Bejat! Guru Ngaji di Sempu Banyuwangi Diduga Cabuli 5 Anak

Bejat! Guru Ngaji di Sempu Banyuwangi Diduga Cabuli 5 Anak

Eka Rimawati - detikJatim
Rabu, 12 Agu 2026 16:26 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi pencabulan anak/Foto: Andhika Akbarayansyah
Banyuwangi -

Seorang guru ngaji di Kecamatan Sempu, Banyuwangi, berinisial MP (40), diduga mencabuli lima anak di bawah umur yang belajar mengaji di rumahnya. Dugaan pencabulan itu disebut berlangsung dalam kurun waktu lama, bahkan sejumlah korban mengaku mengalami perlakuan tersebut hingga dua tahun.

MP sehari-hari dikenal sebagai petani sekaligus guru ngaji yang mengajar sekitar 30 anak, baik laki-laki maupun perempuan, di rumahnya. Para muridnya rata-rata merupakan anak tetangga dan warga sekitar.

Kasus ini terungkap setelah salah satu orang tua menemukan pencarian tidak biasa di ponsel anaknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu anak yang diduga menjadi korban berinisial H (11) mengaku mengalami pencabulan sejak masih duduk di bangku SD ketika belajar mengaji di rumah MP. Kepada orang tuanya, H mengungkapkan perlakuan yang dialaminya dari guru ngaji tersebut.

ADVERTISEMENT

"Iya, dipegang pegang ininya (dada) dan dicium-cium," kata H kepada kedua orang tuanya dengan ketakutan.

Saat ini, H telah duduk di bangku SMP, tetapi orang tuanya mulai melihat adanya kejanggalan setelah seorang anak lain mengaku pernah menjadi korban MP sejak 2025.

Anak tersebut berinisial S (9), yang kemudian mengaku menjadi korban pencabulan setelah ibunya, R, menemukan riwayat pencarian di Google pada ponsel anaknya. S diketahui mencari informasi mengenai hukum bagi guru ngaji yang mengajar secara gratis tetapi melakukan tindakan pemerkosaan terhadap muridnya.

"Saya curiga awalnya dari perilaku anak ini, terus saya menemukan anak ini kok searching di Google tentang guru ngaji yang mengajar tidak dibayar tapi memperkosa apakah dosa," terang R Ibu dari S dengan mata berkaca kaca kepada detikJatim, Rabu (12/8/2026).

Temuan tersebut membuat R panik dan bingung menentukan langkah yang harus dilakukan, sedangkan suaminya sempat emosi dan hampir menghakimi langsung terduga pelaku.

R kemudian meminta bantuan perangkat desa untuk memediasi persoalan tersebut agar tidak terjadi tindakan main hakim sendiri. Dalam proses itu, R mendengar pengakuan anaknya yang menyebut dugaan pencabulan tersebut bukan hanya terjadi sekali.

"Dia bilangnya itu lebih dari satu kali, sampai empat kali katanya. Saya khawatir sekali dengan kondisi psikologi anak saya, karena saat tes di RS Bhayangkara dia katanya mengalami gangguan berat," jelas R lebih lanjuc.

R mengaku khawatir terhadap kondisi psikologis anaknya setelah mengetahui dugaan perlakuan yang dialami S selama belajar mengaji di rumah MP.

Berdasarkan penelusuran detikJatim, terdapat lima anak yang mengaku menjadi korban dugaan pencabulan MP. Para korban disebut rata-rata mengaku mengalami perlakuan cabul dalam kurun waktu cukup lama.

Dugaan pencabulan tersebut disebut berlangsung selama satu hingga dua tahun, sehingga masih terbuka kemungkinan adanya korban lain yang belum terungkap.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads