Mengenal Bordir Bangil, Warisan Budaya yang Jadi Identitas Pasuruan

Mengenal Bordir Bangil, Warisan Budaya yang Jadi Identitas Pasuruan

Arya Agung Raharjo - detikJatim
Sabtu, 03 Okt 2026 09:30 WIB
Ilustrasi Bordir Bangil atau Bangkodir
Ilustrasi Bordir Bangil atau Bangkodir. Foto: Gemini AI
Pasuruan -

Bangil bukan hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Pasuruan. Kecamatan yang berada di jalur strategis Jawa Timur ini juga memiliki identitas kerajinan yang sudah lama melekat di masyarakat, yakni bordir.

Dari keterampilan yang dikerjakan secara turun-temurun, bordir berkembang menjadi salah satu produk unggulan sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Jejak tersebut kemudian semakin kuat setelah Bangil dicanangkan sebagai "Bangkodir" atau Bangil Kota Bordir pada 11 September 2005.

Pencanangan itu bahkan diramaikan dengan Fashion on the Street sepanjang 1 kilometer yang memperoleh Rekor MURI. Lantas, bagaimana perkembangan bordir Bangil, apa ciri khas motifnya, dan mengapa kerajinan ini bisa menjangkau pasar luar negeri?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Bordir Bangil

Bordir menjadi salah satu kerajinan yang berkembang di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Keberadaannya bukan sekadar aktivitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar, tetapi juga berkaitan dengan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sejumlah penelitian mengenai industri bordir Bangil mencatat bahwa kerajinan ini telah berkembang sejak lama dan menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat. Industri tersebut juga dikenal mampu bertahan ketika terjadi tekanan ekonomi, termasuk pada masa krisis 1997.

ADVERTISEMENT

Perkembangan bordir kemudian membuat Bangil dikenal lebih luas sebagai salah satu sentra bordir di Kabupaten Pasuruan. Pemerintah daerah pun menjadikan potensi tersebut sebagai bagian dari identitas wilayah.

Dukungan itu terlihat dari pencanangan Bangil sebagai Bangil Kota Bordir atau Bangkodir pada 11 September 2005. Pemerintah Kabupaten Pasuruan mencatat pencanangan tersebut disertai pertunjukan Fashion on the Street sepanjang satu kilometer yang mendapatkan Rekor MURI.

Sejak saat itu, nama Bangkodir semakin sering digunakan untuk memperkenalkan Bangil sebagai sentra kerajinan bordir.

Kenapa Bangil Disebut Bangkodir?

Bangkodir merupakan akronim dari Bangil Kota Bordir. Sebutan tersebut lahir dari perkembangan industri bordir yang cukup kuat di Bangil, ditandai dengan keberadaan perajin dan usaha rumah tangga yang memproduksi berbagai macam produk bordir.

Pencanangan Bangkodir pada 2005 menjadi salah satu momentum penting dalam memperkuat citra tersebut. Bahkan, penyelenggaraan Fashion on the Street sepanjang satu kilometer menjadi bagian dari pencanangan dan kemudian tercatat sebagai Rekor MURI.

Dengan demikian, Bangkodir bukan sekadar nama promosi. Julukan tersebut tumbuh dari keberadaan aktivitas ekonomi masyarakat yang memang telah lama berkaitan dengan keterampilan bordir.

Perkembangan Motif Bordir Bangil

Keunikan bordir Bangil juga dapat dilihat dari perubahan motif dan penggunaannya. Berdasarkan kajian mengenai perkembangan motif bordir Bangil, perubahan tersebut dapat dilihat dalam beberapa periode.

Periode 1975-1994

Pada periode awal, motif bordir banyak mengambil inspirasi dari hewan dan tumbuhan. Beberapa motif yang digunakan antara lain merak, keong, bunga mawar, melati, krisan, sedap malam, dan bunga sepatu.

Pada masa ini, proses produksi masih banyak mengandalkan mesin bordir manual. Warna benang yang digunakan pun cenderung mengikuti atau menyesuaikan warna kain yang menjadi media bordir.

Motif-motif tersebut memperlihatkan bagaimana unsur alam menjadi salah satu sumber inspirasi utama dalam perkembangan desain bordir Bangil.

Periode 1995-2004

Memasuki periode berikutnya, sekitar 1995-2004, motif tumbuhan semakin dominan. Bunga mawar, melati, krisan, rerumputan, dan teratai menjadi beberapa motif yang digunakan.

Perkembangan juga terlihat dari semakin luasnya penggunaan bordir. Jika sebelumnya banyak diterapkan pada pakaian dan kebutuhan rumah tangga tertentu, pada periode ini bordir mulai digunakan pada baju, seprai, jilbab, hingga mukena.

Artinya, bordir tidak lagi hanya berkembang sebagai hiasan pada pakaian, tetapi mulai mengikuti kebutuhan dan selera konsumen yang semakin beragam.

Periode 2005-2013

Perubahan semakin terlihat pada periode 2005-2013. Motif yang digunakan kembali memadukan unsur hewan dan tumbuhan, seperti melati, kamboja, songgo langit, krisan, tulip, sedap malam, hingga keong.

Dari sisi teknologi, proses produksi juga mulai mengenal mesin bordir yang lebih modern, termasuk bordir cetak, meskipun penggunaan mesin bordir listrik masih tetap dilakukan oleh sebagian perajin.

Produk yang dihiasi bordir pun semakin beragam. Tidak hanya pakaian atau perlengkapan ibadah, bordir mulai diaplikasikan pada penutup galon, tempat tisu, taplak meja, dan berbagai produk kebutuhan rumah tangga lainnya.

Perubahan ini menunjukkan bahwa perkembangan bordir Bangil berjalan beriringan dengan perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.

Motif Bordir Bangil Terinspirasi dari Lingkungan Sekitar

Salah satu unsur yang menarik dari perkembangan bordir Bangil adalah kuatnya penggunaan motif flora. Bunga menjadi salah satu sumber inspirasi yang terus muncul dalam berbagai periode perkembangan bordir.

Penelitian Yuhri Inang Prihatina dari Universitas Negeri Surabaya, misalnya, secara khusus membahas bunga sedap malam sebagai sumber inspirasi motif bordir Bangil. Kajian tersebut menyebut Bangil sebagai salah satu daerah penghasil bordir yang produknya telah dikenal hingga mancanegara.

Penggunaan bunga sedap malam menarik karena tanaman tersebut juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah Bangil dan sekitarnya. Karena itu, pengembangan motif yang mengambil inspirasi dari lingkungan lokal dapat menjadi cara untuk memperkuat karakter visual bordir Bangil.

Di sisi lain, penelitian tersebut juga mencatat adanya tantangan bagi industri bordir, antara lain perkembangan desain, penurunan omzet pada sebagian usaha, diversifikasi produk, hingga kebutuhan regenerasi perajin.

Produk Bordir Bangil Tidak Hanya Pakaian

Seiring berkembangnya permintaan konsumen, penggunaan bordir Bangil semakin jauh dari sekadar pakaian.

Bordir dapat ditemukan pada berbagai produk seperti mukena, kebaya, pakaian muslim, sajadah, tas, sepatu, taplak meja, hingga tempat tisu. Diversifikasi tersebut membuat keterampilan bordir dapat diterapkan pada produk fesyen sekaligus kebutuhan rumah tangga.

Perkembangan ini juga memperlihatkan bahwa bordir Bangil mampu mengikuti perubahan pasar tanpa sepenuhnya meninggalkan keterampilan tradisional yang menjadi dasar pembuatannya.

Dari sisi harga, produk bordir memiliki rentang yang cukup beragam. Nilainya dipengaruhi oleh jenis produk, bahan yang digunakan, motif, teknik produksi, serta tingkat kerumitan pengerjaan. Produk sederhana dapat ditemukan mulai dari kisaran Rp25.000, sementara produk dengan bahan dan pengerjaan yang lebih kompleks dapat mencapai ratusan ribu rupiah.



(ihc/irb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads