Puluhan tentara Venezuela dan Kuba dilaporkan tewas dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro. Tentara Kuba yang meninggal itu diduga merupakan pengawal keamanan atau pasukan pengamanan presiden (Paspampres) Maduro.
Diketahui, Maduro ditangkap militer Amerika Serikat pada Sabtu (3/1) lalu. Militer Venezuela mencatat ada 24 personelnya yang tewas saat operasi militer AS pada 3 Januari itu, yang diwarnai dengan pengeboman terhadap sejumlah lokasi di Caracas.
Di antara puluhan korban tewas itu ada lima pejabat militer Venezuela yang berpangkat Laksamana yang tewas dalam serangan itu. Selain tentara Venezuela, operasi militer AS itu juga menewaskan sedikitnya 32 personel angkatan bersenjata dan kepolisian Kuba yang bertugas di Caracas yang meninggal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Havana telah mengumumkan 32 warganya yang hilang di Venezuela. Hal ini disusul dengan penetapan masa berkabung selama dua hari di negara tersebut.
Para personel militer dan kepolisian Kuba yang meninggal ini dilaporkan berusia antara 26-67 tahun. Dua di antaranya berpangkat Kolonel, dan satu lainnya berpangkat Letnan Kolonel.
Tentara Kuba yang Tewas Diduga Pengawal Maduro
Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez menyebut mayoritas warga Kuba yang tewas di Caracas itu diyakini sebagai pengawal keamanan Maduro. Lopez menyebut sebagian besar pengawal keamanan Maduro dibantai 'dengan kejam' oleh militer AS.
Selama 12 tahun berkuasa, Maduro menggunakan tentara-tentara Kuba yang terlatih melindungi dirinya, sama seperti Hugo Chavez.
Berdasarkan laporan Associated Press, ada banyak warga sipil yang tewas dalam serangan militer AS itu. Sejauh ini, otoritas Caracas belum merilis data korban sipil secara resmi ke publik.
Serangan militer AS itu dimulai dengan gelombang pengeboman terhadap target-target militer Venezuela, dan berpuncak pada kedatangan pasukan khusus Washington menggunakan sejumlah helikopter tempur untuk menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dari sebuah kompleks yang menjadi persembunyiannya.
Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke New York dan ditahan di penjara di kota terpadat di AS tersebut. Keduanya baru saja diadili di pengadilan Manhattan pada Senin (5/1) waktu setempat atas serentetan dakwaan pidana federal, termasuk tuduhan konspirasi narkoterorisme.
Baik Maduro maupun istrinya sama-sama mengaku tidak bersalah atas dakwaan-dakwaan yang dijeratkan jaksa federal AS.
(ams/aku)












































Komentar Terbanyak
Terungkap Alasan Alvi Tega Mutilasi Kekasih Jadi Ratusan Potong
Jusuf Kalla Ajak Masjid Indonesia Baca Qunut Nazilah untuk Timur Tengah
Trump Nggak Happy Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran