Menanti Investigasi IDI-IBI Jatim Soal Kasus Ibu Dipaksa Lahiran Normal

Menanti Investigasi IDI-IBI Jatim Soal Kasus Ibu Dipaksa Lahiran Normal

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Senin, 08 Agu 2022 21:21 WIB
rsud jombang
RSUD Jombang. (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Jombang -

Polisi telah menyerahkan hasil pemeriksaan 11 saksi dalam kasus Rohma Roudotul Jannah (29) yang diduga dipaksa lahiran normal di RSUD Jombang hingga berujung bayinya meninggal kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jatim. Kelanjutan kasus ini menunggu hasil analisis dan investigasi organisasi profesi itu.

Pemeriksaan 11 saksi digelar di Satreskrim Polres Jombang pada Rabu dan Kamis pekan lalu. Para saksi terdiri dari suami Rohma, Yopi Widianto (26), Kepala Puskesmas Sumobito dr Hexawan Tjahya Widada, 2 bidan Puskesmas Sumobito, 3 dokter spesialis kandungan RSUD Jombang, serta 4 bidan RSUD Jombang.

Polisi telah mengirimkan hasil pemeriksaan para saksi kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jatim pada Jumat (5/8). Di lain sisi, dua organisasi profesi itu juga menggelar investigasi terhadap kasus persalinan Rohma.

"Kami memeriksa terkait SOP, penanganan tindakan medisnya, pengambilan keputusan terhadap tindakan-tindakan itu. Kemudian kami sampaikan hasilnya kepada IDI dan IBI. Mereka juga punya kewenangan untuk melakukan investigasi terkait tindakan-tindakan medis si dokter dan si bidan," kata Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Giadi Nugraha kepada detikJatim, Senin (8/8/2022).

Penyelidikan oleh polisi akan dilanjutkan setelah IBI dan IDI Jatim menuntaskan analisis dan investigasi kasus persalinan Rohma di RSUD Jombang. Menurut Giadi, pihaknya akan mengundang perwakilan IDI Jatim dan IBI Jatim untuk dimintai keterangan sebagai saksi ahli dalam kasus ini.

"Nanti dari hasil kami, hasil IDI dan IBI, kemudian IDI dan IBI menunjuk salah satu perwakilannya untuk memberikan keterangan sebagai ahli kepada kepolisian, memberikan hasil analisis dan investigasi yang dituangkan dalam berita acara sebagai saksi ahli," jelasnya.

Giadi menegaskan, kewenangan untuk menyimpulkan ada atau tidaknya unsur pidana dalam kasus persalinan Rohma di RSUD Jombang tetap berada di tangan kepolisian.

"IDI dan IBI kan tidak boleh menyimpulkan tidak ada unsur pidana. IDI dan IBI kan nanti menyatakan tindakannya ini apa, medis ini, prosedurnya, yuridisnya, pertimbangannya. Secara kode etik dokter lo ya. Yang menyimpulkan nanti ada pidana atau tidak tetap kepolisian," tegasnya.

Setelah menerima keterangan saksi ahli dari IDI dan IBI Jatim, kata Giadi, barulah Satreskrim Polres Jombang akan melakukan gelar perkara kasus persalinan Rohma.

"Dari hasil analisis IBI dan IDI itu nanti kami konstruksikan masuk ga sih ke pidana. Bisa jadi IBI dan IDI bilang salah, tapi belum tentu mengarah ke pidana. Wong dia punya kode etik. Bisa juga dua-duanya kena (etik dan pidana). Makanya kami tidak mau menilai hal ini secara sepihak, kami juga tidak mempunyai kompetensi itu. Saya punya temuan, dia juga punya temuan, lalu duduk bersama," tandasnya.

Sebelumnya, Rohma menjalani persalinan normal di RSUD Jombang pada Kamis (28/7). Ia sempat beberapa kali meminta agar dioperasi caesar ke petugas medis yang menanganinya. Karena sejak awal Rohma merasa tidak mampu melahirkan secara normal.

Namun, tim medis RSUD Jombang tidak mengabulkan permintaan Rohma. Karena hasil pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan ia dalam kondisi baik. Posisi kepala janin sudah di pangkal pinggul. Selain itu, pembukaan jalan lahirnya juga lancar.

Dokter spesialis kandungan yang menanganinya saat itu menilai Rohma justru berisiko mengalami pendarahan jika menjalani operasi caesar. Karena ketika itu ia mengalami preeklamsia yang salah satunya ditandai dengan tekanan darah tinggi 140/90.

Kekhawatiran Rohma pun terjadi karena persalinan normal tidak berjalan lancar. Sehingga tim medis RSUD Jombang menggunakan alat vakum untuk menyedot bayi. Namun, saat itu hanya kepala bayi yang bisa lahir. Sedangkan bahu bayi tersangkut atau mengalami distosia bahu sehingga tubuh bayi tidak bisa keluar.

Bayi perempuan yang dikandung Rohma selama 9 bulan akhirnya meninggal saat tim dokter spesialis kandungan berupaya menangani distosia bahu. Tim dokter terpaksa memisahkan kepala dari tubuh bayi untuk menyelamatkan Rohma. Selanjutnya, tubuh bayi dikeluarkan melalui operasi caesar.

Kasus persalinan Rohma yang berujung kematian bayi itu diselidiki Satreskrim Polres Jombang sejak Selasa (2/8). Polisi menindaklanjuti laporan suami Rohma, Yopi pada Senin (1/8) sore.



Simak Video "Akhir Pelarian Ayah di Jombang Usai Tabrak Lari Anak Sendiri"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)