Huru-hara Laga Persebaya Vs Arema FC di Stadion Soepriadi Kota Blitar

Jatim Flashback

Huru-hara Laga Persebaya Vs Arema FC di Stadion Soepriadi Kota Blitar

Tim detikJatim - detikJatim
Sabtu, 10 Agu 2024 19:45 WIB
persebaya vs arema
Kerusuhan yang terjadi di tengah laga Persebaya Vs Arema FC di Stadion Soepriadi, Kota Blitar pada 18 Februari 2020. (Foto: Istimewa)
Kota Blitar -

Huru-hara yang terjadi pada 18 Februari 2020 menjadi momen traumatis bagi warga Kota Blitar. Laga semifinal Piala Gubernur Jatim antara Persebaya Vs Arema FC di Stadion Soepriadi Kota Blitar diwarnai pembakaran belasan motor, 1 mobil rusak, dan 5 korban luka-luka.

Berbagai antisipasi sudah dilakukan jelang laga Derby Jatim yang berakhir dengan kemenangan Persebaya 4-2 atas Arema FC itu. Pertandingan telah disepakati digelar tanpa kehadiran suporter, personel keamanan telah dikerahkan mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diiinginkan.

Bahkan, laga yang mempertemukan 2 klub sepakbola dengan suporter fanatik yang kerap memicu kericuhan itu juga diantisipasi oleh Dinas Pendidikan Kota Blitar dengan memulangkan lebih awal siswa di 4 sekolah sekitar stadion.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dindik Kota Blitar saat itu mengeluarkan imbauan dalam surat bernomor 420/367 /410.110.1/2020 perihal pemulangan siswa lebih awal khusus untuk SMPN 7, SDN Kauman 2, SDN Kepanjen Lor 3, dan SDN Sentul 2.

Pengumuman itu sempat dipasang di papan yang diletakkan di atas kursi bertulisan "Siswa Siswi SDK Kepanjen Lor 3 pulang pukul 08.30 WIB Karena Ada Babak Semifinal Piala Gubernur Jatim".

ADVERTISEMENT

Plt Kepala Dispendik Pemkot Blitar saat itu, Priyo Suhartono membenarkan bahwa diirnya telah mengirimkan surat itu ke 4 sekolah di sekitar stadion atas pertimbangan keamanan dan kenyamanan siswa dan orang tua.

Apa yang diantisipasi Dindik Kota Blitar terjadi. Sejak Selasa pagi para suporter fanatik kedua klub sepakbola di liga utama itu sudah merangsek masuk ke Kota Blitar untuk menyaksikan langsung pertandingan yang digelar sore sekitar pukul 15.30 WIB.

Saat itu, massa suporter Persebaya atau Bonek yang bertolak dari Kota Pahlawan naik kereta api terpantau tiba di Stasiun Kota Blitar sekitar pukul 09.00 WIB. Dengan cepat mereka memenuhi Simpang Kelud, akses menuju Stadion Soepriadi Kota Blitar.

Para suporter ini ngeyel masuk ke stadion karena termakan rumor bahwa Aremania, suporter Arema FC, dapat tiket eksklusif sebanyak 4 ribu lembar untuk menonton pertandingan. Riuh rendah teriakan para suporter ini terdengar. Mereka meminta diizinkan masuk ke stadion.

Kasat Lantas Polres Blitar saat itu, AKP Haris, sempat mengajak 2 bonek masuk ke dalam stadion untuk membuktikan apakah di dalam stadion memang disediakan tempat duduk atau tidak? Terbukti di dalam stadion itu tidak ada tempat duduk bagi suporter kecuali tribun khusus untuk Gubernur Jatim.

Polisi pun segera mengarahkan bonek keluar dari area stadion dan melokalisasi mereka ke kawasan Sumber Udel yang berjarak kurang lebih 300 meter di sebelah brat stadion. Sementara, pada saat yang sama, massa Aremania juga sudah dilokalisasi di PPIP atau tempat parkir Makam Bung Karno.

Tapi kerusuhan tetap terjadi. Sekitar pukul 14.00 WIB di Jalan Kapuas, massa Bonek bertemu massa Aremania hingga terjadi keributan yang diduga dipicu salah satu Bonek dipukul warga setempat yang mengaku seorang Aremania.

Perseteruan antarsuporter ini berujung pembakaran sejumlah motor ketika 2 kubu massa saling melempar batu. Tidak hanya di lokasi tersebut, bentrokan dua kubu suporter ini juga terjadi di areal persawahan Bendo di Jalan Ciliwung. Polisi membubarkan massa dengan gas air mata.

"Ada perusakan empat sepeda motor, mobil tidak ada. Lalu yang di areal persawahan Bendo atau Jalan Ciliwung kedua suporter juga bertemu, namun bisa kami halau dengan gas air mata. Ada satu bonek mengalami patah tulang kaki dan satu orang lagi yang terluka di bagian kepala," kata Kapolres Blitar Kota saat itu, AKBP Leonard M Sinambela.

Kerugian materiil mencapai ratusan juta rupiah. Baca halaman selanjutnya.

Pasca-kerusuhan itu, selain 1 orang warga Blitar yang ketahuan membawa senjata tajam saat terjadinya bentrokan, tidak ada oknum suporter lain yang diamankan oleh polisi. Penanganan saat itu fokus menghalau massa dari 2 kubu suporter agar setelah membubarkan diri tidak sampai bentrok lagi.

"Tidak ada suporter yang kami amankan dalam insiden tadi. Hanya satu suporter warga Blitar yang membawa sajam saja yang kami amankan. Dan saya tegaskan, tidak ada korban meninggal dunia dan tidak ada penjarahan," lanjut Leo.

Barulah sekitar pukul 18.30 WIB, polisi memulangkan suporter dengan pengawalan ketat pihak kepolisian. Suporter Arema yang berkumpul di PIPP diantarkan ke terminal, ada juga yang diantar ke wilayah tempat tinggalnya naik truk.

Sedangkan Bonek yang datang ke Kota Blitar naik kereta api dipulangkan dengan 4 truk. Keempat truk itu langsung mengantarkan para suporter itu ke Kota Surabaya.

Total kerugian yang diderita warga Kota Blitar imbas kerusuhan antarsuporter itu mencapai ratusan juta. Sesuai data Kesbangpol PBD Pemkot Blitar, total kerugian akibat insiden tersebut yang telah dilaporkan ke Pemprov Jatim mencapai Rp 254 juta.

Ada 8 warung dan toko di Kelurahan Kauman serta 2 warung di Kelurahan Sukorejo dan sebuah toko di Kelurahan Tanjungsari yang tidak dibayar. Kerugian yang dialami oleh para pemilik warung dan toko itu mencapai Rp 11.750.000.

Selain itu ada sebuah mobil pelat nomor S 1906 ZQ yang kaca belakang dan sampingnya pecah. Ada juga laptop di dalam mobil yang hilang dengan total kerugian sekitar Rp 17 juta.

Mobil yang dirusak itu berada di lokasi yang berdekatan dengan 13 sepeda motor yang diduga dibakar oleh suporter di Jalan Kapuas. Ada 4 sepeda motor yang teridentifikasi, sedangkan 9 motor tidak teridentifikasi karena habis terbakar. Kerugian untuk kendaraan rusak ini mencapai Rp 160 juta.

"Sedangkan untuk lahan dan sawah yang rusak dengan tingkat kerusakan sedang sampai parah seluas 6,14 hektare. Total kerugian petani sekitar Rp 51.107.500," ujar Kepala Kesbangpol PDB Pemkot Blitar saat itu, Hakim Kisworo pada Kamis 20 Februari 2020.

Di luar kerugian materiel, Kesbangpol mencatat ada sebanyak 5 orang korban yang mengalami luka-luka. Biaya untuk pengobatan para korban diperkirakan mencapai Rp36 juta. Belum lagi ada korban yang menjadi korban perampasan dompet dan handphone.

"Sehingga estimasi kami total kerugian sekitar Rp 257.170.500," kata Hakim.

atim Flashback adalah rubrik spesial detikJatim yang mengulas peristiwa-peristiwa di Jawa Timur serta menjadi perhatian besar pada masa lalu. Jatim Flashback tayang setiap hari Sabtu. Ingin mencari artikel-artikel lain di rubrik Jatim Flashback? Klik di sini.

Halaman 2 dari 2
(dpe/iwd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads