Mengulik Sejarah Patung Buddha Tidur Terbesar di Indonesia

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Senin, 16 Mei 2022 11:23 WIB
Patung Budha tidur terbesar di Indonesia selalu ramai pengunjung setiap akhir pekan. Patung yang menggambarkan detik-detik wafatnya Budha Gautama ini berumur 29 tahun. Bagian fondasinya berhiaskan relief dengan berbagai cerita yang menarik.
Patung Buddha tidur terbesar di Indonesia/Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim
Mojokerto -

Patung Buddha tidur terbesar di Indonesia selalu ramai pengunjung setiap akhir pekan. Patung yang menggambarkan detik-detik wafatnya Buddha Gautama ini berumur 29 tahun. Bagian fondasinya berhiaskan relief dengan berbagai cerita yang menarik.

Patung Buddha tidur raksasa itu berada di dalam Maha Vihara Mojopahit di Desa Bejijong, Trowulan, Mojopahit. Yaitu di sebelah selatan gedung Sasono Bhakti yang menjadi tempat sembahyang umat Buddha.

Pandita Maha Vihara Mojopahit, Sariyono mengatakan, sejarah pembangunan patung Buddha tidur tak lepas dari pembangunan Maha Vihara Mojopahit. Keduanya sama-sama diprakarsai Bhikkhu Viriyanadi Maha Tera. Hanya saja vihara dibangun lebih dulu.

Menurutnya, Maha Vihara Mojopahit dibangun tahun 1987, lalu diresmikan Gubernur Jatim, Soelarso pada 31 Desember 1989. Sedangkan patung Buddha tidur dibangun tahun 1993 melibatkan pematung dari Solo, Jateng, serta pematung dari Desa Bejijong dan Desa/Kecamatan Trowulan.

"Sampai 1998 patung Buddha tidur belum ada warna, masih warna semen. Pengecatan pertama kali tahun 1999," kata Sariyono kepada detikJatim, Senin (16/5/2022).

Selama ini, patung Buddha tidur di Maha Vihara Mojopahit dicat dengan warna emas. Menurut Sariyono, emas adalah warna paling bagus yang sengaja dipilih untuk menghormati Buddha Gautama.

"Tahun 2001 mendapatkan penghargaan dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) sebagai Patung Buddha Tidur Terbesar di Indonesia dengan ukuran panjang 22 meter, lebar 6 meter, tingginya 4,5 meter," terangnya.

Patung raksasa yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Trowulan ini juga disebut Patung Buddha Maha Paranibbana. Yaitu menggambarkan detik-detik wafatnya Buddha Gautama. Sang Budha wafat dengan posisi seperti tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan menyangga kepalanya.

"Kenapa wafatnya seperti itu? Karena memang keseharian beliau istirahatnya seperti ini," ungkap Sariyono.

Sariyono menjelaskan, Buddha Gautama lahir dengan nama Siddhartha Gautama di Taman Lumbini, Kota Kapilavastu, India tahun 623 sebelum masehi (SM). Ia anak tunggal penguasa Kerajaan Kosala, Raja Suddhodana dan Dewi Maha Maya.

Siddhartha mencapai pencerahan dan menjadi Buddha saat bertapa di bawah pohon Bodhi di Hutan Gaya, India tahun 588 SM pada usia 35 tahun. Buddha Gautama wafat setelah 40 tahun mengajarkan Agama Buddha pada tahun 543 SM.

Ketiga peristiwa tersebut terjadi pada waktu yang sama, yaitu pada purnama sidhi di Bulan Waisak dalam kalender Budha. Momen kelahiran, mencapai pencerahan dan wafatnya Siddhartha Gautama dirayakan sebagai Hari Raya Waisak oleh umat Buddha.

"Siddhartha adalah manusia yang mengajarkan ajaran-ajaran kebaikan kepada sesama manusia, mungkin bahasa umumnya bisa dikatakan nabi," jelasnya.

Relief pada permukaan dinding di bawah patung Buddha tidur raksasa ini juga tak kalah menarik. Relief sisi timur bersambung dengan sisi utara menceritakan perjalanan Buddha Gautama ke Kusinara sekitar 3-6 bulan sebelum ia wafat. Kala itu, Siddhartha lebih banyak dalam posisi tiduran miring ke kanan selama mengajarkan ajaran Buddha kepada para pengikutnya.

"Karena kondisi badan beliau yang (sudah renta) karena faktor usia. Relief bagian selatan satu rangkaian dengan bagian barat menceritakan hukum sebab akibat," ujar Sariyono.

Patung Buddha Maha Paranibbana dibangun sangat megah bukan tanpa alasan. Menurut Sariyono, setiap vihara mempunyai patung Buddha tidur dengan ukuran bervariasi. Maknanya sama-sama menggambarkan detik-detik wafatnya Buddha Gautama. Patung Budha tidur di setiap vihara juga sama-sama menjadi simbol Agama Buddha yang digunakan untuk ritual pradaksina.

Yaitu prosesi mengelilingi objek-objek yang dihormati dalam ajaran Buddha di area vihara yang dilakukan searah jarum jam dengan posisi objek selalu di sebelah kanan. Patung Buddha tidur di Maha Vihara Mojopahit juga digunakan dalam ritual tersebut. Sehingga patung ini satu kesatuan dengan vihara dalam konteks peribadatan umat Buddha.

"Utamanya menjadi tempat ibadah umat Buddha. Simbol penghormatan terhadap guru agung Buddha. Saat Waisak ada prosesi pradaksina. Namun, kadang kala di luar Waisak ada umat setelah sembahyang di vihara mereka melakukan pradaksina," pungkasnya.

Seiring berjalannya waktu, patung Buddha tidur raksasa di Maha Vihara Mojopahit juga menjadi destinasi wisata. Toleransi antarumat beragam begitu kental di tempat ini. Saat ini, objek wisata tersebut dikelola Yayasan Lumbini. Setiap pengunjung harus membayar sumbangan dana kebersihan Rp 5.000 per orang dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak untuk masuk.



Simak Video "Ricuh! Warga Usir Keluarga Komplotan Polisi Gadungan di Mojokerto"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/sun)