Sejarah Hari Jadi Sumenep yang Berawal dari Arya Wiraraja

Sejarah Hari Jadi Sumenep yang Berawal dari Arya Wiraraja

Myesha Fatina Rachman - detikJatim
Kamis, 29 Okt 2026 16:30 WIB
Wisatawan menikmati keindahan arsitektur dan sejarah di Keraton Sumenep, salah satu ikon budaya Madura, Selasa (3/12/2024).
Wisatawan menikmati keindahan arsitektur dan sejarah di Keraton Sumenep, salah satu ikon budaya Madura. Foto: Hilalia Kani Juliana
Surabaya -

Setiap 31 Oktober, Kabupaten Sumenep memperingati hari jadinya. Tanggal tersebut merujuk pada pengangkatan Arya Wiraraja sebagai adipati pertama Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269.

Perjalanan sejarah Sumenep berlangsung panjang, mulai dari masa kerajaan, pergantian penguasa, hingga menjadi bagian dari Republik Indonesia. Jejak masa lalu tersebut masih dapat ditelusuri melalui kisah para tokoh dan peninggalan bangunan bersejarah yang bertahan hingga kini.

Asal-usul Nama Sumenep

Dikutip dari laman DPRD Sumenep, nama Sumenep dipercaya berasal dari bahasa Kawi atau Jawa Kuno, yakni Songenep. Nama tersebut terdiri atas dua kata, yaitu sung yang berarti relung, cekungan, atau lembah, serta eneb yang berarti endapan yang tenang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gabungan kedua kata tersebut dimaknai sebagai lembah atau cekungan yang tenang. Seiring berjalannya waktu, penulisan Songenep mengalami perubahan hingga menjadi Sumenep seperti yang dikenal saat ini.

Penetapan 31 Oktober sebagai HUT Sumenep

Melansir laman Kabupaten Sumenep, penetapan 31 Oktober sebagai hari jadi Sumenep berkaitan dengan pengangkatan Arya Wiraraja atau Banyak Wide sebagai adipati di Madura Timur. Ia dikenal sebagai penasihat Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari yang berperan memberikan pertimbangan politik kepada sang raja.

ADVERTISEMENT

Dalam kisah yang tercatat di Kitab Pararaton, Arya Wiraraja pernah memberikan saran kepada Kertanegara terkait rencana penyerangan ke Kerajaan Sriwijaya. Ia juga mengingatkan raja agar mengantisipasi kemungkinan serangan dari bangsa Tartar.

Namun, saran tersebut disebut membuat Kertanegara marah. Arya Wiraraja kemudian dijauhkan dari pusat pemerintahan dan diangkat menjadi adipati di wilayah Madura Timur, yang kini dikenal sebagai Sumenep. Pengangkatannya pada 31 Oktober 1269 kemudian menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Sumenep.

Setelah memimpin Sumenep, Arya Wiraraja dikenal memiliki kecakapan dalam menyusun strategi. Ia juga berperan dalam berdirinya Kerajaan Majapahit bersama Raden Wijaya.

Dalam kisah sejarah yang berkembang, nama Songenep turut dikaitkan dengan penyingkirannya dari pusat pemerintahan Singasari. Setelah meninggalkan Sumenep untuk menjalankan tugas di wilayah Lumajang, kekuasaan di Sumenep diteruskan oleh Arya Bangah.

Perkembangan Kerajaan Sumenep

Setelah masa pemerintahan Arya Wiraraja, Kerajaan Sumenep mengalami pergantian penguasa dari generasi ke generasi. Terdapat 35 raja yang disebut pernah memimpin Kerajaan Sumenep sebelum sistem pemerintahan berubah menjadi kabupaten.

Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah Kerajaan Sumenep adalah Pangeran Jokotole atau Pangeran Secodiningrat III. Ia tercatat sebagai raja Sumenep ke-13 yang memerintah pada 1415-1460.

Kisah Jokotole berkembang dalam tradisi masyarakat setempat. Ia dikenal melalui cerita tentang kemampuannya membuat perkakas serta keterlibatannya dalam pembangunan pintu gerbang besar pada masa Majapahit. Setelah kembali ke Sumenep, Jokotole menjadi raja dan melanjutkan pemerintahan kerajaan.

Pada masa berikutnya, muncul tokoh Raden Ayu Tirtonegoro yang dikenal sebagai satu-satunya perempuan yang pernah memimpin pemerintahan Kerajaan Sumenep. Ia kemudian menikah dengan Bindara Saod, yang turut berperan dalam pergantian kepemimpinan kerajaan.

Setelah Bindara Saod dan Raden Ayu Tirtonegoro wafat pada 1762, Somala naik takhta dengan gelar Panembahan Notokusumo I. Masa pemerintahannya menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Sumenep karena ditandai dengan pembangunan sejumlah bangunan yang masih dikenal hingga sekarang.

Peninggalan Sejarah pada Masa Panembahan Somala

Pada masa pemerintahan Panembahan Notokusumo I, Sumenep mengalami perkembangan yang ditandai dengan pembangunan sejumlah bangunan penting. Salah satunya adalah Keraton Sumenep, yang kini berfungsi sebagai Pendopo Kabupaten Sumenep.

Selain itu, ia membangun Masjid Jamik Sumenep pada 1763 dan Asta Tinggi, kompleks pemakaman raja-raja Sumenep. Bangunan-bangunan tersebut menjadi bagian dari warisan sejarah kerajaan yang masih dapat dikenali hingga kini.

Peninggalan tersebut memperlihatkan hubungan antara pemerintahan, kehidupan keagamaan, dan tradisi masyarakat Sumenep pada masa lalu.

Selain meninggalkan bangunan bersejarah, masa kerajaan Sumenep juga melahirkan tokoh yang dikenal karena pengetahuannya. Salah satunya adalah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, putra Panembahan Notokusumo I. Ia dikenal menguasai sejumlah bahasa, termasuk Sanskerta dan Kawi.

Sultan Abdurrahman juga pernah membantu Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles menerjemahkan tulisan-tulisan kuno ke dalam bahasa Melayu. Kemampuannya tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah intelektual Sumenep.

Sumenep pada Masa Kolonial hingga Kemerdekaan

Seiring perkembangan zaman, Sumenep berada di bawah pengaruh kolonial Belanda dan menjadi bagian dari Hindia Belanda. Perubahan kekuasaan tersebut turut memengaruhi kehidupan politik dan perdagangan di wilayah Madura.

Pada awal abad ke-20, semangat nasionalisme mulai berkembang di Madura. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Sumenep menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Pada 1950, Sumenep tercatat sebagai wilayah administratif di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur. Sejak itu, sistem pemerintahan daerah terus berkembang. Kepemimpinan yang sebelumnya berada di tangan raja beralih menjadi pemerintahan kabupaten yang dipimpin oleh bupati.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads