Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar kegiatan Napak Tilas Persandian dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80. Kegiatan berlangsung di Rumah Sandi Dukuh, Samigaluh, Kulon Progo.
Kegiatan diawali dengan upacara di Lapangan Dekso yang dipimpin Kepala BSSN, Nugroho Sulistyo Budi. Mengusung tema 'Jejak Sandi, Pilar Siber Mengabdi untuk Negeri', kegiatan ini menjadi refleksi perjalanan panjang persandian sekaligus penguatan peran dalam keamanan siber nasional.
Napak tilas diikuti sekitar 165 anggota jajaran pimpinan BSSN, taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN), perwakilan Forkomsanda DIY, unsur pemerintah daerah, mahasiswa, hingga jurnalis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peserta menelusuri rute yang dahulu digunakan kurir untuk mengirim pesan rahasia pada masa perjuangan kemerdekaan. Medan perbukitan dan lahan pertanian yang dilalui menggambarkan tantangan menjaga keamanan informasi sebelum era digital.
Selain itu, peserta juga melihat koleksi benda bersejarah seperti alat penulisan sandi, media penyimpanan pesan rahasia, serta dokumentasi sistem persandian masa lalu, termasuk jejak tokoh persandian nasional, Dr Roebiono Kertopati.
Kepala BSSN Letnan Jenderal (Letjen) TNI (Purn), Nugroho Sulistyo Budi, menegaskan bahwa tantangan keamanan informasi saat ini jauh lebih kompleks seiring transformasi digital.
"Dalam perspektif sekarang, karena data sudah digital, ancamannya juga semakin kompleks. Kalau dulu orangnya harus datang, sekarang sistemnya yang dicuri, dengan malware, ransomware, dan berbagai teknologi," ujar Nugroho saat ditemui di Lapangan Dekso, Kalibawang, Kulon Progo, Selasa (31/3/2026) pagi.
Nugroho menjelaskan, meskipun bentuk ancaman berubah, esensi tantangan tetap sama, yakni menjaga kerahasiaan informasi negara. Ia menambahkan, kegiatan napak tilas ini penting untuk menanamkan kembali nilai perjuangan para perintis persandian.
"Tantangannya sama, cuma situasi dan perspektifnya berbeda. Kalau dulu pergerakan pasukan bisa diketahui, sekarang informasi sensitif bisa terungkap oleh pihak lawan," katanya.
"Yang kita maknai di sini adalah semangat, dedikasi, pengorbanan. Dulu bahkan taruhannya nyawa. Sekarang dampaknya juga tidak ringan kalau data bocor," imbuhnya.
Lebih lanjut, Nugroho mengatakan, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam persandian. Hal ini yang telah berkembang sejak era Perang Dunia II.
"Kita sudah tumbuh sejak era Perang Dunia II dan menjadi bagian dari dinamika global saat itu," pungkas Nugroho.
(par/aku)

Komentar Terbanyak
Awal Mula Ide Mbah Suhan Bikin 'Sawah Rongsok' di Gunungkidul
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja