Warga Usir Pemilik Pengobatan Alternatif di Mojokerto yang Diduga Cabuli Pasien

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Senin, 15 Agu 2022 19:57 WIB
Situasi terkini tempat praktik pengobatan alternatif di Mojokerto yang ditutup paksa oleh warga
Lokasi terkini tempat praktik pengobatan alternatif setelah ditutup paksa warga, pemilik diusir. (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Praktik pengobatan alternatif di Desa Jerukseger, Gedeg, Mojokerto ditutup paksa warga setempat. Pemilik berinisial DN dan mengenalkan diri sebagai Mbah DN disebut melakukan pelecehan terhadap 2 pasien perempuan. Selain tempat praktiknya ditutup, DN juga diusir dari kampung itu.

Kepala Desa Jerukseger Habib Wahyudi membenarkan adanya aksi warga menutup paksa sebuah tempat praktik pengobatan alternatif di Dusun Penjalinwakul karena adanya dugaan pelecehan seksual oleh DN. Meski demikian, Habib menyebut dugaan itu baru sebatas isu.

"Aksi warga karena isu yang belum jelas itu. Cuma indikasi awal isu yang diangkat pelecehan (di tempat pengobatan) alternatif, tapi subjektif. Ini tadi sifatnya melapor ke lingkungan sehingga ada gerakan," terangnya kepada wartawan, Senin (15/8/2022).

Mengenai isu dukun cabul yang dialamatkan kepada DN itu, kata Habib, telah diselesaikan melalui mediasi di Polsek Gedeg, Mojokerto kemarin malam. Tujuannya untuk mencegah amuk massa. Dalam mediasi itu warga telah sepakat untuk mengusir DN dan istrinya dari Dusun Penjalinwakul.

"Kesepakatannya (DN) bersedia pindah dari lingkungan. Pelecehan itu baru sebatas isu karena korban sendiri tidak mau melaporkan. Sehingga tidak bisa ditindaklanjuti," tegasnya.

Pengobatan alternatif milik DN itu terletak di Dusun Penjalinwakul, Desa Jerukseger. DN baru 3 bulan membuka praktik pengobatan alternatif untuk segala macam penyakit di lokasi itu. Bersama istrinya, pria asal Jawa Tengah itu mengontrak rumah salah seorang warga setempat.

"Pengobatan alternatif ini terapi pijat. Di sini kontraknya setahun, baru ditempati 3 bulan," kata SM (57), warga Dusun Penjalinwakul kepada wartawan di lokasi.

SM menjelaskan bahwa warga DN diduga melakukan pelecehan seksual terhadap 2 pasien perempuan warga Dusun Penjalinwakul. Kedua pasien itu adalah keluarga SM. Sang Ibu berusia 50 tahun, sedangkan putrinya berusia 29 tahun.

Pelecehan itu diduga dilakukan DN saat melakukan terapi pijat kepada kedua korban. Tak hanya itu, penyakit yang mereka derita tidak mereda meski sudah sebulan lebih menjalani terapi.

"Ibunya ikut terapi pijat, dipijat di dalam kamar. Pintunya ditutup. Anaknya pernah diobati selama 10 hari di kontrakan itu, diinapkan," jelasnya.

Korban lantas mengadukan perbuatan DN kepada suaminya. Sehingga suami korban langsung melaporkan DN ke pemerintah Desa Jerukseger. Isu dukun cabul pun dengan cepat menyebar di Dusun Penjalinwakul pada Minggu (14/8) malam.

Warga beramai-ramai mendatangi tempat praktik DN Minggu malam pukul 21.00 WIB. Beruntung pemerintah desa setempat dan polisi berhasil mengamankan DN dan istrinya ke Mapolsek Gedeg dari amuk massa.

Warga yang berang akhirnya menutup paksa pengobatan alternatif itu dengan melepas semua banner yang ada di lokasi.

"Korban lapor ke pemerintah desa dan Bhabinkamtibmas kalau terjadi pelecehan. Kemudian warga berkumpul di rumah adik saya sebagai korban. Anak-anak muda pada tahu, ikut berkumpul. Kemudian digeruduk sekitar jam 9 malam," ungkap SM.



Simak Video "Kasus Dukun Cabul di Yogyakarta, Polisi Periksa 2 Saksi"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)