Sumenep merupakan salah satu kabupaten di Pulau Madura yang dikenal dengan julukan Kota Keris. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Sumenep memiliki tradisi pembuatan keris yang diwariskan secara turun-temurun, didukung keberadaan para empu dan perajin yang masih mempertahankan keterampilan mereka hingga kini.
Keris yang dihasilkan masyarakat Sumenep tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional, tetapi juga memiliki nilai seni, filosofi, dan budaya. Keberadaan industri keris bahkan menjadi bagian dari ciri khas daerah sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.
Mengapa Sumenep Dijuluki Kota Keris?
Salah satu alasan julukan tersebut adalah keberadaan ratusan perajin keris yang tersebar di sejumlah kecamatan. Berikut penjelasan mengenai sejarah, serta kerajinan, hingga nilai budaya keris di Sumenep yang membuatnya dijuluki Kota Keris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Memiliki Banyak Empu dan Perajin Keris
Salah satu alasan utama Sumenep dijuluki Kota Keris adalah keberadaan banyak empu dan perajin yang menekuni pembuatan keris. Berdasarkan jurnal "Estetika Kota Keris Sumenep dalam Perspektif Pendidikan", terdapat sekitar 565 perajin keris yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Bluto, Saronggi, dan Lenteng.
Jumlah tersebut menunjukkan besarnya peran masyarakat dalam mempertahankan tradisi pembuatan keris di Sumenep. Keterampilan para perajin mencakup proses pembuatan bilah hingga pengerjaan bagian keris yang memiliki nilai estetika.
Keberadaan para empu juga menjadi faktor dalam keberlanjutan tradisi ini. Pengetahuan mengenai teknik penempaan, bentuk, dan ragam hias keris diwariskan dari generasi ke generasi sehingga tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
2. Sentra Kerajinan Keris di Desa Aeng Tong-tong
Desa Aeng Tong-tong di Kecamatan Saronggi merupakan salah satu sentra pembuatan keris di Sumenep. Desa ini dikenal sebagai tempat para perajin menghasilkan keris dengan beragam bentuk dan karakteristik.
Berdasarkan buku "Karakteristik Keris Sumenep", tradisi pembuatan keris di Aeng Tong-Tong telah berlangsung sejak lama. Cerita masyarakat setempat mengaitkan awal tradisi tersebut dengan Pangeran Bukabu dan seorang empu pembuat keris.
Kerajinan keris pun terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa hingga kini. Keterampilan tersebut tidak hanya dipertahankan perajin yang lebih tua, tetapi juga diteruskan kepada generasi muda. Industri keris di Aeng Tong-tong turut menjadi sumber penghasilan masyarakat.
3. Keris Menjadi Warisan Budaya yang Diakui UNESCO
Keris merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan seni tinggi. Keris Indonesia telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2005.
Keris tidak hanya dinilai dari bentuk fisiknya, tetapi dari pengetahuan, keterampilan, dan tradisi yang menyertai proses pembuatanya.
Di Sumenep, tradisi perkerisan menjadi bagian dari ciri khas masyarakat. Keberadaan para empu dan perajin memperlihatkan bagaimana warisan budaya tersebut terus dipraktikkan dan diwariskan.
4. Keris Memiliki Nilai Seni dan Filosofi
Keris memiliki bentuk dan ragam hias yang mencerminkan keterampilan pembuatnya. Nilai seni tersebut terlihat pada bilah, pola pamor, hulu, hingga warangka atau sarung keris. Selain keindahan bentuknya, keris mengandung nilai filosofi dan spiritual yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat.
Keris memiliki beragam bentuk yang masing-masing dikaitkan dengan pemaknaan tertentu. Dalam tradisi perkerisan, bilah lurus kerap dimaknai sebagai simbol keteguhan hati dan kekuatan iman. Sementara itu, bilah berkelok atau luk memiliki makna yang beragam, bergantung pada tradisi dan penafsirannya.
5. Keris Menjadi Potensi Wisata Sumenep
Julukan Kota Keris juga menjadi bagian dari identitas lokal Sumenep. Kerajinan keris memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat, sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan wisata berbasis budaya.
Keberadaan sentra kerajinan seperti Desa Aeng Tong-Tong menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin mengenal proses pembuatan keris dan keterampilan para perajin. Selain nilai budaya, industri keris juga berpotensi mendukung perekonomian masyarakat melalui kegiatan produksi, perdagangan, dan pariwisata.
