Pemerkosa Mayat Siswi SMP di Mojokerto Dituntut 15 Tahun Penjara

Pemerkosa Mayat Siswi SMP di Mojokerto Dituntut 15 Tahun Penjara

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Kamis, 14 Sep 2023 17:19 WIB
sidang pembunuhan di mojokerto
Sidang pembunuhan siswi SMP di Pengadilan Negeri Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

M Adi (19), pemerkosa jasad siswi SMPN 1 Kemlagi, Mojokerto dituntut 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Jaksa menilai Adi terbukti turut serta dalam membunuh korban.

Sidang pembacaan tuntutan untuk Adi digelar tertutup di Ruangan Cakara, Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto sekitar pukul 11.30 WIB. Tuntutan dibacakan Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Kota Mojokerto, Ismiranda Dwi Putri.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Husnul Khotimah dijaga ketat polisi. Terdakwa Adi mengikuti sidang secara daring dari Lapas Kelas IIB Mojokerto. Ia didampingi penasihat hukumnya, Nurwa Indah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasi Intelijen Kejari Kota Mojokerto Joko Sutrisno mengatakan JPU menilai Adi terbukti melanggar pasal 80 ayat (3) junto pasal 76C UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Yaitu Adi dinilai terbukti terlibat dalam perencanaan untuk membunuh korban, serta menyetujui dan membiarkan terjadinya pembunuhan tersebut.

"Pasal yang dikenakan 80 ayat (3) junto 76C dengan tuntutan 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan," terangnya kepada wartawan, Kamis (14/9/2023).

ADVERTISEMENT

Dalam persidangan, lanjut Joko, Adi juga mengakui telah memerkosa jasad korban hingga 2 kali. "Dia mengakui menyetubuhi jasad korban 2 kali. Persetubuhan itu dilakukan secara sadar oleh terdakwa," jelasnya.

Ketika sidang perdana, Kamis (31/8/2023), JPU mendakwa Adi dengan 5 pasal alternatif. Yaitu pasal 340 KUHP, pasal 338 KUHP, pasal 80 ayat (3) UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, pasal 365 ayat (4) KHUP, serta pasal 286 KUHP.

Menurut Joko, JPU berpendapat Adi terbukti melanggar Pasal 80 ayat (3) UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. "Pertimbangannya karena korban anak sehingga memakai undang-undang Perlindungan Anak," tandasnya.

AE (15) dibunuh teman satu kelasnya, AB warga Desa/Kecamatan Kemlagi, Mojokerto pada Senin (15/5/2023) sekitar pukul 19.00 WIB. Pelaku mencekik siswi kelas 3 SMP itu hingga tewas di tengah sawah. Lokasi pembunuhan sekitar 200 meter di sebelah selatan rumah pelaku.

Pembunuhan ini dipicu sakit hati AB dengan korban. Penyebabnya sepele, pelaku dibangunkan oleh korban saat tertidur di kelas, lalu ditagih untuk membayar iuran kelas yang menunggak 2 bulan Rp 40.000. AB merencanakan pembunuhan tersebut bersama temannya, Mochammad Adi (19).

Tidak hanya itu, Adi yang merupakan warga Desa Mojowatesrejo, Kemlagi tega menyetubuhi jasad AE hingga 2 kali di rumah AB. Ketika itu, AB keluar untuk membeli tali rafia. Sedangkan rumah tersebut kosong karena khusus untuk memotong dan membersihkan ayam.

Adi dan AB membungkus mayat korban dengan karung plastik warna putih. Mereka mengangkutnya dengan sepeda motor Yamaha X-Ride warna biru nopol S 3736 SO milik AB. Mayat AE mereka buang di parit bawah rel kereta api (KA) Desa Mojoranu, Sooko, Mojokerto sekitar pukul 23.00 WIB.

Setelahnya, AB dan Adi menjual ponsel korban di toko ponsel. Hasil penjualan Rp 1 juta mereka bagi berdua. Sedangkan sepeda motor yang dikendarai korban kala itu, Honda BeAT warna biru putih nopol S 2855 TL dipreteli dan disimpan di rumah AB. Ternyata motor matik itu milik paman korban.

Mayat siswi SMP warga Desa Mojojajar, Kemlagi itu baru ditemukan polisi sebulan kemudian, Selasa (13/6/2023) sekitar pukul 00.30 WIB. Jasad AE bisa ditemukan setelah tim dari Satreskrim Polres Mojokerto Kota meringkus Adi dan AB.

AB ditangkap di Desa Mojodadi, Kemlagi, Senin (12/6/2023) sekitar pukul 21.00 WIB. Sedangkan Adi ditangkap pada hari yang sama setelah menonton pertandingan bola voli di Desa Banjarsari, Jetis, Mojokerto sekitar pukul 23.30 WIB.

AB menjalani sidang lebih dulu di PN Mojokerto karena berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH). Siswa kelas 3 SMPN 1 Kemlagi, Mojokerto ini divonis 7 tahun 4 bulan penjara dan 3 bulan pelatihan kerja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Blitar pada Jumat (14/7/2023).

Pelajar asal Desa/Kecamatan Kemlagi itu terbukti melakukan tindak pidana pasal 80 ayat (3) junto pasal 76C UU RI nomor 35 tahun 2014. Yaitu membunuh AE yang tergolong anak di bawah umur. AB merupakan teman satu kelas korban. Sidang sempat diwarnai keributan karena keluarga korban tak terima dengan vonis hakim.




(abq/iwd)


Hide Ads