- Daftar Tradisi Unik Jawa Timur 1. Seblang Olehsari, Ritual Adat Masyarakat Osing Banyuwangi 2. Larung Sembonyo, Tradisi Sedekah Laut di Trenggalek 3. Kebo-keboan, Ritual Memohon Kesuburan di Banyuwangi 4. Tumpeng Sewu, Tradisi Syukur Masyarakat Osing 5. Selamatan Ketupat dan Serabi, Tradisi Tolak Bala di Bondowoso 6. Keduk Beji, Tradisi Menjaga Sumber Air di Ngawi 7. Dam Bagong, Tradisi Larung Kepala Kerbau di Trenggalek
Jawa Timur memiliki beragam tradisi dan upacara adat yang diwariskan secara turun temurun. Setiap tradisi menyimpan makna tersendiri, mulai dari ungkapan rasa syukur atas hasil panen, penghormatan kepada leluhur, hingga doa untuk keselamatan masyarakat.
Selain Reog Ponorogo dan Karapan Sapi yang sudah cukup dikenal, ada sejumlah tradisi lain yang tak kalah menarik untuk diketahui. Tradisi-tradisi tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Daftar Tradisi Unik Jawa Timur
Setiap daerah di Jawa Timur memiliki tradisi khas dengan nama, prosesi, dan keunikan masing-masing. Beberapa di antaranya mungkin belum banyak dikenal, meski masih dilaksanakan oleh masyarakat setempat hingga kini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Seblang Olehsari, Ritual Adat Masyarakat Osing Banyuwangi
Tari Seblang Olehsari Foto: Dokumentasi Humas Pemkab Banyuwangi |
Tari Seblang Olehsari merupakan ritual adat masyarakat Osing di Desa Olehsari, Kabupaten Banyuwangi. Tradisi ini berkaitan dengan bersih desa dan tolak bala atau harapan agar masyarakat terhindar dari marabahaya.
Pelaksanaan Tari Seblang Olehsari dilakukan pada waktu khusus setelah Hari Raya Idul Fitri selama tujuh hari berturut-turut. Penari Seblang dipilih oleh seseorang yang dikenal sebagai pawang.
Dalam prosesi tersebut, penari menari dengan mata terpejam mengikuti iringan gending. Penari juga melemparkan selendang ke arah penonton. Penonton yang terkena lemparan selendang kemudian diajak menari bersama.
2. Larung Sembonyo, Tradisi Sedekah Laut di Trenggalek
Musim Paceklik Ikan, Nelayan Prigi Trenggalek Tetap Gelar Upacara Adat Larung Sembonyo Foto: Adhar Muttaqin |
Larung Sembonyo merupakan tradisi sedekah laut yang dilakukan masyarakat pesisir, khususnya di kawasan Pantai Prigi, Kabupaten Trenggalek. Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur nelayan atas hasil laut sekaligus penghormatan kepada leluhur yang dipercaya telah membuka wilayah tersebut.
Masyarakat juga menggelar upacara ini untuk memohon keselamatan ketika melaut. Prosesi Larung Sembonyo diawali dengan mempersiapkan ubo rampe atau perlengkapan upacara.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan arak-arakan, doa bersama, dan prosesi larung. Tradisi ini menunjukkan eratnya hubungan masyarakat pesisir dengan laut sebagai sumber penghidupan.
3. Kebo-keboan, Ritual Memohon Kesuburan di Banyuwangi
Tradisi Kebo-keboan di Banyuwangi Foto: Eka Rimawati |
Kebo-keboan merupakan tradisi masyarakat Osing di Banyuwangi yang memadukan unsur budaya, spiritualitas, dan rasa syukur atas hasil panen. Dalam pelaksanaannya, sejumlah warga berdandan menyerupai kerbau atau kebo.
Mereka kemudian mengikuti arak-arakan mengelilingi desa dalam rangkaian ritual adat. Tradisi ini berkaitan dengan kehidupan agraris masyarakat setempat. Kerbau memiliki peran penting dalam pertanian karena dahulu digunakan untuk membajak sawah.
