- Bolehkah Makan Sebelum Sholat Idul Fitri?
- Sunnah-sunnah pada Hari Raya Idul Fitri 1. Mandi, Menggunakan Wewangian, dan Pakaian Terbaik 2. Makan Sebelum Sholat Idul Fitri 3. Memperbanyak Takbir 4. Wanita dan Anak-Anak Dianjurkan Ikut Sholat Idul Fitri 5. Melewati Jalan Berlainan Ketika Berangkat dan Pulang Sholat 6. Bergembira
Saat ini kita sudah berada di penghujung Ramadhan, artinya Idul Fitri akan tiba sebentar lagi. Jika kita berbicara mengenai Idul Fitri atau Lebaran, tentu ada banyak pertanyaan yang muncul berkenaan dengan ibadah di hari tersebut. Salah satunya yang cukup sering dipertanyakan adalah bolehkah makan sebelum sholat Idul Fitri?
Sholat Idul Fitri sendiri dilaksanakan setelah matahari terbit setinggi sekitar tiga meter hingga sebelum waktu tergelincir (masuk waktu Zuhur). Disunnahkan untuk mengakhirkannya agar umat Islam memiliki waktu lebih luas dalam menunaikan zakat fitrah. sholat Id lebih utama dilakukan di tanah lapang, kecuali ada halangan seperti hujan, maka boleh dilaksanakan di dalam masjid, sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam saat turun hujan lebat.
Jika detikers penasaran dengan diperbolehkan atau tidaknya makan sebelum sholat Idul Fitri, sebaiknya jangan lewatkan penjelasan lengkap berikut ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bolehkah Makan Sebelum Sholat Idul Fitri?
Jawabannya adalah boleh. Justru dalam buku Fiqih Sunnah 2 tulisan Sayyid Sabiq, makan sebelum sholat Idul Fitri hukumnya sunnah yang dianjurkan berdasarkan beberapa hadits shahih. Sebaliknya, ketika Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk menunda makan sampai selesai melaksanakan sholat Id.
Dasar dianjurkannya makan sebelum sholat Idul Fitri adalah hadits yang berasal dari Anas bin Malik RA berikut ini.
أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ»، وَيَقُولُ مَرَّةً: «وَتَرًا»
Artinya: "Anas RA. meriwayatkan bahwa pada waktu Idul Fitri, Rasulullah SAW tidak berangkat ke tempat sholat sebelum beliau memakan beberapa biji kurma dengan jumlah yang ganjil (yakni, memakannya dengan jumlah ganjil, seperti tiga biji, lima, tujuh, dan seterusnya)." (Diriwayatkan oleh Bukhari, Kitab al-'Idain, Bab al-Aki Yaum al-Fithr Qabil al-Khuruj, jilid II, hlm. 21, al-Fath ar-Rabbani, jilid VI, hlm. 129, nomor hadits 1633).
Berdasarkan hadits tersebut, kita mengetahui bahwa Rasulullah SAW membiasakan diri untuk makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri. Makanan yang disantap adalah kurma dalam jumlah ganjil, seperti tiga, lima, dan seterusnya.
Tidak hanya itu, hadits dari Buraidah RA juga menganjurkan hal yang sama, yaitu makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ، وَلَا يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ
Artinya: "Buraidah meriwayatkan bahwa Nabi SAW tidak berangkat pada hari Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu, dan beliau tidak makan pada waktu Idul Adha kecuali setelah pulang (dari sholat Id)." (Diriwayatkan oleh al-Fath ar-Rabbani, jilid VI, hlm. 129, nomor hadits 1634; Tirmidzi, Kitab Abwab ash-Shalah, Bab Ma Ja'a fi al-Aki Youm al-Fithr Qabi al-Khuruj, jilid II, hlm. 426, nomor hadits 542; Mustadrak Hakim, jilid I, hlm. 294).
Hadits tersebut memperjelas bahwa makan sebelum sholat Idul Fitri adalah sunnah yang dianjurkan, sedangkan pada Idul Adha, Nabi SAW menunda makan hingga setelah sholat Id. Hal ini menjadi salah satu bentuk perbedaan dalam tata cara perayaan kedua hari raya tersebut.
Pendapat Said bin Musayyab RA juga semakin mempertegas bahwa makan sebelum sholat Idul Fitri tidak hanya dilakukan Rasulullah. Umat Islam pada saat itu pun diperintahkan untuk melakukan hal yang sama.
Dalam kitab Al-Muwaththa, disebutkan:
أَنَّ النَّاسَ أُمِرُوا أَنْ يَأْكُلُوا قَبْلَ أَنْ يَخْرُجُوا يَوْمَ الفِطْرِ
Artinya: "Said bin Musayyab ra. meriwayatkan bahwa orang-orang diperintahkan makan terlebih dahulu sebelum pergi sholat Idul Fitri."
Sunnah-sunnah pada Hari Raya Idul Fitri
Masih dikutip dari buku Fiqih Sunnah 2 tulisan Sayyid Sabiq serta ditambah dengan informasi dari Fiqih Sunnah 1, Buku Saku Dirasat Islamiyah MI Nurul Huda, serta Ensiklopedi Muslim karya Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, terdapat sejumlah sunnah yang sebaiknya kita kerjakan pada Hari Raya Idul Fitri, yaitu:
1. Mandi, Menggunakan Wewangian, dan Pakaian Terbaik
Pada pagi hari sebelum berangkat melaksanakan sholat Id, dianjurkan untuk mandi, memakai wewangian, serta mengenakan pakaian terbaik. Meskipun tidak terdapat hadits sahih yang secara khusus mewajibkan mandi pada Hari Raya, para ulama sepakat bahwa hal ini merupakan sunnah. Imam Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam selalu mengenakan pakaian terbaiknya pada Hari Raya dan memiliki pakaian khusus untuk sholat Id dan sholat Jumat.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah memerintahkan umatnya:
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan kita di dua Hari Raya mengenakan pakaian terbaik yang kita miliki, menggunakan parfum terbaik yang kita miliki, dan berkurban dengan sesuatu yang paling bernilai yang kita miliki." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim, sanadnya baik).
Selain itu, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah memakai burdah hibarah (jenis pakaian buatan Yaman) pada setiap Hari Raya, sebagai bentuk penghormatan terhadap hari yang penuh berkah ini.
2. Makan Sebelum Sholat Idul Fitri
Sebelum berangkat sholat Idul Fitri, dianjurkan untuk makan terlebih dahulu, terutama dengan kurma dalam jumlah ganjil. Sebaliknya, pada Idul Adha, sunnahnya adalah tidak makan apa pun hingga selesai sholat dan memakan daging kurban yang telah disembelih.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, yang menyebutkan:
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak berangkat ke tempat sholat sebelum beliau memakan beberapa biji kurma dengan jumlah yang ganjil." (HR. Bukhari, Kitab al-'Idain).
Selain itu, dalam riwayat Buraidah Radhiyallahu 'Anhu, disebutkan bahwa:
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak berangkat pada hari Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu, dan beliau tidak makan pada waktu Idul Adha kecuali setelah pulang dari sholat Id." (HR. At-Tirmidzi, disahihkan oleh Ibnu Al-Qaththan).
Dari sini dapat dipahami bahwa Idul Fitri adalah hari berbuka, sehingga dianjurkan untuk makan sebelum sholat sebagai simbol berakhirnya bulan Ramadhan dan masuknya hari kemenangan.
3. Memperbanyak Takbir
Salah satu sunnah yang paling menonjol pada Hari Raya Idul Fitri adalah memperbanyak takbir. Takbir dimulai sejak malam Idul Fitri hingga sebelum sholat Id dilaksanakan. Ini merupakan bentuk pengagungan kepada Allah serta ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:
وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185).
Takbir ini tidak hanya dianjurkan bagi laki-laki, tetapi juga bagi perempuan dan anak-anak.
4. Wanita dan Anak-Anak Dianjurkan Ikut Sholat Idul Fitri
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menganjurkan seluruh kaum Muslimin, termasuk wanita dan anak-anak, untuk menghadiri sholat Idul Fitri. Bahkan wanita yang sedang haid pun dianjurkan datang ke tempat sholat untuk mendengarkan khutbah, meskipun mereka tidak ikut sholat.
Diriwayatkan oleh Ummu Athiyyah Radhiyallahu 'Anha, beliau berkata:
"Kami diperintahkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam agar memerintahkan keluar para gadits dan wanita yang haid pada kedua Hari Raya agar mereka menyaksikan kebaikan pada hari itu dan juga doa dari kaum Muslimin. Dan hendaknya wanita-wanita yang haid terpisah dari tempat sholat."
Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu juga menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengajak seluruh istri dan anak-anaknya untuk menghadiri sholat Id.
5. Melewati Jalan Berlainan Ketika Berangkat dan Pulang Sholat
Sunnah lainnya adalah melewati jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat Id. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak jejak langkah yang menjadi saksi kebaikan serta memperluas jangkauan pertemuan dengan sesama Muslim.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata:
"Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada waktu Hari Raya (ketika berangkat dan pulang dari sholat Id) menempuh jalan yang berlainan." (HR. Bukhari).
Dalam riwayat lain, Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu juga menuturkan:
"Apabila Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pergi sholat Id, ketika pulang, beliau menempuh jalan yang berlainan dengan jalan yang beliau lalui ketika pergi."
6. Bergembira
Hari Raya Idul Fitri adalah momen kebahagiaan bagi seluruh umat Islam. Pada hari ini, disunnahkan untuk memperlihatkan kegembiraan, berbagi kebahagiaan dengan sesama, serta mempererat silaturahmi. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mencontohkan bagaimana Idul Fitri harus dirayakan dengan penuh suka cita, namun tetap dalam batasan yang syar'i.
Dalam kitab Lataif al-Ma'arif, Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan:
"Bukanlah hari raya bagi orang yang memakai baju baru, melainkan hari raya bagi orang yang ketaatannya bertambah. Bukanlah hari raya bagi orang yang bersolek dengan pakaian dan kendaraan, melainkan hari raya bagi orang yang diampuni dosanya."
Dari sini, dapat dipahami bahwa kebahagiaan sejati pada Idul Fitri bukan hanya dari segi penampilan atau perayaan lahiriah, tetapi juga kebersihan hati, meningkatnya ketakwaan, serta keberhasilan meraih ampunan dari Allah.
Demikian penjelasan lengkap mengenai hukum makan sebelum sholat Idul Fitri yang memang dianjurkan. Semoga bermanfaat!
