Isu Dukun Cabul Paksa Warga Tutup Praktik Pengobatan Alternatif di Mojokerto

Tim detikJatim - detikJatim
Selasa, 16 Agu 2022 06:33 WIB
Warga mencopot banner dan menutup paksa tempat praktik pengobatan alternatif di Mojokerto
Warga menutup paksa praktik pengobatan alternatif di Mojokerto gegara isu pelecehan seksual. (Foto: Istimewa)
Mojokerto -

Praktik pengobatan alternatif di Desa Jerukseger, Gedeg, Mojokerto ditutup paksa oleh warga. Pelaku pengobatan yang berinisial DN dituding melakukan pelecehan terhadap 2 pasien perempuan.

DN membuka praktik pengobatan alternatif di Dusun Penjalinwakul, Desa Jerukseger baru sekitar 3 bulan. Ia mengobati segala macam penyakit di lokasi itu dengan cara memijat.

"Pengobatan alternatif ini terapi pijat. Di sini kontrak setahun, baru ditempati 3 bulan," kata SM (57), warga Dusun Penjalinwakul kepada wartawan di lokasi, Senin (15/8/2022).

Bersama istrinya, DN yang berasal dari Jawa Tengah itu mengontrak rumah salah seorang warga setempat. Namun setelah 3 bulan tinggal dan buka praktik di sana, ia diisukan telah mencabuli 2 pasiennya.

SM menjelaskan, DN diduga melakukan pelecehan seksual terhadap 2 perempuan warga Dusun Penjalinwakul. Kedua pasien itu masih keluarganya. Sang Ibu berusia 50 tahun, sedangkan putrinya 29 tahun.

Pelecehan itu diduga dilakukan DN saat melakukan terapi pijat kepada kedua korban yang mana penyakit yang mereka derita tak kunjung mereda meski sudah sebulan lebih menjalani terapi.

"Ibunya ikut terapi pijat, dipijat di dalam kamar, pintunya ditutup. Anaknya pernah diobati selama 10 hari di kontrakan itu, diinapkan," jelas SM.

Terduga korban lantas mengadukan perbuatan DN kepada suaminya. Suami korban melaporkan DN ke pemerintah Desa Jerukseger. Isu dukun cabul pun segera menyebar luas pada Minggu (14/8) malam.

Warga yang geram beramai-ramai mendatangi tempat praktik DN malam itu juga pukul 21.00 WIB. Untung saja pemerintah desa dan polisi sudah mengamankan DN dan istrinya.

Pria yang mengenalkan diri sebagai Mbah DN dan istrinya diamankan dari amuk massa di Mapolsek Gedeg. Warga pun menutup paksa dan melepas semua banner di tempat praktik pengobatan alternatif itu.

"Korban lapor ke pemerintah desa dan Bhabinkamtibmas kalau terjadi pelecehan. Lalu warga berkumpul di rumah adik saya sebagai korban. Anak-anak muda pada tahu, ikut kumpul. Kemudian digeruduk sekitar jam 9 malam," ungkap SM.

Kepala Desa Jerukseger Habib Wahyudi membenarkan adanya aksi warga menggeruduk DN dan melakukan penutupan paksa. Menurut Habib, dugaan pelecehan seksual itu baru sebatas isu.

"Aksi warga karena isu yang belum jelas. Cuma indikasi awal isu yang diangkat pelecehan (di tempat pengobatan) alternatif, tapi subjektif. Ini tadi sifatnya melapor ke lingkungan sehingga ada gerakan," terangnya.

Tak hanya ditutup paksa, tapi juga diusir. Baca di halaman selanjutnya.