Dugaan aksi pencabulan terhadap sejumlah anak kembali terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Seorang guru ngaji berinisial MP (40) di Kecamatan Sempu diduga tega mencabuli sejumlah muridnya yang masih anak-anak.
Kasus ini terungkap berawal dari kecurigaan seorang ibu rumah tangga berinisial R (28). Ini karena ia mendapati aktivitas pencarian internet (Google Search) yang tidak biasa di ponsel milik putrinya sebab terhubung langsung dengan ponsel orang tuanya.
Ibu korban mengaku kaget saat melihat notifikasi riwayat pencarian sang anak yang berulang kali mencari informasi mengenai dosa seorang guru ngaji yang melakukan pemerkosaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kaget waktu melihat notifikasi di handphone saya kan terhubung sama punya anak. Kenapa dia searching di Google seperti ini, dan ini berkali-kali dengan kata kunci yang sama," kata R saat ditemui detikJatim, Kamis (13/8/2026).
Merasa ada yang tidak beres, ibu korban kemudian menanyakan hal tersebut secara perlahan kepada anaknya. Saat ditanya, korban sempat menangis ketakutan, namun akhirnya mengaku telah menjadi korban pelecehan oleh guru ngajinya sendiri.
"Dada saya bergetar mendengar anak saya telah dilecehkan. Anak saya pasti ketakutan setiap hari, tapi tetap berangkat mengaji karena takut dimarahi kalau tidak mengaji," ungkap R.
Dari situ, korban lain kemudian bermunculan. Sedikitnya ada lima korban yang telah mengaku menjadi korban. Tiga di antaranya menyatakan siap melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Sementara dua korban lainnya masih enggan melapor karena takut dan merasa malu atas peristiwa yang dialaminya.
Sebelumnya, seorang guru ngaji di Kecamatan Sempu, Banyuwangi, berinisial MP (40), diduga mencabuli lima anak di bawah umur yang belajar mengaji di rumahnya. Dugaan pencabulan itu disebut berlangsung dalam kurun waktu lama, bahkan sejumlah korban mengaku mengalami perlakuan tersebut hingga dua tahun.
MP sehari-hari dikenal sebagai petani sekaligus guru ngaji yang mengajar sekitar 30 anak, baik laki-laki maupun perempuan, di rumahnya. Para muridnya rata-rata merupakan anak tetangga dan warga sekitar.
