Perempuan Ini Ungkap Kisah Nyesek Dilecehkan Kru Bus Malang-Denpasar

Perempuan Ini Ungkap Kisah Nyesek Dilecehkan Kru Bus Malang-Denpasar

Muhammad Aminudin - detikJatim
Selasa, 14 Jul 2026 12:30 WIB
Despair. The concept of stopping violence against women and human trafficking,  International Womens Day
Ilustrasi korban pelecehan seksual. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Tinnakorn Jorruang)
Malang -

Dugaan pelecehan terhadap perempuan dalam moda transportasi umum kembali terjadi. Kali ini pelecehan dialami seorang penumpang perempuan yang sedang bepergian dari Malang menuju Denpasar naik bus.

Perjalanan malam yang seharusnya menjadi momen istirahat tenang bagi perempuan berinisial R berubah menjadi mimpi buruk yang terus membekas di benaknya. N, yang sedang berada di bus MTrans tujuan Malang-Denpasar pada 12 Juli menjadi korban dugaan pelecehan seksual oleh salah satu kru bus.

Kisah pilu ini mencuat ke publik setelah R memutuskan untuk bersuara, mengungkap bahwa ruang publik khususnya transportasi antarkota masih menyimpan ancaman nyata bagi perempuan. Terkait cerita pilu yang diunggah R ke akun media sosialnya @r.linzhao, yang bersangkutan telah mengizinkan detikJatim untuk mengutipnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kiriman itu R menceritakan bahwa kejadian bermula saat dirinya sengaja memilih kursi nomor 7C setelah memastikan kepada petugas loket bahwa ia akan duduk bersebelahan dengan sesama perempuan. Sayangnya, ketika bus mulai melaju pada Sabtu (11/7) malam pukul 19.20 WIB, kursi di sebelahnya ternyata kosong.

Di tengah malam yang sunyi, seorang kru bus tiba-tiba mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya. Dia menawarkan bantuan untuk merebahkan sandaran kursi agar R bisa tidur lebih nyaman. Karena mengira hal tersebut bagian dari pelayanan fasilitas bus, N mengiyakan tawaran itu sebelum akhirnya terlelap kembali dengan tubuh tertutup selimut rapat.

ADVERTISEMENT

R kemudian terbangun beberapa saat kemudian karena merasakan tepukan di tubuhnya. Mengira kru itu datang untuk membetulkan kursinya. Dengan refleks ia pun bergeser ke jendela.

Namun, dugaannya salah besar. Kru itu justru duduk di kursi kosong di sebelahnya, mengambil selimut yang digunakan R sebagai bantal, dan mulai melakukan tindakan yang melanggar batas privasi.

"Dia malah duduk di kursiku, pakai selimut yang tadi kupakai buat bantal, terus ngebelai rambutku sambil bilang, 'berantakan nih rambutnya karena tidur,'" ungkap R seperti dilihat detikJatim, Selasa (14/7/2026).

Mendapat perlakuan tidak menyenangkan itu, R langsung menepis tangan pelaku. Alih-alih menjauh, kru itu justru bertindak lebih berani dengan menunjuk bahunya sendiri dan menyuruh R untuk bersandar. Saat R menolak keras, pelaku menarik kepala N secara paksa ke arah bahunya dan langsung dihindari oleh korban.

Sepanjang sisa perjalanan, pelaku tetap bertahan duduk di samping R, bahkan sempat tidur dan menyentuhkan kakinya beberapa kali ke kaki korban hingga korban terpaksa melipat kakinya demi menghindari adanya kontak fisik.

Di tengah situasi itu, R memilih untuk tidak berteriak atau melawan. Keputusan itu diambil dengan pertimbangan yang sangat berat di tengah kondisi fisik yang lelah dan situasi jalanan yang sepi.

"Kejadian itu tengah malam sampai terang, aku sendirian, bus lagi jalan, aku capek banget, dan aku nggak tahu dia bakal bereaksi seperti apa kalau aku melawan. Aku juga kepikiran keselamatan penumpang lain. Jadi yang ada di pikiranku cuma bertahan sampai tujuan, lalu lapor," jelasnya.

R sekaligus ingin meluruskan asumsi publik yang sering kali mempertanyakan mengapa korban pelecehan kerap kali memilih diam saat kejadian berlangsung? Begitu bus tiba di terminal tujuan yakni Denpasar, Bali pada Minggu (12/7), R bergegas mendatangi kantor M Trans Bali untuk membuat laporan resmi.

Pihak manajemen merespons dengan memfasilitasi pembuatan video permintaan maaf dari kru serta menonaktifkan sementara kru itu sembari menunggu keputusan dari kantor pusat. R juga sempat ditawari melakukan mediasi dan bertemu langsung dengan pelaku, namun ia menolak keras karena merasa sangat muak dan terguncang secara psikologis.

"Aku juga sempat ditawari ketemu langsung sama dia (kru), tapi aku nolak karena jujur aku udah muak lihat mukanya dan cuma pengen cepat pulang. Manajemen M Trans bilang menonaktifkan sementara sambil menunggu keputusan dari pusat," tegasnya.

Awalnya, R mengira kasusnya telah selesai secara internal. Namun, rasa mengganjal di hatinya mendorongnya untuk membagikan pengalaman pahit itu di media sosial Instagram miliknya. Keputusan berani ini ternyata membuka kotak pandora yang mengejutkan.

Tak lama setelah unggahannya viral, kotak masuk pesan singkat dan WhatsApp miliknya dibanjiri oleh pesan dari perempuan-perempuan lain yang mengalami modus serupa dari kru bus yang sama di rute tersebut. Salah satu korban menceritakan pengalamannya saat bepergian sehari sebelum keberangkatan R, tepatnya pada 23 Juni 2026.

Penumpang tersebut, yang bepergian bersama adik perempuan dan anaknya yang masih balita, tiba-tiba dipanggil turun dari bus dengan dalih khawatir bagasinya tertukar.

"Pas turun ternyata cuma ditanya nomor HP. Aku gak kasih. Tapi setelah itu kok malah ada WhatsApp masuk. Aku jadi kepikiran nomor itu didapat dari mana. Jujur aku ngerasa diteror," tulis salah satu korban lain dalam pesannya kepada R

Banyaknya kesaksian serupa yang masuk memperkuat dugaan bahwa tindakan kru tersebut bukanlah sebuah kekhilafan satu kali, melainkan pola perilaku yang kerap berulang dan menyasar para penumpang perempuan yang bepergian sendiri atau tanpa pelindung laki-laki.

"Saya mau pelaku dipidana, karena korbannya banyak ternyata," harapnya.

R juga menegaskan bahwa langkahnya memviralkan kejadian ini sama sekali bukan bertujuan untuk menjatuhkan kredibilitas MTrans sebagai penyedia jasa transportasi. Dia fokus untuk mendorong manajemen agar mengevaluasi besar-besaran sistem pengawasan staf di lapangan dan menangani laporan kekerasan atau pelecehan dengan langkah yang tegas.

"Postingan ini bukan buat menyudutkan MTrans sebagai perusahaan. Aku berharap perusahaan terus memperbaiki pengawasan dan menangani setiap laporan seperti ini dengan serius. Yang aku perjuangkan adalah hak setiap perempuan untuk merasa aman saat menggunakan transportasi umum," katanya.

Kini, R berharap agar laporan hukum yang sedang berjalan diproses seadil-adilnya tanpa ada upaya untuk menutup-nutupi kasus ini. Sayangnya, manajemen MTrans sendiri belum bisa dikonfirmasi mengenai kisah yang diunggah R. Namun dalam unggahan itu, R menyertakan video permintaan maaf salah satu kru yang diduga merupakan pelaku.



(ihc/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads