Komplotan maling berjumlah 5 orang berbagi peran untuk membobol brankas Universitas KH Abdul Chalim (UAC), Mojokerto. Mereka membagi uang curian Rp 870 juta sesuai peran masing-masing.
Pelaku bobol brankas UAC berjumlah 5 orang. Yaitu Muis Afandi Tuarita (43), warga Jalan Cengkeh 10, Kelurahan Namaelo, Masohi, Maluku Tengah, Maluku dan Hendra (33), asal Dusun Karanglayung, Kelurahan Bojongmengger, Cijeungjing, Ciamis, Jabar.
Sumarno (50), warga Dusun Sidomulyo, Desa Glagahwangi, Polanjarjo, Klaten, Jateng. Kemudian MU (33), warga Desa Tulehu, Salahutu, Maluku Tengah, Maluku dan SU (44), warga Kupang, NTT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumarno lebih dulu ditangkap Unit Resmob Satreskrim Polres Mojokerto yang dipimpin Iptu Sukron Makmun di kantin Universitas Muhamadiyah, Klaten, Jateng pada Jumat (31/7) sekitar pukul 14.00 WIB.
Selanjutnya, Muis dan Hendra ditangkap tim gabungan Unit Resmob Satreskrim Polres Mojokerto dan Tim Resmob Jatanras Polda Riau di Bandara Sultan Syarif Kasim, Kota Pekanbaru, Riau pada Selasa (4/8) sekitar pukul 22.30 WIB. Sedangkan MU dan SU buron.
"Jadi yang pertama S (Sumarno) menyediakan sarana kendaraan Avanza warna hitam nopol B 2859 KIH," kata Wakapolres Mojokerto, Kompol Grandika Indera Waspada saat jumpa pers di kantornya, Jalan Gajah Mada, Mojosari, Rabu (12/8/2026).
Muis berperan sebagai eksekutor, yakni membongkar brankas UAC menggunakan obeng dan linggis. Sedangkan Hendra mengawasi situasi di sekitar kampus, serta sebagai pengemudi mobil Avanza.
"MU sebagai eksekutor, kemudian SU jaga di luar. Jadi, dua orang eksekutor masuk ke dalam, dua orang jaga luar. Satu orang penyedia mobil," terang Grandika.
Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Aldhino Prima Wirdhan menjelaskan, Muis dan kawan-kawan mengaku menjarah uang Rp 870 juta dari brankas UAC. Uang tunai tersebut lantas mereka bagi sesuai peran masing-masing.
Mulai dari Muis mendapatkan bagian Rp 250 juta, Hendra, MU dan SU masing-masing Rp 150 juta, sedangkan Sumarno menerima Rp 30 juta. Sebab peran Sumarno sebatas menyewa mobil sebagai sarana pencurian.
"Untuk posisi uang sekarang sudah habis. Kami masih melakukan pendalaman terkait barang-barang apa yang sudah dibeli dan juga ada beberapa yang sudah ditransfer ke orang lain. Maka dari itu, ini kuncinya kita masih mengejar dua pelaku yang masih buron," tandasnya.
Sebelumnya, komplotan maling membobol brankas Universitas KH Abdul Chalim di Jalan Tirtowening 17, Dusun Bendorejo, Desa Bendunganjati, Pacet, Mojokerto pada Kamis (23/7) sekitar pukul 03.00 WIB.
Brankas berisi uang Rp 870 juta itu berada di ruangan Biro Administrasi Umum dan Keuangan. Dana tersebut untuk operasional kampus dan beasiswa para mahasiswa. Salah satu sumbernya dari SPP para mahasiswa.
