Bisnis esek-esek berkedok warung kopi (warkop) Pangku di Desa Tumapel, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik, dibongkar polisi. Dalam penggerebekan tersebut, polisi turut mengamankan dua perempuan yang diduga melayani pria hidung belang dengan imbalan uang.
Kapolsek Duduksampeyan AKP Bakri menjelaskan, pengungkapan kasus tersebut bermula dari laporan masyarakat yang merasa resah dengan aktivitas sebuah warung kopi yang beroperasi hingga larut malam. Aduan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan melakukan razia di sejumlah warkop di sepanjang jalan raya Duduksampeyan.
"Penindakan ini berawal dari laporan warga yang curiga dengan aktivitas warung kopi yang beroperasi sampai dini hari," ujar Bakri, Rabu (11/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat razia berlangsung, petugas mendapati satu warung yang aktivitasnya mencurigakan. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, polisi menemukan dugaan praktik prostitusi yang dilakukan oleh pramusaji warung tersebut.
"Petugas kemudian mengamankan dua perempuan yang diduga menawarkan layanan hubungan seksual kepada pelanggan," jelasnya.
Kedua perempuan yang diamankan masing-masing berinisial SU (52), warga Kota Surabaya, dan IM (48), warga Temanggung, Jawa Tengah. Dari hasil pemeriksaan sementara, keduanya mengaku menawarkan layanan kepada pengunjung dengan tarif tertentu.
"Mereka menawarkan hubungan seksual di kamar yang ada di warung kopi tersebut dengan tarif sekitar Rp 150 ribu," terang Bakri.
Polisi menyebut aktivitas tersebut melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 22 Tahun 2004 tentang Larangan Pelacuran dan Perbuatan Cabul. Saat ini kedua perempuan tersebut masih diamankan untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.
"Kami masih melakukan pendalaman. Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk proses pembinaan," tambahnya.
Di hadapan penyidik, salah satu perempuan berinisial IM mengaku baru menjalani pekerjaan tersebut sekitar satu bulan terakhir. Ia mengaku terpaksa melakukan hal itu karena tekanan ekonomi.
"Baru sekitar satu bulan. Katanya butuh uang untuk pulang kampung," pungkas Bakri.
(auh/abq)
