Polisi Periksa Bidan-Ortu Dalami Dugaan Pidana Temuan 11 Bayi di Pakem

Polisi Periksa Bidan-Ortu Dalami Dugaan Pidana Temuan 11 Bayi di Pakem

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Senin, 11 Mei 2026 14:37 WIB
Penampakan rumah tempat 11 bayi yang dievakuasi petugas kepolisian dan dinas terkait di Hargobinangun, Pakem, Sleman, Senin (11/5/2026)
Penampakan rumah tempat 11 bayi yang dievakuasi petugas kepolisian dan dinas terkait di Hargobinangun, Pakem, Sleman, Senin (11/5/2026) (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja)
Sleman -

Petugas kepolisian masih melakukan penyelidikan dan pendalaman kasus dugaan penitipan bayi ilegal. Meski belum ada tersangka, polisi telah meminta keterangan sejumlah saksi termasuk orang tua bayi.

Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi, mengatakan total ada 11 orang yang sudah diperiksa. Meliputi bidan berinisial ORP yang membantu proses persalinan.

Kemudian wanita inisial K dan pria inisial S yang merupakan orang tua bidan tersebut. Hasil pemeriksaan, keduanya ikut membantu mengasuh bayi bersama seorang pembantu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saksinya sudah ada yang kami klarifikasi terhadap satu bidan, inisialnya, ORP. Terhadap pengasuhnya, yaitu Ibu K. Dibantu suaminya, Bapak S, dan satu pembantunya," kata Wiwit kepada wartawan, Senin (11/5/2026).

Selain itu, polisi juga telah meminta keterangan dari enam orang ibu bayi yang menitipkan anak ke bidan tersebut. Wiwit menyebut orang tua bayi itu yang berinisiatif menitipkan anak.

ADVERTISEMENT

"Orang tuanya karena memiliki kesibukan ataupun memiliki status yang mungkin masih belum menikah, makanya sementara dititipkan. Tapi mereka rata-rata beralasan karena kesibukan dan akan mengambil kembali," katanya.

Telusuri Tindak Pidana

Wiwit mengatakan, petugas masih terus melakukan pendalaman terhadap peristiwa ini. Apakah ada indikasi penelantaran, perdagangan anak, atau tindak pidana lain. Oleh karena itu, polisi belum menetapkan tersangka dalam peristiwa ini.

"Masih lidik semuanya. Jadi masih lidik, sifatnya masih klarifikasi terhadap mereka dan pendalaman-pendalaman saksi-saksi, yang baik di TKP ataupun yang bersangkutan yang merawat ataupun dengan bidan juga," tegasnya.

Bayi-bayi itu, kata Wiwit berasal dari hubungan di luar pernikahan.

"Ya, untuk bayi ini mayoritas memang, terus terang, di luar pernikahan," katanya.

Para orang tua itu ada yang berstatus mahasiswa dan ada yang sudah bekerja. Mereka berasal dari wilayah Jogja dan luar Jogja.

"Orang tua itu bermacam-macam. Ada yang Jogja, ada yang luar Jogja juga. Ada yang kerja, ada yang mahasiswa," katanya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, praktik kebidanan tersebut disebut memiliki izin. Namun untuk penitipan bayi belum memiliki izin khusus seperti daycare.

"Untuk praktik kebidanannya ada izinnya, tapi untuk semacam penitipannya ini belum," katanya.

Wiwit melanjutkan, orang tua bayi yang menitipkan anak membayar sebesar Rp 50 ribu untuk satu anak per hari. Adapun praktik ini sudah berjalan sejak lima bulan yang lalu.

"Membayar, satu harinya Rp 50.000, untuk satu anaknya Rp 50 ribu. Itu yang tentunya Rp 50 ribu dari anak-anak ini, kebutuhannya kan lumayan, itu apakah mencukupi atau tidak, kita perdalam dulu," pungkasnya.

Sebelumnya, petugas kepolisian dan dinas terkait mengevakuasi 11 orang bayi dari sebuah rumah yang berada di Padukuhan Randu Wonokerso Hargobinangun, Pakem, Sleman. Bayi-bayi tersebut sudah dititipkan ke bidan yang membantu persalinan sejak 5 bulan yang lalu.

Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi, menjelaskan awalnya petugas menerima informasi keberadaan belasan bayi di sebuah rumah dari perangkat kampung setempat.

"Tentunya kami merasa ada hal yang janggal terhadap adanya 11 bayi yang ada di Hargobinangun tersebut. Di suatu rumah yang ditungguin atau dirawat oleh tiga orang," kata Wiwit kepada wartawan, Senin (11/5).

Wiwit menjelaskan, 11 bayi tersebut kemudian dievakuasi pada dilakukan pada Jumat (8/5) sore bersama dinas terkait. Bayi-bayi tersebut dilahirkan di wilayah Banyuraden, Gamping dibantu bidan berinisial ORP. Berawal dari adanya satu ibu yang melahirkan di bidan itu dan menitipkan bayi yang dilahirkan.

Kemudian berkembang hingga ada 10 bayi lainnya yang dititipkan ke bidan itu.

"Awalnya adalah hanya satu orang yang melahirkan di sana kemudian si ibunya ini yang pertama itu menitipkan kepada bidan tersebut untuk dirawat mungkin karena kemanusiaan dan alasan tertentu," ujarnya.

Praktik penitipan ini sudah berlangsung selama 5 bulan. Awalnya lokasi penitipan berada di Gamping dan baru pindah ke Pakem di rumah keluarga bidan tersebut selama satu minggu sebelum akhirnya dievakuasi petugas.




(aku/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads