Universitas Nahdhatul Ulama (Ulama) Blitar kembali buka suara terkait dugaan pelecehan seksual yang melibatkan oknum dosen dan sejumlah mahasiswi. Universitas berjanji siap memberikan pendampingan hukum kepada korban dugaan pelecehan seksual tersebut.
"Sikap kampus tegas, tidak pada melindungi oknum. Kalau pun ada keputusan berujung pemecatan itu menunggu hasil penyelidikan, dan seandainya ditarik ke ranah hukum atau pidana kami siap," kata Sekretaris Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNU Blitar, Rudianto Hendra Setiawan saat press conference, Rabu (13/6/2026).
Rudianto menyebut kampus siap memberikan pendampingan terhadap korban apabila kasus dugaan pelecehan seksual itu dibawa ke ranah hukum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya dalam kategori berat, kami akan akan mendampingi ke situ (hukum). 15 orang itu banyak, tapi yang lapor ke Satgas masih 1 orang. Makanya kami juga meminta agar menunggu korban yang lain melapor," terangnya.
UNU Blitar, lanjut Rudianto tidak ingin melindungi oknum maupun civitas akademis lainnya yang terbukti melakukan tindakan kejahatan maupun penyimpangan. Menurutnya, kampus akan tegas untuk menjamin kenyamanan dan keamanan mahasiswa.
"Pelecehan itu tindakan berat lho ya, kami terbuka kalau ada laporan lagi. Kami juga tidak ingin memelihara predator," tegasnya.
Sampai dengan saat penyelidikan terhadap kasus dugaan pelecehan seksual itu terus berlangsung di lingkup internal UNU Blitar. Termasuk melibatkan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPTKPT) dan tim etik.
"Ada 2 tim yang kami siapkan yakni satgas dan etik apabila ada pelanggaran. Satgas tidak memutuskan perkara, tapi memberikan pendampingan trauma dan penyusunan bukti - bukti dari korban," tandasnya.
Rudianto mengatakan kasus dugaan pelecehan seksual itu menjadi pelajaran penting dalam menciptakan lingkungan aman di perguruan tinggi. UNU Blitar berkomitmen untuk melakukan reformasi kinerja, termasuk meningkatkan profesionalisme, dan akuntabilitas institusi.
Sebelumnya, sejumlah mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar mengaku menjadi korban pelecehan seksual. Pelaku diduga tak lain oknum salah satu dosen.
Salah seseorang mahasiswi yang enggan disebut namanya mengaku menjadi salah satu korban dugaan pelecehan dari oknum dosen tersebut. Ia menyebut mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat di dalam kelas.
"Iya sempat pernah dipegang-pegang, di dalam kelas. Awalnya biasa saja mungkin tidak sengaja, tapi kok terjadi beberapa kali," katanya kepada detikJatim, Selasa (12/5/2026).