Kebo-keboan juga menjadi bagian dari permohonan masyarakat agar terhindar dari malapetaka dan memperoleh hasil panen yang melimpah. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu kekayaan budaya Banyuwangi.
4. Tumpeng Sewu, Tradisi Syukur Masyarakat Osing
Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi Foto: Ardian Fanani |
Tumpeng Sewu merupakan tradisi masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Tradisi ini digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sesuai namanya, tradisi ini melibatkan melibatkan banyak tumpeng yang disiapkan oleh keluarga-keluarga setempat. Setiap keluarga biasanya membuat tumpeng pecel pitik atau tumpeng dengan lauk ayam yang diolah menggunakan bumbu khas.
Pelaksanaannya disebut berlangsung pada bulan Dzulhijjah. Tradisi Tumpeng Sewu memperlihatkan bagaimana makanan tradisional tidak hanya menjadi sajian, tetapi juga memiliki makna sosial dan spiritual bagi masyarakat yang melestarikannya.
5. Selamatan Ketupat dan Serabi, Tradisi Tolak Bala di Bondowoso
Bondowoso memiliki tradisi Selamatan Ketupat dan Serabi yang juga dikenal di sejumlah wilayah lain di Jawa Timur. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk tolak bala, yakni harapan agar masyarakat terhindar dari hal-hal buruk, seperti wabah penyakit atau bencana.
Dalam kepercayaan masyarakat yang menjalankannya, ketupat dan serabi menjadi bagian dari prosesi untuk memohon keselamatan. Salah satu rangkaian tradisinya adalah membuat tujuh buah ketupat dan serabi.
Makanan tersebut kemudian disantap bersama dengan lauk sayur, sebelum kegiatan diakhiri dengan doa keselamatan. Tradisi ini memperlihatkan perpaduan antara makanan khas daerah, kebersamaan warga, dan nilai-nilai kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
6. Keduk Beji, Tradisi Menjaga Sumber Air di Ngawi
Warga Ngawi mempunyai tradisi adat yaitu Keduk Beji. Tradisi ini dilakukan untuk memohon kepada Tuhan agar terhindar dari bencana. Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO |
Keduk Beji merupakan tradisi masyarakat Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi. Tradisi ini berkaitan dengan upaya membersihkan sumber air yang memiliki peran penting bagi kehidupan warga.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat membersihkan kotoran, sampah, dan dedaunan yang terdapat di dalam sumber air. Prosesi juga mencakup penggantian kendi yang berada di dalam goa, penyiraman air legen, serta selamatan.
Keduk Beji biasanya digelar setiap Selasa Kliwon menurut penanggalan Jawa-Islam. Sumber Air Beji sendiri memiliki arti penting bagi masyarakat setempat sehingga kebersihannya perlu dijaga.
Selain menjadi warisan budaya, tradisi ini memperlihatkan hubungan antara adat istiadat dan kepedulian masyarakat terhadap sumber air yang menopang kehidupan sehari-hari.
7. Dam Bagong, Tradisi Larung Kepala Kerbau di Trenggalek
Tradisi Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong Trenggalek Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim |
Selain Larung Sembonyo, Trenggalek juga memiliki tradisi adat yang dikenal sebagai upacara Dam Bagong. Dalam upacara ini, masyarakat mempersembahkan kepala kerbau yang kemudian dilarung ke Dam Bagong.
Prosesi diawali dengan penyembelihan kerbau, sedangkan bagian tubuh lainnya dibagikan kepada warga. Kepala kerbau terlebih dahulu diarak mengelilingi kampung sebelum dilarung.
Masyarakat menjalankan tradisi tersebut dengan harapan memperoleh ketenteraman. Upacara Dam Bagong menjadi salah satu contoh tradisi lokal yang memperlihatkan kuatnya ikatan antara masyarakat, adat istiadat, dan harapan akan kehidupan yang aman.






