5 Puisi Tema Buruh untuk Hari Buruh Internasional 2026: Ada Dongeng Marsinah!

5 Puisi Tema Buruh untuk Hari Buruh Internasional 2026: Ada Dongeng Marsinah!

Ikfina Kamalia Rizki - detikJogja
Kamis, 30 Apr 2026 07:00 WIB
Hari Buruh Internasional 1 Mei dalam kalender
Ilustrasi Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 (Foto: freepik/Freepik)
Jogja -

Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh setiap tanggal 1 Mei identik dengan aksi turun ke jalan dengan diwarnai berbagai orasi yang membakar semangat serta solidaritas pekerja. Tak hanya itu, Hari Buruh juga kerap menjadi ruang ekspresi budaya bagi banyak orang, salah satunya melalui puisi.

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang merekam realitas sosial dalam bentuk tulisan yang menyentuh. Puisi bertemakan buruh kerap menghadirkan suara-suara yang selama ini jarang didengar, mulai dari kehidupan buruh pabrik, petani, hingga pekerja informal lainnya. Nama-nama seperti Marsinah bahkan menjadi simbol perjuangan buruh yang abadi dalam ingatan kolektif masyarakat.

Hari Buruh Internasional 2026 dapat menjadi momentum yang tepat untuk kembali membaca puisi-puisi bertema buruh dan menyelami makna di balik setiap tetes keringat para pekerja. Karya-karya ini tak hanya menjadi bentuk penghormatan, namun juga menjadi pengingat bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial yang perlu diperjuangkan hingga sekarang. Berikut ini adalah 5 puisi bertema buruh, dari Dongeng Marsinah hingga Kisah Samino yang penuh pilu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Puisi Tema Buruh untuk Hari Buruh Internasional 1 Mei

Puisi #1: Dongeng Marsinah

Karya Sapardi Djoko Damono

ADVERTISEMENT

1

Marsinah buruh pabrik arloji,

mengurus presisi:

merakit jarum, sekrup. Dan roda gigi;

waktu memang tak pernah kompromi,

ia sangat cermat dan pasti.


Marsinah itu arloji sejati,

tak lelah berdetak

memintal kefanaan

yang abadi:

"kami ini tak banyak kehendak,

sekedar hidup layak,

sebutir nasi."

2

Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,

ia hanya suka merebus kata

sampai mendidih,

lalu meluap ke mana-mana.

"Ia suka berpikir," kata Siapa,

"itu sangat berbahaya."


Marsinah tak ingin menyulut api,

ia hanya memutar jarum arloji

agar sesuai dengan matahari.

"Ia tahu hakikat waktu," kata Siapa,

"dan harus dikembalikan

ke asalnya, debu."

3

Di hari baik bulan baik,

Marsinah dijemput di rumah tumpangan

untuk suatu perhelatan.

Ia diantar ke rumah Siapa,

ia disekap di ruang pengap,

ia diikat ke kursi;

mereka kira waktu bisa disumpal

agar lengkingan detiknya

tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,

ia tidak diberi nasi;

detik pun gerah

berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhalatan itu,

kepalanya ditetak,

selangkangnya diacak-acak,

dan tubuhnya dibirulebamkan

dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak,

Marsinah pun abadi.

4

Di hari baik bulan baik,

Tangis tak pantas.

Angin dan debu jalan,

klakson dan asap knalpot,

mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.

Semak-semak yang tak terurus

dan tak pernah ambil peduli,

meregang waktu bersaksi:

Marsinah diseret

dan dicampakkan

sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya

inti kekejaman? Apakah sebenarnya

sumber keserakahan? Apakah sebenarnya

azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya

hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini? Apakah itu?

Duh Gusti, apakah pula

makna pertanyaan?

5

"Saya ini Marsinah,

buruh pabrik arloji.

Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir

ke dunia lagi; jangan saya dikirim

ke neraka itu lagi."


(Malaikat tak suka banyak berkata,

ia sudah paham maksudnya.)


"Sengsara betul hidup di sana

jika suka berpikir,

jika suka memasak kata;

apa sebaiknya menggelinding saja

bagai bola sodok,

Bagai roda pedati?"


(Malaikat tak suka banyak berkata,

ia biarkan gerbang terbuka.)


"Saya ini Marsinah, saya tak mengenal

wanita berotot,

yang mengepalkan tangan,

yang tampangnya garang

di poster-poster itu;

saya tidak pernah jadi perhatian

dalam upacara, dan tidak tahu

harga sebuah lencana."

(Malaikat tak suka banyak berkata,

tapi lihat, ia seperti terluka.)

6

Marsinah itu arloji sejati,

melingkar di pergelangan

tangan kita ini;

dirabanya denyut nadi kita,

dan diingatkannya

agar belajar memahami

hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya

setiap pergi dan pulang kerja,

kita rasakan detak-detiknya

di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,

melingkar di pergelangan

tangan kita ini.


(Dikutip dari jurnal Analisis Semiotika Riffaterre dalam Puisi Dongeng Marsinah Karya Sapardi Djoko Damono oleh Ranti Maretna Huri, dkk)

Puisi #2: Ah, Lidah Tuan!

Karya Klara Akustia


Atas nama Tuhan berkata Tuan:

keadilan itu satu dan sama bagi semua

tapi mengapa pula distribusinya di kelas-kelas?

Tuan yang tidak botak atau tbc karena nasi sepiring

mengapa pergunakan terus kuasa Tuan

untuk merampas nasi kami?

jutaan kami lebih dari botak dan tbc

dan Tuan makin gendut, kami makin kurus

(Dikutip dari jurnal Sajak-sajak Realisme Sosialis Lekra: Kajian Tematik oleh Suyono Suyatno)

Puisi #3: Bali

Karya Putu Oka


seperti tangan seorang kawan bergetar

lidah ombak meraih ujung jariku

dan angin segar menyambut sebagai

seorang ibu bapak mengenali anaknya

selat bali.

anak rantau pulang ke kampung

di mana pun juang kan terus berlangsung

sejenak kuarahkan mata ke bukit-bukit pulau Jawa

terbayang perumahan yang kutinggal, kawan-kawan, rasa cinta

(kw musajid, gunoto, waseso masih banyak lagi yang menempa

kusni sulang, afif, timbul masih banyak lagi kawan sebaya)

ah, kupalingkan muka melepaskannya

rasa haru memanggil-manggil cepat kembali

kendatipun meninggalkan rumah datang ke rumah

di mana-mana pun itu rumahku

di jawa, sumatera, kalimantan, bali dan di mana saja

sebab ke mana-mana aku pulang kepadanya

kawan tercinta, perjuangan, hati dan tekadnya.

sepanjang jalan

di celah pohon-pohon randu dan gubuk

aku berjumpa perumahan baru,

yang dulunya tanah tanah rengkah

angin laut dan gunung menyuluk-nyuluk di batang jagung

betapa ulet kawan-kawan bekerja

menggarap kemiskinan jadi keyakinan

ketakacuhan jadi ketekunan

(Dikutip dari buku Komitmen Sosial dalam Sastra dan Seni: Sejarah Lekra 1950 - 1964 oleh Keith Foulcher)

Puisi #4: JABOTABEK

Karya Puntadewa

Sepotong ketela kumakan pagi-pagi

saat mentari belum menari

mengiringi embun-embun

berlari mencari-cari jati diri

Seteguk air putih menyapa lidah

selamat pagi tuan

sudahkah bendera kelaparan tuan kibarkan

batu-batu nisan tuan gadaikan

semen-semen tuan timbun di gudang kemarahan

buruh-buruh kecil tuan beri sayap

biar terbang seperti debu-debu jalanan

hinggap di kebun singkong

kurus juga badan bertulang kemauan

dan peluh-peluh berceceran di tanah bebatuan

jika sebatang rokok terbakar

asap mengepul tak henti-henti

ke mana tuan berjalan

pabrik-pabrik diam tak menyapa

pohon-pohon meranggas pucat menunggu ajal

di pinggir

jalan matahari hadir

(Dikutip dari buku Jentera Terkasa: Kumpulan Puisi Penyair Jawa Tengah)

Puisi #5: Samino, Buruh yang Dibunuh

Karya Amarzan Ismail Hamid

warga desa masih melihatnya

menjulang bendera merah

menuntut upah

ke meja-meja para pembesar

tapi mereka menawannya

Samino dilemparkan ke penjara

dengan separoh hatinya

marak dibakar dendam.

dan hari ini

langit Nopember yang pucat

ditupang tangis dan dendam

ketika peti mati itu diusung

dari pintu penjara

Mereka membisikkan kisah

para warga desa rambung:

Samino telah pergi

dikurung kisi penjara

seorang kawan telah hilang

tumbang di ombak juang

lelaki kesayangan kampung

ditangkap karena menuntut

segenggam keadilan

di bawah langit tanah air

dan bumi kemerdekaan.

tangkaplah! tangkap!

satu Samino rubuh

satu desa

menyimpan dendam.

dan mereka mengusungnya

di bawah bendera warna nyala,

ditudungi langit senja bumi dicinta.

pucat langit Nopember

ditupang tangis dan dendam.

Samino

seorang buruh sudah dibunuh

dan belati di hati bertambah tajam.

(Dikutip dari buku Komitmen Sosial dalam Sastra dan Seni: Sejarah Lekra 1950 - 1964 oleh Keith Foulcher)

Itulah sederet puisi bertema buruh karya penyair dan sastrawan Indonesia yang menghadirkan potret kehidupan kelas pekerja dari berbagai sudut pandang. Melalui karya tersebut, puisi tak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, namun juga tentang realitas sosial yang berkelindan dengan perjuangan dalam menuntut keadilan. Semoga bermanfaat!

Artikel ini ditulis oleh Ikfina Kamalia Rizki peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(num/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads