Bendahara Koruptor Dana Desa di Blitar yang Buron 2 Tahun Tertangkap

Erliana Riady - detikJatim
Senin, 21 Mar 2022 14:25 WIB
Bendahara desa ditangkap usai dua tahun buron
Bendahara desa di Blitar berkerudung hitam dan bercadar (Foto: Erliana Riady/detikJatim)
Blitar -

Setelah dua tahun menjadi buron kasus korupsi, seorang bendahara desa di Blitar ditangkap polisi di Malang. Tersangka diamankan petugas saat hendak memalsukan identitas.

Polresta Blitar menangkap Yesi Ertawati (41), bendahara Desa Tuliskriyo Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar di Malang. Tersangka diamankan petugas ketika mencoba mengubah penampilan dan membuat identititas palsu di Dukcapil Malang.

"Tersangka berusaha memalsukan identitas dan menggunakan cadar. Namun bisa kami deteksi dari biometrik mata saat membuat KTP baru di Dukcapil Malang sehingga bisa kami amankan di Kota Malang," jelas Kapolresta Blitar AKBP Argowiyono saat rilis di Mapolresta Blitar, Senin (21/3/2022).

Ibu tiga anak ini dulunya menjabat sebagai bendahara desa. Dengan kewenangan yang dimiliki, ia sengaja melakukan penyimpangan pengelolaan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) TA 2018. Tersangka merealisasikan atau menggunakan anggaran tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Tersangka juga tidak dapat mempertanggungjawabkan penggunaan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) TA 2018 sehingga mengakibatkan kerugian keuangan negara atau daerah.

Pada tahun 2018, Desa Tuliskriyo menerima pagu anggaran DD dan ADD TA 2018. Tahap I diterima di rekening kas desa bulan April 2018. Kemudian DD dan ADD Tahap II diterima di rekening kas desa bulan Juli 2018 dengan total anggaran Rp 797.107.400.

Anggaran tersebut seharusnya direalisasikan sesuai dengan pagu anggaran di Peraturan Desa Tuliskriyo Nomor 1 tahun 2018 tentang APBDesa TA 2018.

"Namun oleh tersangka yang direalisasikan sesuai APBDes hanya beberapa kegiatan tahap I saja yaitu sekitar Rp 307.507.250. Sedangkan untuk sisa anggaran sebesar Rp 489.600.150, oleh tersangka tidak direalisasikan sesuai APBDes," beber Argo.

Namun di depan petugas, tersangka menyangkal semua sangkaan tersebut. Dia berdalih, semua yang disangkakan sebagai tindakan korupsi itu, uangnya tidak digunakan untuk keperluan pribadinya. Melainkan atas perintah kades, yang diperiksa Kejari Blitar atas sangkaan korupsi DD pada tahun 2017.

"Saya tidak memakai uang itu. Semua yang saya lakukan, atas perintah dan tanda tangan kades untuk menutup kebocoran ADD tahun 2017. Saat itu pak kades dipanggil kejaksaan, sehingga saya ambilkan dari ADD 2018. Biar nanti fakta di persidangan yang membuktikannya," kata Yesi dengan tegas.

Yesi juga membantah jika dikatakan melarikan diri. Pengakuannya, dia diajak suaminya menjual tanah suaminya di Berau, Kaltim. Namun seperti pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Yesi malah ditelantarkan suaminya saat baru melahirkan anak ketiga mereka. Lalu sang suami menikah dengan wanita lainnnya tahun 2019 lalu.

"Dengan membawa tiga anak kami, saya balik ke Jawa dan mencari kontrakan di Malang. Saya tidak bermaksud melarikan diri," ujarnya.

Polisi masih mengembangkan penyidikan kasus ini. Kades Tuliskriyo juga telah dimintai keterangan dengan status sebagai saksi.

Sementara Yesi akan dijerat dengan Pasal 8 Undang-Undang No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ancaman pidananya paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun penjara.



Simak Video "Eks Kades di Bandung Diciduk Usai Korupsi Dana Desa Rp 800 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(hil/iwd)