5 Fakta Viral Dugaan Pelecehan Modus Konten Ngasih Boneka di Tunjungan

5 Fakta Viral Dugaan Pelecehan Modus Konten Ngasih Boneka di Tunjungan

Denza Perdana - detikJatim
Senin, 21 Sep 2026 10:00 WIB
Konten pemberian boneka di Jalan Tunjungan yang viral diduga pelecehan seksual.
Konten pemberian boneka di Jalan Tunjungan yang viral diduga pelecehan seksual. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Media sosial dihebohkan oleh unggahan viral mengenai dugaan pelecehan seksual berkedok pembuatan konten video pemberian boneka. Aksi yang menyasar kalangan perempuan itu dikabarkan kerap terjadi di kawasan objek wisata Jalan Tunjungan, Surabaya.

Berikut sejumlah fakta penting yang terungkap dari peristiwa itu dirangkum detikJatim dari sejumlah berita yang telah ditayangkan.

5 Fakta Konten Ngasih Boneka Ternyata Modus Pelecehan

1. Berawal dari Cuitan Viral di Threads dan Ciri-Ciri Pelaku

Informasi ini pertama kali mencuat dari cuitan salah satu akun warganet di platform Threads. Pengunggah memperingatkan para perempuan yang sedang berjalan-jalan di sepanjang Jalan Tunjungan agar mewaspadai keberadaan sekelompok pria berkendara motor Ninja yang kerap membawa boneka *Teddy Bear* di depan minimarket kawasan setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Buat perempuan yang lagi me time atau sama temen perempuan juga ketika lagi jalan" di JI. Tunjungan siang" atau malem" kalian harus hati" kalo liat gerombolan cowo biasanya nongkrong di depan family mart dan Indomaret depan kopi Djawa ada sekitar 5 orang atau lebih salah satu nya bawa motor ninja, terus bawa boneka Tedy bear," tulis unggahan tersebut dilihat detikJatim, Minggu (20/9/2026).

2. Kesaksian Korban: Dipaksa Take Video 3 Kali dan Diarahkan Tertawa

Perempuan berinisial ASN memberanikan diri speak up mengenai pengalaman pahit yang dialaminya bersama temannya pada 5 Agustus 2026 sekitar tengah malam saat hendak menuju parkiran.

ADVERTISEMENT

"Tiba-tiba ada dua cowok nyegat kita. Bilang, 'Halo Kak, mau masuk konten nggak? Cuma take video 20 detik aja, paling lama. Kontennya sama boneka, nanti kita tos terus aku kasih boneka ke kakak'," kata ASN saat dikonfirmasi detikJatim, Minggu (20/9/2026).

ASN mengaku sempat menolak, namun ditarik karena temannya merasa tidak enak. Mereka bahkan diminta mengambil ulang adegan hingga tiga kali dengan instruksi khusus pada objek boneka yang ambigu.

"Disuruh take konten itu 3 kali, dengan orang yang berbeda tapi konsep videonya sama semua. Tos-tosan, ngasih boneka, disuruh lihat ekor bonekanya, disuruh pegang ekornya, ketawa-ketawa dan saling lempar satu sama lain," bebernya.

"Banyak sih kayaknya korban dia, tapi berhubung disuruh ketawa-ketawa ketika take konten jadi orang liatnya have fun, padahal itu pelecehan," tegas ASN.

3. Akun Medsos Pembuat Konten Langsung Diprivat dan Video Dihapus

Setelah kasus ini menyita perhatian publik, akun TikTok dan YouTube pembuat konten beridentitas @takimofficial08 langsung membatasi aksesnya. Video-video yang memperlihatkan aksi pemberian boneka di YouTube di-takedown dan akun TikTok diubah menjadi mode privat.

"Sepertinya dia takut kalau viral makanya langsung dihapus dan diprivat," kata ASN saat dikonfirmasi detikJatim, Sabtu (20/9/2026).

ASN berharap pihak berwenang dapat mengambil langkah tegas agar kawasan wisata tersebut kembali aman.

"Harapanku buat ke depannya mungkin bisa dirazia aja, Kak, sama Satpol PP yang bertugas di sana, dan nggak bakal berkeliaran lagi ke Tunjungan," ungkapnya.

4. Kepolisian Belum Terima Laporan Resmi Namun Tetap Penyelidikan

Di sisi lain, pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi yang masuk dari para korban.

"Mohon waktu cek, info dari (petugas) yang piket belum ada (laporan korban)," tutur Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari.

Meski demikian, kepolisian menegaskan tidak akan tinggal diam dan tetap menelusuri kebenaran informasi serta keberadaan para pembuat konten meresahkan tersebut.

"Njeh (iya, tetap ditelusuri)," tukasnya.

5. Korban Mengaku Takut Kembali ke Jalan Tunjungan

Pengalaman tak menyenangkan ini meninggalkan trauma tersendiri bagi para korban. ASN mengaku kini merasa cemas dan enggan untuk mendatangi kawasan Jalan Tunjungan kembali karena khawatir berpapasan dengan kelompok tersebut.

"Apalagi dia kalau ke Tunjungan sama gerombolannya. Jadi sekarang agak takut kalau ke Tunjungan," pungkasnya.



(irb/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads