Pedukuhan Batur Turu, Mertelu, Gedangsari, Gunungkidul memiliki masjid yang unik, yaitu berbentuk Ka'bah. Tidak hanya bentuknya, Masjid yang berada di perbukitan ini sama sekali tidak memiliki jendela dan terdapat tiga tiang di dalamnya, seperti apa ceritanya?
Pantauan detikJogja, tampak bangunan besar menyerupai Ka'bah berada di atas perbukitan Gedangsari. Setelah didekati, ternyata bangunan menyerupai Ka'bah itu adalah Masjid bernama Asy-Syuhada.
Melihat lebih dekat, Masjid tersebut memiliki ukuran yang besar dengan tembok berupa batu alam berwarna hitam tanpa satupun jendela. Selain itu, Masjid tersebut memiliki pintu berwarna emas dengan ukiran huruf Arab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penampakan Masjid Ka'bah Asy-Syuhada di Batur Turu, Mertelu, Gedangsari, Gunungkidul, Senin (23/2/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Sedangkan untuk bagian dalamnya, Masjid Ka'bah memiliki tiga tiang yang berada di tengah-tengah. Hal tersebut senada dengan isi di dalam Ka'bah yang berada di Masjidil Haram, Kota Makkah, Arab Saudi.
Takmir Masjid Ka'bah Asy-Syuhada, Ngatimin (54) mengatakan, bahwa awalnya Masjid Asy-Syuhada hanya berukuran kecil. Di mana Masjid tersebut hanya mampu menampung sedikit jemaah.
"Dari dulu namanya Masjid Asy-Syuhada, dan dulu hanya berukuran 7x7 meter," katanya kepada wartawan di Mertelu, Gedangsari, Gunungkidul, Senin (23/2/2026).
Pintu Masjid Ka'bah Asy-Syuhada yang berwarna emas dan memiliki ukiran huruf Arab. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Selanjutnya, tahun 2022 datang donatur dan ingin memperbesar luasan Masjid tersebut. Mendapati hal tersebut, warga langsung menyambutnya dengan sangat baik.
"Kedatangan donatur menjadi angin segar karena antusias jemaah untuk beribadah di Masjid tinggi. Akhirnya tahun 2022 itu dimulailah pembangunannya," ujarnya.
Ngatimin mengungkapkan, bahwa masjid tersebut berdiri di atas tanah wakaf. Sedangkan luasan masjid memiliki panjang 12 meter, lebar 10 meter dan tinggi 14 meter.
Takmir Masjid Ka'bah Asy-Syuhada, Ngatimin (54) saat memberikan keterangan. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
"Lalu donatur menghendaki bentuk masjid menyerupai Ka'bah. Akhirnya setelah tujuh bulan pembangunan masjid selesai tahun 2023," ucapnya.
Terkait alasan pemilihan bangunan masjid menyerupai Ka'bah, Ngatimin mengaku tidak mengetahuinya. Mengingat semua itu keinginan dari donatur.
"Saya sendiri kurang mengerti kemauan donatur kenapa bentuknya seperti Ka'bah. Tapi yang jelas masyarakat sini hanya menerima saja dan masyarakat senang," katanya.
Secara rinci, Ngatimin menjelaskan dinding luar Masjid menggunakan batu alam berwarna hitam. Selain itu untuk bagian atap menggunakan galvalum.
Suasana di dalam Masjid Ka'bah Asy-Syuhada yang memiliki tiga tiang penyangga seperti di dalam Ka'bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
"Masjid Ka'bah ini tidak punya jendela, karena memang dibuat menyerupai Ka'bah. Di dalam juga terdapat tiga tiang seperti di dalam Ka'bah," ucapnya.
Menurutnya, dengan bentuk Masjid yang baru ini membuat jemaah semakin rajin untuk beribadah. Bahkan, saat ini kapasitas Masjid Ka'bah mencapai 100 orang jemaah.
"Masjid ini kalau sore hari ada kegiatan TPA untuk anak-anak. Selain itu selama bulan Ramadan ada juga buka bersama," ujarnya.
Selain itu, Ngatimin mengungkapkan bahwa banyak orang yang berkunjung ke Masjid Ka'bah. Meski diakui Ngatimin, orang-orang yang datang kebanyakan bukan warga Gunungkidul.
Masjid Ka'bah Asy-Syuhada yang berada di perbukitan Batur Turu, Mertelu, Gedangsari, Gunungkidul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
"Yang ke sini banyak, hanya lihat-lihat, foto-foto dan ikut salat Jumat. Kalau dari mana, kebanyakan warga Klaten yang ke sini," katanya.
Ngatimin menambahkan, bahwa pembangunan Masjid Ka'bah sebenarnya belum selesai 100%. Ngatimin berharap donatur menyelesaikan pembangunan masjid tersebut.
"Saat ini kurang kaligrafi di ruang imam lalu banyak batu alam di dinding luar yang coplok atau lepas dan pagarnya belum terpasang. Karena harapannya masjid ini bisa menjadi tempat wisata religi," ujarnya.
Sementara itu, Tokoh Agama Batur Turu, Sukiran (63) mengatakan, bahwa di Batur Turu hanya terdapat satu masjid dan satu musala. Menurutnya, masjid di Batur Turu baru ada tahun 1990-an.
"Di sini hanya ada satu masjid dan satu musala. Kalau masjid ini sudah dipugar tiga kali ini. Pertama masjid berdinding anyaman bambu, lalu diperbaiki hingga berdinding tembok dan akhirnya diperbesar menjadi Masjid Ka'bah," ucapnya.
Terkait alasan Masjid Asy-Syuhada berbentuk Ka'bah, Sukiran juga tidak mengetahuinya. Namun, Sukiran tidak mempermasalahkan bentuk Masjid tersebut.
"Kenapa bentuknya seperti Ka'bah? Itu dari donaturnya, saat itu donaturnya bilang kalau bisa seperti Ka'bah bentuknya, gitu," katanya.






Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Daftar Negara Lolos Semi Final Piala Dunia 2026: Isinya Rank 1-4 FIFA!
Hasil Piala Dunia 2026: Spanyol ke Final Usai Sikat Prancis 2-0