Genap empat tahun Tragedi Kanjuruhan yang telah merenggut 135 nyawa berlalu. Ratusan keluarga dan kerabat korban memperingatinya di Gate 13 yang menjadi saksi bisu tragedi pada 1 Oktober 2022 silam itu.
Di Gate 13 yang kini dijadikan museum itu, mereka tampak berkumpul, berdoa, dan masih menagih keadilan yang dinilai belum tuntas. Suasana khidmat bercampur haru membuncah di ruangan berpanel kaca bening tersebut.
Aroma wangi bunga setaman menyeruak saat keluarga korban memanjatkan doa khusyuk, menengadahkan tangan, lalu meletakkan karangan bunga di area Gate 13. Isak tangis tak membendung saat kenangan atas kepergian para korban pasca-laga Arema FC versus Persebaya Surabaya empat tahun silam kembali terpanggil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di ruangan sebelah Gate 13, lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema lewat kegiatan khataman yang rutin digelar setiap tahunnya.
Rangkaian peringatan ini ditutup dengan pengajian dan munajat akbar bertajuk 'Doa untuk Nawak-Nawak' yang digagas oleh keluarga korban, Organisasi Aremania Utas, serta manajemen Arema FC.
Namun, di balik lantunan doa yang terpanjat, luka para keluarga korban rupanya masih menganga. Penegakan hukum yang mereka harapkan hingga kini dirasa belum memberikan rasa adil yang seutuhnya.
Minsai In, ayah dari almarhum Rio Edit Setyawan (21), menegaskan bahwa langkah hukum yang diproses selama ini belum menyentuh seluruh pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Langkah-langkah penyampaian Laporan Model B ke Polres Malang hingga Bareskrim Mabes Polri pun belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
"Kita menunggu keadilan ditegakkan seadil-adilnya. Semoga bisa ditindaklanjuti dan diusut tuntas supaya semua keluarga korban mendapatkan rasa keadilan," kata Minsai kepada wartawan di Stadion Kanjuruhan.
Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan berdoa di Museum Gate 13 Stadion Kanjuruhan Foto: Dok. Istimewa |
Minsai menilai, penetapan enam tersangka terdahulu mulai dari pihak penyelenggara hingga aparat keamanan tidak lantas menghentikan pengembangan perkara.
"Semua orang yang terlibat siapa pun itu harus diusut tuntas. Yang menembakkan gas air mata, misalnya satu regu ada 21 orang, itu harus diadili semuanya. Baru setelah itu diusut siapa yang memberi perintah. Yang utama penembaknya dulu," tegas pria asal Tumpang, Kabupaten Malang tersebut.
Nada kekecewaan juga dilontarkan oleh Kholifah Nur, Sekretaris Yayasan Korban Tragedi Kanjuruhan (YKTK). Wanita yang akrab disapa Ifa ini menyayangkan penanganan kasus hukum yang terkesan jalan di tempat di saat peringatan memasuki tahun ke-4.
"Kami belum mendapat keadilan. Sampai kapan pun hukum itu harus adil, mereka (korban) harus mendapatkan keadilan seadil-adilnya," tutur Ifa terpisah.
Ifa berharap 1 Oktober tidak hanya diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, tetapi juga ditetapkan sebagai agenda peringatan nasional agar negara dan masyarakat tidak melupakan penderitaan para korban serta mencegah tragedi serupa terulang.
"Harus dirawat terus, dijadikan sejarah. Kalau bisa, tanggal 1 Oktober dijadikan hari tanpa sepak bola bukan cuma di Malang atau Indonesia, tapi di seluruh dunia untuk merawat ingatan kita," pungkasnya.
Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan berdoa di Museum Gate 13 Stadion Kanjuruhan Foto: Dok. Istimewa |
Sementara di sisi lain, sejumlah mahasiswa, Aremania dan masyarakat menggelar aksi depan Balai Kota Malang, untuk mengenang 4 Tragedi Kanjuruhan. Aksi diam selama hampir satu menit mereka lakukan.
Massa aksi mulai berkumpul sejak pukul 16.20 WIB juga membawa beberapa poster serta membentangkan spanduk sebagai pengingat adanya tragedi menewaskan 135 orang itu.
Salah satu poster besar yang mereka bawa, yakni bertuliskan 'Don't Stop Talking About Kanjuruhan'.
"Kita disini, sebagai kepanjangan tangan dari mereka yang telah dibunuh," ujar salah satu korlap aksi.
Sejumlah personel TNI/Polri turut mengamankan aksi tersebut agar berjalan kondusif dan aman.
Doa bersama mengenang 4 tahun Tragedi Kanjuruhan juga digelar Komunitas Aremania Curvasud. Sekaligus santunan anak yatim piatu di depan Basecamp Curvasud, Jalan Patimura, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Rangkaian kegiatan diawali sholawatan, pembacaan Yasin dan tahlil, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta pembacaan ayat suci Al-Qur'an.
Sejumlah unsur pemerintah, TNI-Polri, tokoh masyarakat, komunitas Aremania, serta warga turut hadir, di antaranya Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo P.S., serta Dandim 0833/Kota Malang Letkol Inf Dedy Azis.


