Mengenal Batik Khas Pasuruan dan Cerita di Balik Motifnya

Mengenal Batik Khas Pasuruan dan Cerita di Balik Motifnya

Arya Agung Raharjo - detikJatim
Jumat, 02 Okt 2026 10:00 WIB
Ilustrasi batik Pasuruan
Ilustrasi batik Pasuruan. Foto: Gemini AI
Pasuruan -

Pasuruan bukan hanya dikenal dengan kawasan pegunungan dan wisata alamnya. Di balik kehidupan masyarakat pesisir hingga kawasan lereng Bromo, daerah ini juga memiliki batik khas yang mengambil inspirasi dari lingkungan, sejarah, serta budaya lokal.

Salah satunya adalah Batik Pasedahan Suropati, yang kemudian dikenal sebagai salah satu identitas batik Pasuruan.

Perkembangan batik di Pasuruan sendiri tidak muncul begitu saja. Jejaknya sudah ada sejak sekitar 1950 melalui Batik Kawung Tembokan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga akhirnya, pada 2003, dikembangkan Batik Pasedahan Suropati dengan motif daun sirih dan burung kepodang. Lantas, seperti apa sejarah, ciri khas, motif, jenis kain, hingga cara merawat batik khas Pasuruan? Berikut ulasan lengkapnya.

Perkembangan Batik Pasuruan

Perjalanan batik di Pasuruan dapat ditelusuri sejak sekitar 1950. Pada masa itu dikenal Batik Kawung Tembokan, yakni batik dasar yang lazim digunakan sebagai bawahan atau sewek.

ADVERTISEMENT

Perkembangan berikutnya terjadi pada 2003 ketika Bu Sri Khofifah mengembangkan Batik Pasedahan Suropati. Batik tersebut kemudian menjadi salah satu batik khas Pasuruan yang mengangkat unsur sejarah dan identitas daerah.

Batik Pasedahan Suropati memiliki dua unsur motif utama, yakni daun sirih dan burung kepodang. Keduanya tidak sekadar digunakan sebagai hiasan, tetapi memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan serta kearifan lokal masyarakat Pasuruan.

Dari perkembangan tersebut, batik Pasuruan kemudian memiliki karakter yang semakin beragam. Motifnya tidak hanya mengambil inspirasi dari sejarah dan kehidupan masyarakat, tetapi juga lingkungan alam yang menjadi bagian penting dari karakter wilayah Pasuruan.

Mengapa Batik Pasuruan Punya Karakter Pesisir?

Karakter Batik Pasuruan tidak dapat dilepaskan dari posisi geografisnya di pesisir utara Pulau Jawa. Letak tersebut membuat Pasuruan sejak masa lalu berhubungan dengan aktivitas perdagangan dan pertemuan berbagai kebudayaan.

Pengaruh dari pedagang mancanegara kemudian berbaur dengan kebudayaan masyarakat setempat. Pertemuan berbagai unsur tersebut turut membentuk karakter batik pesisir Pasuruan yang cenderung berani dalam penggunaan warna.

Karakter tersebut dapat terlihat dari penggunaan warna seperti hijau segar, biru pesisir, hingga warna tanah Tengger. Pilihan warna ini sekaligus memperlihatkan bagaimana karakter pesisir dan kawasan pegunungan dapat hadir dalam satu karya batik.

Keunikan lain terlihat dari perpaduan karakter batik tersebut dengan bordir khas Bangil, yang semakin memperkaya tampilan produk tekstil dari Pasuruan.

Dengan latar geografis dan pengaruh budaya tersebut, motif batik Pasuruan kemudian berkembang dengan mengambil banyak inspirasi dari flora, fauna, sejarah, serta bentang alam di sekitarnya.

Motif Khas Batik Pasuruan dan Maknanya

Salah satu hal yang membuat Batik Pasuruan menarik adalah keberadaan motif yang dekat dengan kehidupan dan lingkungan daerah. Beberapa motif yang dikenal, antara lain bunga sedap malam, daun sirih, Jumputan Pasir Bromo, bunga krisan, dan burung kepodang.

