Wajah Muram Kampung Warna-Warni Jodipan Malang di Tengah Pandemi

Wajah Muram Kampung Warna-Warni Jodipan Malang di Tengah Pandemi

Muhammad Aminudin - detikJatim
Selasa, 15 Mar 2022 17:41 WIB
Wajah muram Kampun Warna-warni Jodipan Malang yang mencoba bertahan di tengah pandemi COVID-19
Kampung Warna-warni Jodipan mencoba bertahan saat pandemi COVID-19/Foto: Muhammad Aminudin
Kota Malang -

Kampung Warna Warni Jodipan (KWJ) masih bertahan menjadi wisata tematik terhits di Kota Malang. Meskipun saat pandemi COVID-19, kampung ini mulai sepi pengunjung.

Sama seperti namanya, seluruh bangunan di KWJ dicat dengan berbagai macam warna yang mencolok, bahkan sampai ke atap dan jalanan kampung. Rumah-rumah bercat warna-warni itu berada di bantaran Sungai Brantas, letaknya di seberang sungai yakni di Jalan Ir H Juanda. Kampung ini dulunya kumuh dan disulap menjadi destinasi wisata baru.

Sejak resmi berdiri tahun 2016, KWJ banyak dikunjungi wisatawan lokal bahkan mancanegara. Namun, sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, KWJ ikut terdampak karena kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat.

Jika dulunya setiap sudut KWJ ramai wisatawan ber-swafoto, kini nyaris tidak ada sama sekali. Meskipun, KWJ sudah diperbolehkan buka. Hanya ada beberapa anak dan warga asli kampung saja yang terlihat menjalani rutinitas sehari-hari

Ketua RW 02 Kelurahan Jodipan, sekaligus Ketua Pengurus KWJ, Sony Parin menjelaskan, pemandangan sepinya pengunjung ini sudah terjadi sejak dibukanya kembali akhir 2021 lalu.

"Sudah boleh buka memang, wisatawan bisa akses lagi ke sini. Tapi sejak dibuka itu gak bisa lagi ramai seperti dulu," kata Sony ditemui, Selasa (15/3/2022).

Wajah muram Kampun Warna-warni Jodipan Malang yang mencoba bertahan di tengah pandemi COVID-19Wajah muram Kampung Warna-warni Jodipan Malang yang mencoba bertahan di tengah pandemi COVID-19 Foto: Muhammad Aminudin

Menurut Sony, masih sulit mendongkrak wisatawan untuk kembali datang ke KWJ. Setelah hampir satu tahun KWJ ditutup total lantaran COVID-19.

Ia mengaku, pengunjung yang sulit datang ke KWJ itu kemungkinan masih merosot pendapatannya karena dampak pandemi.

"Susahnya ya masyarakat saat ini rata-rata sudah merosot semua aktivitas ekonomi belum seperti dulu meskipun saat ini sudah ada kelonggaran," akunya.

Sebagai catatan saja, Sony menyebut, dulu sebelum pandemi dan tutup, ada sekitar 200 hingga 300 wisatawan per harinya. Namun saat dibuka di tengah pandemi COVID-19 akhir 2021 lalu, rata-rata hanya ada 20 sampai 30 pengunjung yang datang ke KWJ.

Sony menduga, sepinya kunjungan juga dipengaruhi banyaknya kampung tematik yang mulai bermunculan di Kota Malang.

"Kan sekarang banyak kampung tematik baru ada 24 kampung baru kalau gak salah," katanya.

Sony sebenarnya tidak berdiam diri. Dengan warga sekitar ia tetap mempertahankan ciri khas KWJ. Cat rumah-rumah dan juga genteng rumah di KWJ tetap dipertahankan dan dirawat.

Bahkan ornamen-ornamen semakin beragam. Di jalan setapak banyak dijumpai hiasan topeng bergelantungan. Dan juga lukisan-lukisan di dinding yang menambah keindahan saat melewati kampung tersebut.

"Itu semua dari warga sendiri kas dari keuntungan kemarin. Kami putar dan sebagian dari sponsor juga ada," ujarnya.



Simak Video "Bermain Air Saat Senja nan Sejuk di Kolam Renang Hotel Kota Malang"
[Gambas:Video 20detik]
(hil/hil)