Kabupaten Pacitan dikenal dengan deretan objek wisata alamnya. Satu di antaranya Sumber Air Hangat 'Tirto Husodo' di Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari. Warga setempat menyebutnya 'Banyu Anget'. Tempat berbentuk kolam itu selalu padat pengunjung, terutama sore hari atau saat hari libur.
Sebagian besar wisatawan merupakan warga lokal. Sisanya adalah warga kota sekitar. Mereka sengaja mampir setelah mengunjungi beberapa objek wisata lain. Tak sedikit pula yang sengaja datang untuk terapi kesehatan. Nama 'Tirto Husodo' sendiri berarti air yang dapat menyembuhkan.
Paini (44) mengaku merasakan langsung dampak usai dirinya rutin berendam di Banyu Anget Tirto Husodo. Warga Kabupaten Ponorogo itu sepekan sekali datang ke Pacitan untuk pengobatan penyakit nyeri sendi yang dideritanya sejak lama. Tiap pekannya perempuan itu berendam selama 30 menit di air hangat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah jauh lebih baik. Istilahnya sekarang itu sudah bisa berdiri tegak. Ya kalau soal jalan memang masih harus banyak latihan," katanya kepada wartawan di lokasi, Selasa (23/6/2026).
Paini mengaku mendengar cerita tentang khasiat berendam di Banyu Anget dari tetangganya. Kala itu si tetangga mengidap sakit serupa. Ternyata hanya dengan beberapa kali terapi, keluhan tersebut tak lagi dirasakan. Sejak saat itu hati ibu tiga anak itu tergerak menuju 'Kota 1.001 Gua' untuk mencari kesembuhan.
"Kita kan hanya bisa berusaha nggih. Kesembuhan sepenuhnya dari Gusti Allah," kisahnya tentang masa lalu yang sempat membuatnya nyaris patah arang.
Banyaknya ragam tujuan wisatawan menuju Banyu Anget membuat objek wisata di bawah lereng batuan karst itu wajib dikunjungi. Bagi yang merasakan haus atau lapar usai berendam, deretan toko di jalur pintu masuk menawarkan aneka makanan dan minuman. Ada pula asesoris dengan identitas Pacitan terpampang di emperan toko.
Kepala Kawasan Wisata Banyu Anget Muhammad Afif menjelaskan tiap hari selalu ada kunjungan ke komplek kolam yang dikelola Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) itu. Sebagian besar memang untuk pengobatan, meskipun ada segolongan wisatawan lain yang sengaja datang sekadar untuk pelesir.
"Kalau jumlah kedatangan memang tidak menentu, tapi ya selalu ada," katanya.
Uniknya, di balik popularitas Banyu Anget belum banyak catatan penelitian tentang asal-usul maupun penyebab hangatnya air yang mengalir dari sumber alam tersebut. Sebagian menduga suhu panas berasal dari sisa vulkanik dari gunung purba. Hanya saja asumsi itu belum didukung hasil riset yang memadai.
Guru Besar Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta Prof Eko Teguh Paripurno bahkan memiliki sudut pandang berbeda terkait hal tersebut. Menurutnya, misteri penyebab panasnya air Banyu Anget dapat diungkap dengan melihat bentuk lereng pegunungan di atasnya.
"Coba lihat di bagian kiri atas itu ada lereng berwarna putih. Lantas di kanan bawah itu ada bagian yang warnanya berbeda," ucapnya sembari menunjuk bagian atas lereng di sela kegiatan ekskursi mahasiswa di Banyu Anget.
"Besar kemungkinan penyebab panasnya (air) itu karena patahan," tutur ahli geologi yang karib disapa Kang ET.
(auh/abq)
