Perawat Jual Obat Bekas Pasien COVID-19 di Surabaya Divonis 16 Bulan Penjara

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Senin, 23 Mei 2022 16:13 WIB
Perawat Jual Obat Bekas Pasien COVID-19 Divonis 16 Bulan Penjara
Sidang di PN Surabaya (Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)
Surabaya -

Shaylla Novita Sari, terdakwa penjualan obat bekas pasien COVID-19 salah satu RS di Surabaya Barat, divonis 1 tahun 4 bulan penjara. Sidang vonis ini digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya Ruang Tirta 2, Senin (23/5/2022).

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, I Ketut Suarta memvonis Shaylla lebih ringan 2 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Hari Basuki. Dalam persidangan itu, Shaylla menjalani sidang bersama terdakwa lain, yakni Muchamad Wahyudi, Roni Harly dan Eric Angga (Masing-masing dalam berkas tersendiri).

"Terdakwa Shaylla Novita Sari terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dalam pasal 196 UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun 4 bulan," kata Ketut saat membacakan amar putusannya di Ruang Tirta 2.

Mendengar hal itu, JPU Hari Basuki menyatakan pikir-pikir dengan putusan itu. Mengingat, tuntutan yang disampaikannya adalah 1 tahun 6 bulan.

"Kami menunggu mereka (pihak terdakwa), kalau banding ya saya banding," ujarnya saat dikonfirmasi detikJatim.

Hal senada disampaikan kuasa hukum terdakwa, Arif Budi Prasetijo. Namun, dia sempat mengeluhkan jaringan telepon seluler saat sidang secara daring kala itu. Sebab, kliennya tidak bisa mendengar secara jelas putusan yang disampaikan majelis hakim.

"Kami pikir-pikir dengan putusan tersebut," tuturnya.

Kasus ini bermula saat Shaylla Novita Sari dan suaminya, Muchamad Wahyudi, menjual obat bekas pasien COVID-19, tahun 2021. Saat itu jumlah kasus aktif virus COVID-19 sedang tinggi-tingginya.

Wanita yang bekerja sebagai perawat sejak 2010 itu mengaku mulanya dimintai tolong melalui suaminya oleh terdakwa Eric. Sebab, saudara Eric terjangkit COVID-19 dan kritis.

"Saat itu, ada pasien atas nama Tuan Tjahan, obat tersebut belum sempat digunakan dikarenakan pasien sudah meninggal dunia. Oleh keluarga pasien, barang-barang tidak ada yang diambil, termasuk obat actemra, lalu obat tersebut saya amankan," kata Shaylla saat sidang.

Singkat cerita, keduanya melakukan transaksi dan mendapat uang Rp 40 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli perhiasan berupa cincin, sepeda motor dan keperluan sehari-hari.

"Setelah 1 bulan, saya dipanggil pimpinan RS. Seharusnya obat actemra tidak dijual bebas dan harus ada resep dokter. Terkait permasalahan ini, saya merasa bersalah dan menyesal," ujarnya.

Atas perbuatannya, para terdakwa dijerat dengan Pasal 196 UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



Simak Video "BPOM Beri Izin Paxlovid Jadi Obat Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)