Warga di Gari, Wonosari, Gunungkidul, harus gigit jari usai terbuai iming-iming donasi Rp 1,8 miliar untuk pembangunan masjid. Sebab, janji itu cuma 'prank' belaka padahal masjid sudah telanjur dirobohkan.
Ketua II Takmir Masjid Al-Huda, Budi Antoro, mengungkap pembongkaran masjid ini bermula pada November 2025 lalu. Kala itu ada dua orang dari Gari dan Ngawen menanyakan soal rencana pembangunan masjid. Keduanya bahkan telah menemui sesepuh dan takmir masjid.
"Syaratnya masjid kami harus dibongkar, dan akhirnya dalam waktu dua hari masjid kami bongkar pada bulan November," kata Budi kepada detikJogja, Senin (5/1/2026).
Warga pun akhirnya membongkar masjid tersebut. Namun, setelah masjid rata dengan tanah, janji itu tak kunjung ditepati.
"Tapi tidak ada sama sekali, tidak ada dana masuk sama sekali setelah pembongkaran itu," ujarnya.
Pihaknya pun sempat curiga saat tak diperbolehkan mencari donatur lain. Pihak donatur mengklaim bakal menanggung biaya pembangunan.
"Pada waktu itu kami mau mencari donatur saja tidak boleh, karena 99% sudah dari sana. Sehingga kami tidak punya persiapan apapun," ucap Budi.
Oknum donatur itu pun sempat mendatangkan yayasan untuk survei lokasi. Namun, kala itu kedatangan pihak yayasan hanya untuk survei lokasi.
Setelahnya pengurus Masjid Al Huda menanyakan ke pihak yayasan tentang progres donasi. Namun, pada Desember 2025 mereka mendapat kabar jika pengajuan pembangunan masjid tidak disetujui.
"Kemudian karena kami sudah berkomunikasi langsung dengan yayasan, mereka menyatakan tadinya berminat menjadi donatur tapi mereka tidak bisa memutuskannya sendiri karena harus ada persetujuan dari komisaris dan pengurus lain. Lalu bulan Desember dihubungi kalau pengajuan kita tidak disetujui," ujarnya.
Kini, 320 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 850 jiwa beribadah di musala-musala kecil. Mengingat di Pedukuhan Gari hanya memiliki satu masjid saja.
"Karena posisi masjid sekarang rata dengan tanah," katanya.
(ams/dil)