Cerita Sugeng Jajakan Es Puter Keliling di Surabaya Sejak 1990

Cerita Sugeng Jajakan Es Puter Keliling di Surabaya Sejak 1990

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Jumat, 09 Jan 2026 16:45 WIB
Cerita Sugeng Jajakan Es Puter Keliling di Surabaya Sejak 1990
Sugeng penjual es krim puter keliling di Surabaya saat melayani pembeli di Ngagel, Surabaya (Foto: Fadya Majida Az-zahra/detikJatim)
Surabaya -

Di tengah gempuran aneka makanan dan minuman yang makin beragam, jajanan tradisional ternyata masih memilih bertahan. Salah satunya es krim puter yang dijajakan Sugeng.

Pria 65 tahun itu mengaku telah berjualan es krim puter sejak tahun 1990 hingga kini. Sehari-hari Sugeng berjualan dengan gerobaknya dari satu kampung ke kampung lain di Surabaya.

Selama kurang lebih 35 tahun juga, Sugeng setia mendorong gerobaknya sejak pukul 09.00 WIB. Dari dalam gerobaknya, ia biasanya dengan ramah menawarkan berbagai rasa es krim puter ke pelangganya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada roti, wonten, rasa nangka, rasa durian, rasa kopyor, macem-macem," ujar Pak Sugeng saat ditemui oleh detikJatim di kawasan Ngagel, Surabaya dengan ramah.

ADVERTISEMENT

Es puter yang dijual Sugeng masih dibuat dengan cara tradisional. Proses pembuatannya dilakukan dengan diputar secara manual hingga menghasilkan tekstur lembut dan padat.

"Sebutannya es puter, karena membuatnya sambil diputar," ujar Sugeng.

Es krim puter keliling yang dijajakan Sugeng dibuat dengan cara tradisionalEs krim puter keliling yang dijajakan Sugeng dibuat dengan cara tradisional (Foto: Fadya Majida Az-zahra/detikJatim)

Sugeng menuturkan, sebelum berjualan es puter, ia mengaku sempat berdagang bakso selama 5 tahun. Namun usaha tersebut tak diteruskan karena butuh modal yang tinggi.

"Dulu saya jualan bakso lima tahun pertama, tapi modalnya besar. Kalau es puter modalnya lebih kecil," tuturnya.

Dengan modal awal sekitar Rp 200 ribu, Sugeng mengaku bisa meraih keuntungan hingga Rp 500 ribu per harinya. Seluruh usaha tersebut dijalankan secara mandiri.

"Semuanya saya modal sendiri," katanya.

Dalam sehari, penjualan es puter Pak Sugeng rata-rata menghabiskan 30 porsi, terutama di hari biasa. Namun, pada momen tertentu es krim puternya bisa ludes diborong.

"Biasanya paling banyak dibeli 30 kalau hari biasa, tapi saya juga pernah dibeli satu gerobak untuk acara mantenan (pernikahan)," ungkapnya.

Bagi Sugeng, berjualan bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga cara untuk tetap produktif di usia senja. "Saya lebih seneng jualan daripada nganggur di rumah," tandasnya.




(hil/abq)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads