Mudik ke kampung halaman terasa kurang lengkap tanpa mencicipi kuliner khas daerah. Di Trenggalek, salah satu hidangan legendaris yang wajib dicoba adalah ayam lodho.
Kuliner berbahan dasar ayam kampung ini menjadi favorit masyarakat, terutama saat acara selamatan maupun hari raya. Cita rasanya yang pedas gurih dengan beragam kondimen khas mampu menggugah selera.
Ayub Nualak, pemilik warung Ayam Lodho Pak Yusuf di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Trenggalek, mengatakan bahwa kuliner yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ini awalnya tidak diperjualbelikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada tahun 1987 bapak kami Pak Yusuf membuka warung di Kedunglurah, awalnya bukan jual ayam lodho tapi ayam botok. Nah pada 1991 kami kedatangan tim liputan dari salah satu TV untuk liputan kuliner, akhirnya Bapak muncul ide untuk memasak menu ayam lodho," kata Ayub Nualak, Sabtu (21/3/2026).
Sejak saat itu, ayam lodho menjadi menu andalan di warung tersebut. Hidangan yang dulunya bersifat sakral kini berkembang menjadi kuliner populer dengan penjualan yang terus meningkat.
"Kami adalah pelopor warung ayam lodho, Alhamdulillah berkembang sampai sekarang," ujarnya.
Ayub menjelaskan, proses pembuatan ayam lodho tidak bisa dilakukan sembarangan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengolahan.
"Kami perhatikan betul proses penyembelihan, kehalalan harus kami jamin, tidak asal potong," katanya.
Setelah dibersihkan, ayam dipasang pada bilah bambu dan dibakar di atas bara api. Proses pembakaran ini menjadi kunci utama yang menghasilkan cita rasa khas smoky dan gurih.
"Lodho kami bukan diasap tapi dibakar di atas bara api arang. Kematangan dari pembakaran ini akan mempengaruhi rasa. Ciri khas lodho adalah dibakar dulu kemudian dimasak," jelasnya.
Selanjutnya, ayam direbus dengan aneka rempah khas dalam kuah santan pedas hingga tekstur daging menjadi empuk dan siap disajikan.
Ayam lodho memiliki cara penyajian yang berbeda dibandingkan menu ayam lainnya. Hidangan ini harus disajikan bersama nasi gurih dan urap sebagai pelengkap.
"Harus dengan nasi gurih, kalau enggak ya kurang pas," imbuh Ayub.
Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Trenggalek ini menyebutkan, menu ayam lodho di warungnya dibanderol mulai dari Rp25 ribu hingga Rp183 ribu, tergantung paket yang dipilih.
Perkembangan ayam lodho yang kini semakin dikenal luas dan banyak dijual di berbagai tempat menjadi kebanggaan tersendiri.
"Konon ayam lodho pada zaman kerajaan juga merupakan menu premium karena dihidangkan untuk raja dan bangsawan. Alhamdulillah saat ini kami bisa melestarikan menu ini," jelas Ayub.
Dengan cita rasa khas dan sejarah panjangnya, ayam lodho tidak hanya menjadi kuliner, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Trenggalek dan sekitarnya.
(ihc/abq)
