Pemerintah Amerika Serikat (AS) disebut tengah mempertimbangkan sejumlah opsi militer terhadap Iran jika gencatan senjata gagal. Laporan beredar menyatakan serangan akan menargetkan sosok senior Teheran yang dianggap menghalangi negosiasi.
CNN, yang mengutip sumber-sumber yang tahu pembahasan itu dilansir detikNews Jumat (24/4/2026), melaporkan salah satu opsi yang dipertimbangkan melibatkan serangan terhadap para pemimpin tertentu dalam militer Iran. Salah satunya adalah Ahmad Vahidi, yang menjabat sebagai panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Selain menargetkan individu, para perencana militer AS juga mempersiapkan skenario yang lebih luas dan berfokus kepada kemampuan maritim Negeri Parah Mullah itu. CNN memberitakan, skenario itu mencakup "penargetan dinamis" aset-aset di sekitar Selat Hormuz, Teluk Arab bagian selatan, dan Teluk Oman, termasuk kapal serang cepat kecil, kapal penebar ranjau, dan alat-alat asimetris lainnya yang digunakan Teheran untuk mengganggu jalur pelayaran.
Selat Hormuz menjadi titik tekanan utama sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Keputusan Iran yang menutup Hormuz telah mengguncang pasar minyak global, dan mempersulit upaya Presiden AS Donald Trump dalam mengendalikan inflasi.
Dalam laporannya, CNN menyatakan operasi AS sebelumnya berfokus kepada target yang berada di dalam wilayah Iran. Namun, rencana terbaru akan mengalihkan perhatian ke serangan terkonsentrasi pada titik strategis maritim. Namun, sumber tersebut memeringatkan bahwa tindakan militer saja mungkin tidak cukup membuka kembali Selat Hormuz dengan cepat.
"Kecuali Anda dapat membuktikan secara tegas bahwa 100 persen kemampuan militer Iran hancur... itu akan bergantung pada seberapa besar risiko yang bersedia diterima [Trump]," kata seorang sumber yang mengetahui perencanaan tersebut kepada CNN.
Jalur eskalasi lain yang sedang dipertimbangkan adalah menyerang infrastruktur dwifungsi, termasuk fasilitas energi, untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundingan. Menurut CNN, para pejabat AS telah memperingatkan bahwa langkah tersebut akan menjadi eskalasi yang signifikan dan kontroversial.
Seorang pejabat Departemen Pertahanan AS menolak berkomentar tentang rencana spesifik. Dia hanya mengatakan kepada CNN: "Militer AS terus memberikan opsi kepada Presiden, dan semua opsi tetap terbuka."
Simak Video "Video: Baru Beberapa Jam Dibuka, Selat Hormuz Kembali Ditutup Iran!"
(apu/alg)