Penjelasan BRIN soal Benda Bercahaya di Langit Lampung

Penjelasan BRIN soal Benda Bercahaya di Langit Lampung

Aisyah Kamaliah - detikJogja
Minggu, 05 Apr 2026 16:45 WIB
Benda terang melintasi langit Lampung. Videonya langsung viral di media sosial dan menarik komentar dari netizen.
Benda terang melintasi langit Lampung. Foto: Tangkapan layar.
Jogja -

Benda bercahaya yang melintasi langit Lampung membuat heboh bahkan ada yang mengira itu rudal Iran. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan benda apa itu.

Dalam video yang beredar, ada sejumlah benda bercahaya kuning melintasi langit malam dengan kecepatan tinggi. Benda itu seperti terpecah dan makin banyak.

Dikutip dari detikInet, benda bercahaya itu bukanlah meteor ataupun rudal. Profesor Astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Thomas Djamaluddin mengatakan objek itu adalah sampah antariksa bekas roket Tiongkok CZ-3B.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masyarakat sekitar Lampung dan Banten dihebohkan dengan objek terang yg meluncur di langit dan tampak terpecah menjadi beberapa bagian. Itu adalah pecahan sampah antariksa," kata Djamal, Minggu (5/4/2026).

ADVERTISEMENT

"Info terbaru dari Space-Track dan analisis orbit menunjukkan bahwa bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatera. Pd sekitar pukul 19:56 WIB ketinggiannya turun di bawah 120 km. Objek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. Itulah yang disaksikan warga sekitar Lampung dan Banten," imbuhnya.

Dia juga menjelaskan peristiwa serupa pernah terjadi namun memang jarang bisa terlihat dari Indonesia. Dia menyebut pada tahun 2022 objek serupa terlihat di Lampung juga dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.

Djamal menyebut sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. Sehingga tidak berbahaya bagi yang ada di darat. Risiko hanya muncul jika ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman, namun hingga saat ini belum pernah terjadi di mana pun di dunia.

Sampah antariksa bisa jatuh ke Bumi, lanjut Djamal, karena adanya hambatan udara pada orbit rendah. Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.

Djamal juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan.




(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads