Sakit Hati Ditilang Berujung Ojol Lempar Molotov ke 2 Pos Polisi Surabaya

Round Up

Sakit Hati Ditilang Berujung Ojol Lempar Molotov ke 2 Pos Polisi Surabaya

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Senin, 17 Agu 2026 09:45 WIB
Pelaku pelemparan molotov ke pos polisi di Surabaya
Pelaku pelemparan molotov ke pos polisi di Surabaya/Foto: Dok. Istimewa/@luthfie.daily
Surabaya -

Aksi pelemparan bom molotov ke dua pos polisi di Surabaya pada Sabtu (15/8/2026) malam akhirnya terungkap. Polisi menangkap seorang pria berusia 30 tahun yang diduga sebagai pelaku, tak lama setelah melakukan aksinya.

Pelaku diketahui merupakan seorang pengemudi ojek online (ojol). Dari pemeriksaan awal, aksi tersebut diduga dipicu rasa sakit hati setelah pelaku pernah ditilang polisi. Ia kemudian membuat bom molotov dari botol kaca bekas minuman berenergi yang diisi bensin dan melemparkannya ke pos polisi di Margorejo serta Bundaran Waru.

Pengungkapan sosok pelaku disampaikan Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan melalui video yang diunggah di akun Instagram @luthfie.daily. Dalam video tersebut, Luthfie tampak berbincang langsung dengan pelaku saat proses penyelidikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaku mengenakan baju bermotif kotak-kotak hitam putih dan celana hitam. Ia mengaku masih bujangan dan sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojol.

ADVERTISEMENT

"Sehari-hari kerja apa sih, oh gojek," kata Luthfie dalam video yang dilihat detikJatim, Minggu (16/8/2026).

Dalam pemeriksaan tersebut, pelaku mengakui telah menyerang dua pos polisi menggunakan bom molotov. Ia menyebut botol kaca bekas minuman berenergi digunakan sebagai wadah yang kemudian diisi bensin.

Luthfie sempat menanyakan bahan bakar yang digunakan pelaku.

"Pakai bensin apa solar," tanya Luthfie lantas dijawab pelaku dengan bensin.

Sehari setelah pengungkapan pelaku, motif penyerangan turut terungkap. Dalam video yang diunggah di akun @luthfie.daily, pelaku mengaku aksinya dipicu rasa sakit hati karena pernah ditilang polisi.

Luthfie menanyakan secara langsung alasan pelaku sampai menyerang pos polisi.

"Gara-garane opo sih sampean iku? (Motifnya apa sih?)," tanya Luthfie kepada pelaku seperti yang dilihat detikJatim, Senin (17/8/2026).

Pelaku kemudian menjelaskan bahwa ia sebelumnya mendengar informasi dari warga melalui radio mengenai seseorang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang disebut tidak ditilang polisi meski melanggar lalu lintas.

Informasi tersebut membuat pelaku merasa diperlakukan tidak adil. Sebab, menurut pengakuannya, dirinya pernah ditilang ketika melakukan pelanggaran lalu lintas.

"Info katanya ada orang gila gitu pak, ada yang lapor warga. Ada orang gila kok gak ditilang," tutur pelaku kepada Luthfie.

Dari rasa sakit hati itu, pelaku kemudian merencanakan aksi penyerangan terhadap pos polisi. Polisi juga menemukan indikasi bahwa aksi tersebut tidak dilakukan secara spontan.

Sebelum melakukan pelemparan molotov, pelaku disebut telah mengincar lokasi selama sekitar dua hari. Hal itu diketahui dari rekaman kamera CCTV yang diperiksa polisi dalam proses penyelidikan.

Dalam rekaman tersebut, pelaku bahkan disebut sengaja memperlihatkan wajahnya ke arah kamera CCTV sambil merokok. Polisi kemudian menggunakan rekaman tersebut untuk membantu mengidentifikasi pelaku.

Selain rekaman CCTV, polisi juga menelusuri keterangan sejumlah saksi di sekitar lokasi. Salah satunya adalah petugas perlintasan kereta api Margorejo bernama Yudi yang berada di seberang pos polisi.

Keterangan Yudi menjadi salah satu petunjuk dalam mengungkap ciri-ciri pelaku. Saat kejadian, ia melihat seorang pria mengenakan pakaian serba hitam mengendarai sepeda motor bebek.

"Nggak jelas kelihatan, naik motor setahu saya cuma satu orang. Ngelempar sesuatu keluar api kecil. Tahu-tahu sudah ada api," ujar Yudi di lokasi kejadian.

Aksi pertama terjadi di Pos Polisi Lalu Lintas (Pos Lantas) Ahmad Yani, Margorejo, Surabaya, sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu, pelaku datang seorang diri menggunakan sepeda motor bebek.

Yudi mengatakan pelaku sempat berhenti di depan pos. Pelaku tidak turun dari sepeda motornya. Ia kemudian menyulut botol yang diduga berisi bahan bakar sebelum melemparkannya ke arah pos.

"Pakaian hitam, gelap dari sini. Helm sepintas biru muda. Pelaku berada di bawah tenda menghadap ke barat, tidak turun dari sepeda motor. Tidak sampai lima menit, sekitar dua menitan, melempar lalu langsung pergi," tambahnya.

Botol tersebut mengenai bagian pintu masuk pos dan menimbulkan kobaran api. Namun, tidak terdengar suara ledakan keras. Warga yang berada di sekitar lokasi segera membantu memadamkan api.

"Di pintu masuk pos. Kayak bom molotov. Tahu-tahu sudah ada api. Terus ada ibu-ibu lewat, berhenti, memadamkan (dengan menginjak). Tidak lama dari kejadian, petugas datang," ungkap Yudi.

Api sempat membumbung sekitar satu meter. Namun, kobaran api dapat segera dipadamkan sehingga kerusakan pada bangunan pos relatif ringan.

Dalam pemeriksaan, pelaku mengaku melempar dua bom molotov ke pos polisi. Satu lemparan mengenai sasaran, sedangkan satu lainnya meleset sehingga tidak menembus atau memecahkan kaca pos.

"Sing siji gak tembus, melengsih (yang satu gak sampai mecahin kaca, meleset)," ujar pelaku.

Dua lokasi yang menjadi sasaran adalah Pos Lantas Ahmad Yani Margorejo dan pos polisi di Bundaran Waru, Surabaya. Aksi tersebut berlangsung cepat dan pelaku langsung meninggalkan lokasi setelah melempar molotov.

Sebelumnya, polisi menyebut insiden tersebut tidak menimbulkan kerusakan berarti pada fasilitas kepolisian. Namun, satu personel polisi dilaporkan mengalami luka akibat kejadian tersebut.

Pasca-pelemparan, polisi langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengamanan dan olah tempat kejadian perkara. Penyelidikan dilakukan dengan mengumpulkan keterangan saksi serta memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Jules Abraham Abast memastikan pos polisi yang menjadi sasaran masih dapat beroperasi untuk melayani masyarakat.

"Nah, sejauh ini nanti kami pastikan apakah masih ada korban atau memang hanya berupa kerugian ringan yang terjadi di pos kami," kata Abast, Minggu (16/8/2026).

Ia mengatakan, kerusakan yang terjadi tidak cukup berarti. Polisi masih mendalami seluruh rangkaian kejadian, termasuk penyebab serta motif penyerangan.

"Ya, kalau sejauh ini tidak ada kerusakan yang cukup berarti terkait dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Namun, kami masih melakukan upaya untuk mencari penyebab maupun gangguan kamtibmas yang timbul pada malam hari ini," tegasnya.

Abast juga meminta masyarakat tidak panik. Polisi memastikan situasi keamanan di Surabaya dan Jawa Timur tetap terkendali setelah penyerangan dua pos polisi tersebut.

"Namun sejauh ini kami yakinkan sekali lagi kepada masyarakat, situasi saat ini tetap kondusif, pos kami masih juga baik dan sudah tidak ada masalah," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "MAMA Lime Green Day Fest 2026, Ajak Hidup Sehat Bareng di Surabaya"
[Gambas:Video 20detik] (abq/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads