Pengacara Bakal Hadirkan Saksi Meringankan di Kasus Mas Bechi

Pengacara Bakal Hadirkan Saksi Meringankan di Kasus Mas Bechi

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Senin, 12 Sep 2022 18:10 WIB
kuasa hukum mas bechi i gede pasek suardika
Ketua tim pengacara Mas Bechi, Gede Pasek Suardika (Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)
Surabaya -

Sidang keterangan saksi perkara dugaan pemerkosaan santriwati di Ponpes Shiddiqiyyah Jombang oleh terdakwa Mochamad Subchi Anzal Tsani (42) alias Mas Bechi di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya kembali digelar. Ada 3 saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU).

Ketua Tim Penasihat Hukum Mas Bechi, Gede Pasek Suardika mengatakan ada 3 saksi fakta atau ahli dari pihak JPU. Menurutnya, ada kejanggalan dalam keterangan ahli medis kali ini dalam keterangan dan fakta persidangan membuktikan, isi dari kesaksian ahli ada 2 visum.

"Benar, karen ada koreksi ada 2 visum robekan ke 13, 6, 9 sampai dasar. Ada foto organ intim korban," kata Gede di PN Surabaya, Senin (12/9/2022).

Gede menegaskan, hal tersebut justru menjadi perdebatan dalam sidang. Karena, saksi korban saat bersaksi mengaku tidak pernah difoto. Namun, saksi ahli menyatakan sudah izin untuk foto.

Lalu, pihak Gede mengaku langsung mempertanyakan hak atau kepemilikan produk foto itu. Kemudian, ia meminta salinan bukti itu.

"Itu milik yang bersangkutan atau bagaimana? Saya minta filenya, kata saksi korban dihapus, di foto ada tulisan nomor HP Samsung S10. Lalu, kami sebut datangkan ahli digital forensik untuk mengetahui data itu sungguhan ada dan diambil saat visum atau tidak. Tapi, dia (ahli) bilang HP hilang. Jadi, susah mengejar alasan lupa dan hilang. Lupa, dihapus, lalu hilang," ujarnya.

Gede menjelaskan, sulit untuk memverifikasi validitas rekam medik. Terutama, terkait keabsahan durasi sejak dulu atau baru. Gede lantas menyatakan keterangan ahli, saksi korban, dan saksi lain tak sinkron satu sama lain.

"Foto organ intim itu punya siapa? saat itu atau setelah itu, belum tahu. Padahal, saksi mengaku tidak pernah diambil fotonya. Sudah tanya lebih awal sebelum saks, jadi gak sinkron. Saksi kedua validitas visum 2018. SOP bikin visum bagaimana?," terangnya.

"Harus ada korban ke polisi, polisi bikin surat, lalu korban kan lapor Oktober 2019, nah visum Agustus 2018, sedangkan korban lapor setahun lebih awal, alasannya karena dokter yang bawa," imbuhnya.

Gede menilai dalam hal ini, dokter tak mengetahui teknis. Termasuk, Pro Justitia bahwa korban di visum pasca melapor lantaran rujukan Pro Justitia. Ia mengeluhkan perihal keterangan saksi yang kerap menyebut tidak tahu dan lupa. Baik keterangan dalam BAP, mau pun saat sidang.

"Jangan dong langsung sedikit-sedikit lupa, gak ingat, langsung dihapus gitu itu kan penghilangan jejak yang memastikan rekayasanya. Foto itu kan ada jejaknya, itu yg kami dapatkan," tutur Gede.

"Standarisasi visum itu memang harus dengan foto itu nggak ada, itu inisiatif. Silakan dinilai sendiri, visum kan alat bukti surat, jadi kalau gak memenuhi asas validitas biasanya ahli hukum pidana ya diabaikan, karena bukan cuma formal," sambungnya.

Gede menyebut pihaknga bakal menghadirkan sekitar 15 hingga 20 saksi a de charge (saksi yang meringankan terdakwa) dalam BAP. Nantinya, para saksi akan dihadirkan pada pekan depan.

"Ada 15 sampai 20 saksi yang kami hadirkan karena penggalan cerita. Santri dan macam-macam, yang penting menjawab peristiwa itu. Kalau bicara kasus di sini, dakwaannya apa, kan ada kronologis dan itu fakta atau nggak. Kalau fakta ya bisa didakwakan, kalau bukan fakta ya downgrade," tutupnya.



Simak Video "Pendukung Mas Bechi Ricuh di Pengadilan, Serang Kamera Wartawan"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/fat)