Prof Nidom Masuk Daftar Ilmuwan Terbaik Indonesia, Asia Peringkat Ke-20

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 28 Jan 2022 18:33 WIB
Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom
Foto: Istimewa (Dok Prof Nidom)
Surabaya -

Sebanyak 25 dari 1.273 peneliti Indonesia masuk dalam ilmuwan terbaik Indonesia versi AD Scientific Index 2022. AD Scientific Index 2022 merilis daftar World Top 100 Scientists 2022. 743.755 Ilmuwan dari 14.194 perguruan tinggi di 216 negara masuk dalam pemeringkatan ini.

Pada urutan pertama di peringkat Asia ke 20 adalah Prof dr Chairul Anwar Nidom, peneliti dari Surabaya. Prof Nidom sendiri merupakan lulusan S1 Fakultas Kedokteran Hewan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kemudian melanjutkan S2 dan S3 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair).

Pada saat S3, dia melakukan riset-riset tentang flu burung yang dikerjakan di University Tokyo. Kemudian mengikuti kerja sama riset di Tokyo University, Hokkaido University di Kyoto University, University of Wisconsin (AS), University of Lausanne dan University of Geneva (Swiss).

Prof Nidom bercerita, yang mempunyai konsen menjadi dokter sebenarnya almarhum ibunya.

"Tapi saya realistis, karena Bapak saya hanya seorang sopir tidak tetap. Sehingga saya harus mengingkari keinginan Ibu, kemudian masuk IPB, selain murah biaya kuliah (hanya Rp15.000/tahun) dan diterima tanpa tes. Tapi seperti ditakdirkan harus masuk ke FKH (pilihan ke4 dari 6 fakultas)," kata Prof Nidom kepada detikJatim, Jumat (28/1/2022).

Setelah lulus S1, ia diterima FKH Unair. Tapi ditempatkan di Departemen Ilmu Biokimia FK-UA. Selama 20 tahun, akhirnya ditarik ke FKH. Tia diskusi dan perbincangan ilmiah dengan para dokter dan profesor di sana, topik terbesarnya tentang kesehatan masyarakat.

Otomatis, lanjut dia, problema yang terbangun adalah kesehatan masyarakat. Tetapi dia menyadari bahwa dirinya seorang dokter hewan, sehingga fokus riset adalah tentang zoonosis (penyakit pada manusia dan hewan).

"Lebih mengkhususkan riset Virus RNA yang terdapat pada hewan & manusia. Penyakit manusia 70% berasal dari hewan. Jadi riset mulai Flu burung, bahkan saya seorang dokter dengan disertasi tentang virus Flu Burung. Kemudian virus flu pandemi H1N1 2009, Virus Zika, Virus Ebola dan sekarang lagi asyiik dengan virus COVID-19, yang kecerdikannya mengalahkam semua virus yang telah saya pelajari selama ini," jelasnya.

Selama menjadi peneliti, sudah 169 jurnal internasional yang terbit di jurnal indeks Scopus. Sebagian besar penelitiannya tentang virus RNA sejak 2017, saat ia diajak peneliti milenial, diminta membimbing mereka dalam naungan Professor Nidom Foundation (PNF).

"Banyak yang salah kira kalau PNF ini milik saya. Bukan. Saya hanya membina mereka. Alhamdulillah secara mandiri PNF melakukan kegiatan riset, terutama Virus COVID-19. Sejak 2017, PNF menghasilkan artikel internasional sebanyak 11 bahan, 10 bahan tentang Virus COVID-19, 1 tentang adjuvan vaksin (kerja sama dengan Universitas Geneva). Semua artikel berscopus, tentinya setiap artikel yang terbit harus disediakan fee publikasi yang berkisar antara Rp 5-30 juta per artikel. Alhamulillah sampai saat ini belum pernah merepotkan pemerintah dalam segala pembiayaan," jelasnya.

Saat ini, Prof Nidom sedang aktif melakukan riset COVID-19. Terutama sifat dan karakter virus C19. Menurutnya, pusat-pusat riset yang ada, semua sibuk membuat obat atau vaksin, tanpa ada dasar-dasar riset sebelumnya.

Sementara pihaknya melihat bagaimana virus-virus ini saat sudah tidak pandemi, apakah virus juga hilang? Ia mengatakan, jika tentunya tidak. Tentunya akan tinggal di lingkungan, kemudian karakter selanjutnya masih menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat atau virus-virus ini sembunyi di hewan yang sewaktu-waktu bisa mengancam.

"Dengan munculnya banyak varian, Alhamdulillah staf PNF berhasil membuat metoda PCR yang disebut "One for All". Saat sampel positif C19, langsung bisa diketahui variannya. Apakah Alfa, Delta, Delta Plus, Beta atau Omicron.

"Langsung bisa diketahui dalam waktu 3 jam. Kalau metoda sebelumnya untuk mengetahui varian harus di WGS yang selesainya 4-6 hari. Saat ini PNF sudah punya stok virus Covid dengan berbagai mavam Varian termasuk Omicron. Jadi riset-riset PNF, melakukan simulasi-simulasi dari varian-varian yang ada, terutama dilakukan pada hewan coba," ujarnya.

Masuk ilmuwan terbaik Indonesia versi AD Scientific Index 2022, ia bersyukur karena risetnya di akui dunia. Berdasaekan h-index setiap peneliti internsional (scopus), pasti punya h-index. Ternyata lembaga ini tidak hanya mendasar pada h-index, tapi juga harus disitasi oleh peniliti lain minimal 100 peneliti. Meskipun h-index nya tinggi, tapi tidak ada yang sitasiya tidak dinilai.

Ia menjelaskan, h-index ditentukan oleh jurnal yang menerbitkan. Biasanya jurnal yang menyebabkan h-index tinggi, feenya juga tinggi. Untuk jurnal Nature sekitar Rp 60 juta per artikel yang diterbitkan.

Sedangkan jumlah sitasi ditentukan oleh isi dari artikel tersebut. Biasanya kalau pertama kali terbit dengan hasil yang baru, dimungkinkan yang sitasi akan tinggi. Jika artikel sekedar follower dari isu yang ada, biasanya sitasinya biasa-biasa saja.

"Daya mengikuti pandangan guru saya di Tokyo Univ Prof Kawaoka yaitu 'my deadline is yesterday'. Bisa dibayangkan, selalu mencari yang baru, kalau sudah ketemu, kami sudah ketinggalan sehari. Jadi harus segera diselesaikan. Kalau perlu tidur di lab, cepat dikerjakan, cepat disusun & cepat dikirim ke jurnal internasional. Kalau sampai ada peneliti lain yang mendahului dengan topik yang mirip, maka artikel yang sudah siap terbit kami perbaiki & level jurnalnya turun level," urainya.

"Kenapa artikel kami jumlah sitasinya ada yang hampir 2.000 sitasi. Ada 2 artikel yang banyak sitasi yaitu tentang bagaimana kami lakukan rekayasa virud flu burung dari ayam diubah dengan mutasi, sehingga virus ini bisa menginfeksi reseptor mamalia. Karena rumitnya riset ini dikerjakan bersama peneliti Tokyo Univ. Artikel lain yang mulai banyak sitasi yaitu tentang sifat virus Covid tentanf ADE (Antibodi Dependent Enhanchmen) yang awalnya banya ditentang peneliti Indonesia, tapi mulai disitasi teori ADE tersebut. Jadi peneliti sama persis dengan seorang wartawan. Kepuasannya jika hipotesis terbukti & banyak yang membaca (sitasi) setuju atau tidak dengan isinya. Riset yang baik selain ditentukan oleh SDM, juga alat & fasilitas yang baik," pungkas Prof Nidom.



Simak Video "Peneliti Mesir Ciptakan Kursi Roda yang Bisa Dikendalikan 'Otak'"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)