirnya kami ketemu gelembung-gelembung gas yang indikasi kuat itu adalah gas metana, gas CH4. Itu tepat di bawah jembatan Jalan Nepen," ujarnya di lokasi, Sabtu (30/5/2026).

"Jadi artinya, indikasi pertama, karena ini masih investigasi awal, indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa. Jadi ini salah satu indikasi kuat batuan wilayah ini dulunya memang bekas rawa," jelasnya.

Akan Lakukan Pemantauan Sebulan

Basuki menilai kondisi lokasi sudah relatif aman. Namun, pihaknya akan melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi benar-benar stabil.

"Gas kelihatannya sudah menurun, tidak ada gejala api. Jadi kami berharap kita tunggu saja sekitar satu bulan. Setelah itu kita lihat kalau memang sudah tidak ada semburan gas lagi, mungkin kita klasifikasi musibah ini bisa sedang atau ringan," ujarnya.

Veteran" Jogja mengecek rumah Mutfiati, warga Seyegan, Sleman, yang terbakar berulang kali, Sabtu (30/5/2026)." title="Tim geolog UPN "Veteran" Jogja mengecek rumah Mutfiati, warga Seyegan, Sleman, yang terbakar berulang kali, Sabtu (30/5/2026)." class="p_img_zoomin" />Tim geolog UPN "Veteran" Jogja mengecek rumah Mutfiati, warga Seyegan, Sleman, yang terbakar berulang kali, Sabtu (30/5/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja

Basuki menambahkan, berdasarkan pemeriksaan awal, gas tersebut tidak memiliki tekanan tinggi sehingga tidak terlalu membahayakan.

"Tapi intinya, insyaallah gas ini memang tidak berbahaya karena secara manual tekanannya rendah," jelasnya.

Gas Metana Menumpuk di Sejumlah Barang

Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM, Dr. Sarju Winardi, mengungkap gas metana di rumah Fia menumpuk di sejumlah barang.

Temuan itu didapat dari pengukuran suhu menggunakan kamera termal. Hasilnya menunjukkan titik-titik munculnya api berada di area dengan suhu yang relatif lebih tinggi.

Menurut Sarju, sifat gas metana mirip dengan LPG yang biasa digunakan di rumah tangga. Namun, metana memerlukan konsentrasi tertentu sebelum dapat terbakar.

"Gas metana itu sebenarnya seperti kalau kita punya kompor LPG di rumah. Cuma dia lebih low release, kalorinya rendah. Butuh kadar yang lebih tinggi supaya dia menyala," ujarnya.

Karena itu, kata Sarju, gas metana yang keluar dari tanah diduga dapat terakumulasi pada benda-benda berpori di dalam rumah seperti pakaian, kain, hingga sofa.

"Kadang-kadang butuh waktu yang agak lama. Ngumpul di sofa, ngumpul di pakaian, di kain, itu dalam jumlah waktu yang cukup dia baru menyala," ungkapnya.

Tim Geologi UGM mengecek penyebab kebakaran misterius berulang kali di rumah warga Seyegan, Sleman, Sabtu (30/5/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja

Ia menjelaskan, material berpori memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah tertentu. Jika akumulasinya cukup banyak, gas tersebut berpotensi memicu kebakaran.

"Yang punya pori seperti pakaian, sofa, itu dia akan menyimpan gas di situ. Nanti kalau jumlahnya cukup banyak, kena oksigen, menyala dia," katanya.

Cek Kandungan Gas dalam Air

Sarju juga mengatakan akan melakukan pengukuran ulang untuk mengetahui kandungan gas terutama di air dalam jalur pipa dan sumur yang sempat terbakar.

"Nanti mungkin pekan depan kami akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas yang ada di tempat itu dan juga sampel air. Karena beberapa waktu yang lalu keluarnya gas itu juga bersamaan dengan jalur pipa air dan sumur yang keluar api, maka kami juga akan mengukur sampel air apakah terkontaminasi metana atau tidak," jelasnya.

Sarju menerangkan, secara teori, air yang terkontaminasi metana tidak serta merta terbakar saat masih berada di bawah permukaan tanah. Api muncul ketika air itu keluar ke permukaan dan gas metana yang terkandung di dalamnya terlepas ke udara.

"Terbakarnya adalah ketika air keluar di permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, metananya lepas. Lepasnya metana dari air itulah yang membuat dia terbakar," katanya.



Simak Video "Video Indonesia Dapat Rp 80 Miliar untuk Tangani Polusi Udara & Metana"


(afn/afn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork