Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh setiap tanggal 1 Mei identik dengan aksi turun ke jalan dengan diwarnai berbagai orasi yang membakar semangat serta solidaritas pekerja. Tak hanya itu, Hari Buruh juga kerap menjadi ruang ekspresi budaya bagi banyak orang, salah satunya melalui puisi.
Puisi merupakan salah satu karya sastra yang merekam realitas sosial dalam bentuk tulisan yang menyentuh. Puisi bertemakan buruh kerap menghadirkan suara-suara yang selama ini jarang didengar, mulai dari kehidupan buruh pabrik, petani, hingga pekerja informal lainnya. Nama-nama seperti Marsinah bahkan menjadi simbol perjuangan buruh yang abadi dalam ingatan kolektif masyarakat.
Hari Buruh Internasional 2026 dapat menjadi momentum yang tepat untuk kembali membaca puisi-puisi bertema buruh dan menyelami makna di balik setiap tetes keringat para pekerja. Karya-karya ini tak hanya menjadi bentuk penghormatan, namun juga menjadi pengingat bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial yang perlu diperjuangkan hingga sekarang. Berikut ini adalah 5 puisi bertema buruh, dari Dongeng Marsinah hingga Kisah Samino yang penuh pilu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
5 Puisi Tema Buruh untuk Hari Buruh Internasional 1 Mei
Puisi #1: Dongeng Marsinah
Karya Sapardi Djoko Damono
1
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup. Dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
"kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi."
2
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
"Ia suka berpikir," kata Siapa,
"itu sangat berbahaya."
Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
"Ia tahu hakikat waktu," kata Siapa,
"dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu."
3
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lengkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhalatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak,
Marsinah pun abadi.
4
Di hari baik bulan baik,
Tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?
5
"Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi."
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)
"Sengsara betul hidup di sana
jika suka berpikir,
jika suka memasak kata;
apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
Bagai roda pedati?"
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)
"Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana."
(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)
6
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
(Dikutip dari jurnal Analisis Semiotika Riffaterre dalam Puisi Dongeng Marsinah Karya Sapardi Djoko Damono oleh Ranti Maretna Huri, dkk)
Puisi #2: Ah, Lidah Tuan!
Karya Klara Akustia
Atas nama Tuhan berkata Tuan:
keadilan itu satu dan sama bagi semua
tapi mengapa pula distribusinya di kelas-kelas?
Tuan yang tidak botak atau tbc karena nasi sepiring
mengapa pergunakan terus kuasa Tuan
untuk merampas nasi kami?
jutaan kami lebih dari botak dan tbc
dan Tuan makin gendut, kami makin kurus
(Dikutip dari jurnal Sajak-sajak Realisme Sosialis Lekra: Kajian Tematik oleh Suyono Suyatno)
Puisi #3: Bali
Karya Putu Oka
seperti tangan seorang kawan bergetar
lidah ombak meraih ujung jariku
dan angin segar menyambut sebagai
seorang ibu bapak mengenali anaknya
selat bali.
anak rantau pulang ke kampung
di mana pun juang kan terus berlangsung
sejenak kuarahkan mata ke bukit-bukit pulau Jawa
terbayang perumahan yang kutinggal, kawan-kawan, rasa cinta
(kw musajid, gunoto, waseso masih banyak lagi yang menempa
kusni sulang, afif, timbul masih banyak lagi kawan sebaya)
ah, kupalingkan muka melepaskannya
rasa haru memanggil-manggil cepat kembali
kendatipun meninggalkan rumah datang ke rumah
di mana-mana pun itu rumahku
di jawa, sumatera, kalimantan, bali dan di mana saja
sebab ke mana-mana aku pulang kepadanya
kawan tercinta, perjuangan, hati dan tekadnya.
sepanjang jalan
di celah pohon-pohon randu dan gubuk
aku berjumpa perumahan baru,
yang dulunya tanah tanah rengkah
angin laut dan gunung menyuluk-nyuluk di batang jagung
betapa ulet kawan-kawan bekerja
menggarap kemiskinan jadi keyakinan
ketakacuhan jadi ketekunan
(Dikutip dari buku Komitmen Sosial dalam Sastra dan Seni: Sejarah Lekra 1950 - 1964 oleh Keith Foulcher)
Puisi #4: JABOTABEK
Karya Puntadewa
Sepotong ketela kumakan pagi-pagi
saat mentari belum menari
mengiringi embun-embun
berlari mencari-cari jati diri
Seteguk air putih menyapa lidah
selamat pagi tuan
sudahkah bendera kelaparan tuan kibarkan
batu-batu nisan tuan gadaikan
semen-semen tuan timbun di gudang kemarahan
buruh-buruh kecil tuan beri sayap
biar terbang seperti debu-debu jalanan
hinggap di kebun singkong
kurus juga badan bertulang kemauan
dan peluh-peluh berceceran di tanah bebatuan
jika sebatang rokok terbakar
asap mengepul tak henti-henti
ke mana tuan berjalan
pabrik-pabrik diam tak menyapa
pohon-pohon meranggas pucat menunggu ajal
di pinggir
jalan matahari hadir
(Dikutip dari buku Jentera Terkasa: Kumpulan Puisi Penyair Jawa Tengah)
Puisi #5: Samino, Buruh yang Dibunuh
Karya Amarzan Ismail Hamid
warga desa masih melihatnya
menjulang bendera merah
menuntut upah
ke meja-meja para pembesar
tapi mereka menawannya
Samino dilemparkan ke penjara
dengan separoh hatinya
marak dibakar dendam.
dan hari ini
langit Nopember yang pucat
ditupang tangis dan dendam
ketika peti mati itu diusung
dari pintu penjara
Mereka membisikkan kisah
para warga desa rambung:
Samino telah pergi
dikurung kisi penjara
seorang kawan telah hilang
tumbang di ombak juang
lelaki kesayangan kampung
ditangkap karena menuntut
segenggam keadilan
di bawah langit tanah air
dan bumi kemerdekaan.
tangkaplah! tangkap!
satu Samino rubuh
satu desa
menyimpan dendam.
dan mereka mengusungnya
di bawah bendera warna nyala,
ditudungi langit senja bumi dicinta.
pucat langit Nopember
ditupang tangis dan dendam.
Samino
seorang buruh sudah dibunuh
dan belati di hati bertambah tajam.
(Dikutip dari buku Komitmen Sosial dalam Sastra dan Seni: Sejarah Lekra 1950 - 1964 oleh Keith Foulcher)
Itulah sederet puisi bertema buruh karya penyair dan sastrawan Indonesia yang menghadirkan potret kehidupan kelas pekerja dari berbagai sudut pandang. Melalui karya tersebut, puisi tak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, namun juga tentang realitas sosial yang berkelindan dengan perjuangan dalam menuntut keadilan. Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Ikfina Kamalia Rizki peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/dil)

Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya