Saat senja Ramadan merambat pelan, aroma manis gula aren dan kelapa parut hangat menyeruak dari pinggir jalan. Di antara hiruk pikuk pemburu takjil, Kue Dongkal mendadak jadi primadona warga Gresik.
Lembut, manis, dan gurihnya yang pas, membuat banyak orang rela mengantre demi seporsi kudapan khas Betawi tersebut.
Di tepi Jalan Raya Desa Betiting, Kecamatan Cerme, Septian menata kukusan bambu berbentuk tumpeng. Setiap sore pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB, lapaknya selalu ramai. Tak butuh waktu lama, Kue Dongkal hangatnya ludes.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tiga jam sudah habis," ujarnya sambil tersenyum, Selasa (10/3/2026) petang.
Kue dongkal di Gresik Foto: Jemmi Purwodianto/detikJatim |
Dari aroma Dongkal yang menggoda itu, Septian banjir cuan. Omzet bersihnya bisa menembus Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per hari. Yang menarik, Septian bukan orang Betawi. Ia berasal dari Sukodadi, Lamongan. Bersama sang istri, ia baru sebulan berjualan di Cerme.
Keahlian meracik kue tradisional ini ia pelajari dari sang kakak. Dari sekadar mencoba, kini jadi ladang rezeki.
"Awalnya coba-coba. Ternyata banyak yang suka," katanya.
Kenikmatan Kue Dongkal terletak pada kesederhanaannya. Campuran tepung beras, gula aren, parutan kelapa, dan sejumput air garam diaduk rata, lalu dikukus sekitar 20 menit.
Tekstur empuk yang jatuh lembut di lidah, lebih halus dari kue putu, dengan manis legit berpadu gurih kelapa. Disajikan hangat, setiap potongannya terasa mengenyangkan.
Satu kukus berbentuk tumpeng bisa dipotong menjadi sekitar 20 porsi. Harganya ramah di kantong, yakni Rp 10 ribu untuk porsi biasa, Rp 15 ribu untuk porsi jumbo. Dalam sehari, Septian mampu menjual hingga 13 kukus. Tak heran, lapaknya sempat viral di media sosial dan membuat rasa penasaran warga memuncak.
Pebriana, salah satu pembeli, mengaku datang karena penasaran. Dia sampai rela mengantre demi mendapatkan Dongkal untuk berbuka. Septian sampai membuatkan nomor antrean agar pembelinya tertib dan merasa adil.
"Saya beli dua porsi. Baru pertama kali coba, murah untuk berbuka," katanya.
Antrean pun diatur dengan nomor agar tetap tertib. Ini menjadi bukti betapa kue sederhana ini berhasil merebut hati banyak orang.
Menjelang magrib, ketika uap kukusan terakhir mengepul, Kue Dongkal sukses mencuri hati warga Gresik.
(hil/hil)












































