Tampang Mesum Kernet Bus MTrans Pelaku Pelecehan Penumpang Perempuan

Round Up

Tampang Mesum Kernet Bus MTrans Pelaku Pelecehan Penumpang Perempuan

Amir Baihaqi - detikJatim
Rabu, 15 Jul 2026 07:05 WIB
Kru bus MTrans yang melakukan pelecehan ke penumpang
Kru bus MTrans yang melakukan pelecehan ke penumpang/Foto: Tangkapan layar
Malang -

Kasus pelecehan seksual yang menimpa penumpang perempuan dalam moda transportasi umum membuat heboh dunia maya. Kasus ini terungkap setelah korban memberanikan diri buka suara.

Kasus pelecehan tersebut diketahui dialami penumpang berinisial R. Ia mengaku pelecehan tersebut terjadi malam hari saat dirinya tengah beristirahat. Korban diketahui naik bus MTrans tujuan Malang-Denpasar pada 12 Juli.

Kisah pilu ini mencuat ke publik setelah korban bersuara mengungkap bahwa ruang publik khususnya transportasi antarkota masih menyimpan ancaman nyata bagi perempuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam unggahannya, korban menceritakan bahwa kejadian bermula saat dirinya sengaja memilih kursi nomor 7C setelah memastikan kepada petugas loket bahwa ia akan duduk bersebelahan dengan sesama perempuan.

Sayangnya, ketika bus mulai melaju pada Sabtu (11/7) malam pukul 19.20 WIB, kursi di sebelahnya ternyata kosong. Saat itu, seorang kru bus tiba-tiba mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya. Dia menawarkan bantuan untuk merebahkan sandaran kursi agar korban bisa tidur lebih nyaman.

ADVERTISEMENT

Karena mengira hal tersebut bagian dari pelayanan fasilitas bus, korban mengiyakan tawaran itu sebelum akhirnya terlelap kembali dengan tubuh tertutup selimut rapat.

Korban kemudian terbangun beberapa saat kemudian karena merasakan tepukan di tubuhnya. Mengira kru itu datang untuk membetulkan kursinya. Dengan refleks ia pun bergeser ke jendela.

Namun, dugaannya salah besar. Kru itu justru duduk di kursi kosong di sebelahnya, mengambil selimut yang digunakan R sebagai bantal, dan mulai melakukan tindakan cabulnya.

"Dia malah duduk di kursiku, pakai selimut yang tadi kupakai buat bantal, terus ngebelai rambutku sambil bilang, 'berantakan nih rambutnya karena tidur,'" ungkap korban yang telah mengizinkan detikJatim untuk mengutipnya, Rabu (15/7/2026).

Mendapat perlakuan tidak menyenangkan itu, korban langsung menepis tangan pelaku. Alih-alih menjauh, kru itu justru bertindak lebih berani dengan menunjuk bahunya sendiri dan menyuruh korban untuk bersandar.

Saat korban menolak keras, pelaku menarik kepala korban secara paksa ke arah bahunya dan langsung dihindari oleh korban. Sepanjang sisa perjalanan, pelaku tetap bertahan duduk di samping korban, bahkan sempat tidur dan menyentuhkan kakinya beberapa kali ke kaki korban hingga korban terpaksa melipat kakinya demi menghindari adanya kontak fisik.

Di tengah situasi itu, korban memilih untuk tidak berteriak atau melawan. Keputusan itu diambil dengan pertimbangan yang sangat berat di tengah kondisi fisik yang lelah dan situasi jalanan yang sepi.

"Kejadian itu tengah malam sampai terang, aku sendirian, bus lagi jalan, aku capek banget, dan aku nggak tahu dia bakal bereaksi seperti apa kalau aku melawan. Aku juga kepikiran keselamatan penumpang lain. Jadi yang ada di pikiranku cuma bertahan sampai tujuan, lalu lapor," jelasnya.

Begitu bus tiba di terminal tujuan yakni Denpasar, Bali pada Minggu (12/7), korban bergegas mendatangi kantor M Trans Bali untuk membuat laporan resmi.

Pihak manajemen merespons dengan memfasilitasi pembuatan video permintaan maaf dari kru serta menonaktifkan sementara kru itu sembari menunggu keputusan dari kantor pusat.

R juga sempat ditawari melakukan mediasi dan bertemu langsung dengan pelaku, namun ia menolak keras karena merasa sudah muak dan masih terguncang psikologis.

"Aku juga sempat ditawari ketemu langsung sama dia (kru), tapi aku nolak karena jujur aku udah muak lihat mukanya dan cuma pengen cepat pulang. Manajemen M Trans bilang menonaktifkan sementara sambil menunggu keputusan dari pusat," tegasnya.

Awalnya, korban mengira kasusnya telah selesai secara internal. Namun, rasa mengganjal di hatinya mendorongnya untuk membagikan pengalaman pahit itu di media sosial Instagram miliknya. Keputusan berani ini ternyata membuka kotak pandora yang mengejutkan.

Tak lama setelah unggahannya viral, kotak masuk pesan singkat dan WhatsApp miliknya dibanjiri oleh pesan dari perempuan-perempuan lain yang mengalami modus serupa dari kru bus yang sama di rute tersebut. Salah satu korban menceritakan pengalamannya saat bepergian sehari sebelum keberangkatan korban, tepatnya pada 23 Juni 2026.

Penumpang tersebut, yang bepergian bersama adik perempuan dan anaknya yang masih balita, tiba-tiba dipanggil turun dari bus dengan dalih khawatir bagasinya tertukar.

"Pas turun ternyata cuma ditanya nomor HP. Aku gak kasih. Tapi setelah itu kok malah ada WhatsApp masuk. Aku jadi kepikiran nomor itu didapat dari mana. Jujur aku ngerasa diteror," beber korban lain kepada R.

Banyaknya kesaksian serupa yang masuk memperkuat dugaan bahwa tindakan kru tersebut bukanlah sebuah kekhilafan satu kali, melainkan pola perilaku yang kerap berulang dan menyasar para penumpang perempuan yang bepergian sendiri atau tanpa pelindung laki-laki.

"Saya mau pelaku dipidana, karena korbannya banyak ternyata," harapnya.

R juga menegaskan bahwa langkahnya memviralkan kejadian ini sama sekali bukan bertujuan untuk menjatuhkan kredibilitas MTrans sebagai penyedia jasa transportasi. Sebaliknya, ia mendorong manajemen agar mengevaluasi besar-besaran sistem pengawasan staf di lapangan dan menangani laporan kekerasan atau pelecehan dengan langkah yang tegas.

"Postingan ini bukan buat menyudutkan MTrans sebagai perusahaan. Aku berharap perusahaan terus memperbaiki pengawasan dan menangani setiap laporan seperti ini dengan serius. Yang aku perjuangkan adalah hak setiap perempuan untuk merasa aman saat menggunakan transportasi umum," katanya.

Kini, R berharap agar laporan hukum yang sedang berjalan diproses seadil-adilnya tanpa ada upaya untuk menutup-nutupi kasus ini. Sayangnya, manajemen MTrans sendiri belum bisa dikonfirmasi mengenai kisah yang diunggah R. Namun dalam unggahan itu, R menyertakan video permintaan maaf salah satu kru yang diduga merupakan pelaku.

Terpisah, Human Resources Development (HRD) MTrans Jhony Sasongko mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pelaku yang diketahui berinisial AM sebagai mitra MTrans. Ia menegaskan PHK tersebut bagian dari komitmen dari manajemen.

"Karena memang melanggar etika kerja juga di perjanjian awal. Bahwasanya kalau ada kru maupun staf kami yang melanggar etika kerja dan itu bisa tergolong berat, kami mengambil tindakan tegas seperti itu," ujar Jhony ditemui di kantornya.

Jhony membeberkan bahwa pelaku telah menjadi mitra MTrans selama hampir delapan bulan. Selama bekerja di MTrans, AM bertugas sebagai helper atau kernet. Ia juga membenarkan perbuatan pelaku telah dilakukan beberapa kepada sejumlah penumpang, khususnya perempuan.

"Karena tidak sekali, mitra ini (AM) sudah pernah dilaporkan dengan perbuatan sama. Pernah kita berikan teguran, tapi mengulangi lagi," tegasnya.

"Iya benar, ada korban lain. Dengan pelaku yang sama. Makanya kita memberikan tindakan tegas," tandas Jhony.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads