Indonesia secara resmi menyetujui tawaran untuk menjadi salah satu negara yang mendukung terbentuknya International Stabilization Force (ISF) dengan cara mengirimkan pasukan dan juga wakil komandan pasukannya ke Gaza. Lantas, apa itu ISF?
Singkatnya, ISF adalah pasukan yang dibentuk untuk mengakhiri perang antara Israel dan juga Gaza yang telah terjadi sejak lama. ISF akan ditempatkan di perbatasan Gaza dan memiliki mandat untuk menjaga perdamaian dan juga keamanan di wilayah tersebut.
Tidak semua negara mengirimkan pasukan maupun wakil komandan untuk mengisi posisi di ISF. Indonesia sendiri menjadi salah satu dari lima negara yang mendapatkan tawaran tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, sebenarnya apa tujuan ISF dibentuk dan mengapa Indonesia mendapatkan tawaran untuk bergabung? Untuk memberikan gambaran, mari simak informasinya berikut ini.
Point utamanya:
- International Stabilization Force (ISF) merupakan pasukan multinasional yang disebut akan bertugas menjaga keamanan, melindungi warga sipil, serta melatih aparat lokal di Gaza.
- Dalam pertemuan di Washington, Mayor Jenderal Jasper Jeffers mengumumkan lima negara yang akan berpartisipasi, termasuk Indonesia.
- Pemerintah RI menyatakan kesiapan mengirim ribuan personel TNI dan mengisi posisi Wakil Komandan Operasi sebagai bentuk kontribusi terhadap misi stabilisasi tersebut.
Latar Belakang ISF Dibentuk di Gaza
ISF adalah International Stabilization Force atau Pasukan Stabilisasi Internasional. Seperti namanya, ISF dibentuk untuk menjaga dan mengamankan stabilitas wilayah tertentu. Dalam hal ini adalah Gaza.
Dilaporkan Al Jazeera, ISF disebut juga sebagai pasukan multinasional karena melibatkan pasukan dari sejumlah negara di dunia. Pasukan-pasukan yang terpilih nantinya akan ditugaskan ke Gaza untuk membantu dalam menjaga keamanan, melindungi warga sipil, hingga mengamankan perbatasan wilayah tersebut.
Bukan hanya itu saja, ada jabatan tertentu dalam ISF yang ditugaskan untuk membantu dalam melatih polisi di sana. Secara umum, ISF dibentuk guna mengambil alih tanggung jawab keamanan yang selama ini telah dilakukan oleh Hamas.
Sementara itu, menurut The Guardian, ISF adalah bagian dari Board of Peace atau Dewan Perdamaian. Untuk diketahui, Dewan Perdamaian diketahui oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bahkan kepemimpinannya melibatkan sang menantu yang bernama Jared Kushner.
Pemerintahan Donald Trump memiliki rencana untuk membangun pangkalan dan pasukan militer di Gaza. Direncanakan akan ada pangkalan militer dengan kapasitas mencapai 5.000 orang akan dibangun di Gaza dengan melibatkan lebih dari 350 hektar wilayah tersebut.
Sayangnya, masih belum begitu jelas tentang detail rencana tersebut. Termasuk keterlibatan ISF apabila terjadi pertempuran atau pemboman oleh Israel. Bahkan tidak ada kejelasan soal peran yang akan dilakukan oleh ISF jika nantinya Hamas melancarkan serangan.
Lebih lanjut, Al Jazeera juga menjelaskan, rencana pemerintahan Trump ini dilakukan tanpa masukan dari pihak-pihak Palestina. Tidak hanya itu saja, beberapa menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam rencana tersebut. Sebut saja Mesin, Qatar, dan United Emirates Arab (UEA) yang mana salah seorang pejabat senior UEA menyebut negara-negara Timur Tengah tadi kemungkinan tidak akan berkontribusi.
Kendati begitu, secara tegas Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan dukungannya secara penuh kepada Gaza. Meski tidak berkontribusi dalam pasukan yang diinisiasi oleh Donald Trump tersebut.
Negara yang Ditunjuk untuk Mengirimkan Wakil ISF
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidak semua negara menerima tawaran bergabung dalam mengirim wakilnya di ISF. Dilansir laman Foundation For Defense of Democracies, Mayor Jenderal Jasper Jeffers resmi mengumumkan negara yang akan mengerahkan pasukannya ke ISF di Gaza.
Melalui pertemuan yang digelar oleh Dewan Perdamaian di Washington, DC, AS pada Kamis (19/2/2026) kemarin, Jeffers mengumumkan ada lima negara yang berjanji memberikan dukungan untuk rencana AS dan juga berkomitmen mengerahkan personel terbaiknya. Adapun lima negara yang dimaksud
- Indonesia
- Maroko
- Kazakhstan
- Kosovo
- Albania
Alasan Indonesia Termasuk Daftar Negara Mengirimkan Wakil ISF
Lantas, mengapa Indonesia diberikan tawaran menjadi bagian dari ISF? Dilansir detikNews, salah satu alasan Indonesia mendapatkan tawaran untuk berkontribusi terhadap ISF karena sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap militer Indonesia. Terlebih lagi selama ini Indonesia memiliki rekam jejak dalam menjaga perdamaian.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono, yang menyatakan Indonesia akan mengirimkan setidaknya 8.000 pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Gaza. Tidak hanya itu saja, akan ada wakil komandan yang juga berasal dari Indonesia.
Adapun jabatan yang ditawarkan kepada Indonesia dalam kaitannya dengan ISF adalah Wakil Komandan Operasi. Sebab, Indonesia menjadi salah satu negara yang akan mengirimkan pasukan paling banyak ke Gaza nantinya.
"Ini juga merupakan suatu penghormatan dan penghargaan terhadap track record Indonesia serta reputasi prajurit-prajurit Indonesia di berbagai medan penjagaan perdamaian. Saya kira kedudukan ini juga akan bisa memfasilitasi apa yang menjadi tujuan dan niat kita mengirimkan pasukan di ISF," jelas Menlu RI Sugiono dalam keterangannya.
Kendati begitu, proses pengiriman pasukan TNI ke Gaza tengah dipersiapkan oleh Indonesia. Bahkan masih belum ada orang yang diputuskan untuk mengemban jabatan Wakil Komandan Operasi di ISF.
Demikian tadi penjelasan Indonesia yang ditunjuk sebagai negara untuk mengirimkan wakil komandan dan pasukan ISF di Gaza. Semoga menjawab, ya.
(alg/par)












































Komentar Terbanyak
Komandan IRGC Tokoh Kunci Penutupan Selat Hormuz Tewas Diserang Israel
Ikuti Google Maps, Pemudik Bingung Lewati Persawahan Arah Tol Purwomartani
Fakta-fakta Polisi Jogja Gugur Saat Operasi Ketupat Progo