Bunga Sedap Malam

Bunga sedap malam menjadi salah satu unsur yang khas dalam motif Batik Pasuruan. Bunga berwarna putih tersebut menggambarkan kekayaan flora Pasuruan sekaligus memberikan karakter tersendiri pada kain batik.

Polianthes tuberosa or polyanthus lily white flowersBunga sedap malam (Foto: Getty Images/iStockphoto/skymoon13)

Penggunaan unsur flora lokal membuat batik tidak hanya berfungsi sebagai kain bermotif, tetapi juga menjadi media untuk merepresentasikan kekayaan lingkungan daerah.

Daun Sirih

Daun sirih menjadi salah satu motif yang populer dalam Batik Pasuruan. Motif ini menyimbolkan keharmonisan dan kemakmuran masyarakat pesisir.

fresh betel leaf plant in garden. Top view.Ilustrasi daun sirih (Foto: Getty Images/Everyday better to do everything)

Daun sirih juga menjadi salah satu unsur penting dalam batik Pasedahan Suropati. Ketika dipadukan dengan motif lainnya, daun sirih turut memperkuat identitas lokal yang ingin ditampilkan melalui kain batik Pasuruan.

Jumputan Pasir Bromo

Pasuruan memiliki kawasan yang berkaitan erat dengan Gunung Bromo. Unsur alam tersebut kemudian turut diterjemahkan ke dalam motif batik melalui Jumputan Pasir Bromo.

Motif ini memiliki bentuk abstrak yang terinspirasi dari hamparan lautan pasir Bromo. Kehadiran motif tersebut memperlihatkan bagaimana bentang alam tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga dapat diangkat menjadi bagian dari identitas budaya melalui karya batik.

Motif Jumputan Pasir Bromo sekaligus merepresentasikan kekayaan alam dan potensi agrowisata Pasuruan dalam bentuk visual yang dapat dikenakan.

Bunga Krisan

Selain kawasan pesisir dan Bromo, kehidupan pertanian serta kawasan pegunungan juga menjadi sumber inspirasi motif Batik Pasuruan.

Salah satunya adalah bunga krisan. Motif ini menggambarkan kekayaan pertanian lokal sekaligus keindahan kawasan pegunungan yang menjadi bagian dari karakter geografis Pasuruan.

Burung Kepodang

Burung kepodang menjadi motif lain yang memiliki keterkaitan dengan identitas Batik Pasuruan. Dalam pemaknaan pada masa lalu, burung kepodang melambangkan keberuntungan.

Motif burung kepodang biasanya dipadukan dengan daun sirih. Perpaduan tersebut mempertemukan simbol keberuntungan dengan kearifan lokal dan identitas budaya masyarakat Pasuruan.

Kombinasi inilah yang juga menjadi bagian penting dari karakter Batik Pasedahan Suropati yang dikembangkan pada 2003.

Jenis Kain Batik Pasuruan dan Kisaran Harganya

Keunikan Batik Pasuruan tidak hanya terletak pada motif. Jenis kain yang digunakan untuk membuatnya juga beragam, sehingga memengaruhi harga jual.

Beberapa jenis kain yang digunakan antara lain trisima, trimisima, dan wisudera yang menggunakan serat sutra.

Kain trisima umumnya dijual dengan harga kurang dari Rp 500.000. Sementara itu, kain trimisima berada di kisaran Rp 550.000. Adapun wisudera yang menggunakan serat sutra memiliki harga lebih tinggi, yakni di atas Rp 1 juta.

Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa ketika mencari Batik Pasuruan, pembeli tidak hanya perlu memperhatikan motif. Jenis dan kualitas kain juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Cara Merawat Batik agar Warna dan Serat Tetap Terjaga

Setelah memiliki batik Pasuruan, perawatan menjadi bagian penting agar warna dan kualitas kain tetap terjaga. Batik sebaiknya tidak dicuci menggunakan deterjen bubuk yang mengandung bahan kimia keras karena dapat mempengaruhi warna dan kondisi serat kain.

Untuk mencuci, dapat digunakan shampo bayi atau sabun khusus lerak yang berasal dari buah lerak. Saat mencuci, kain juga sebaiknya tidak diremas terlalu kuat karena dapat merusak bentuk dan seratnya.

Setelah dicuci, hindari menjemur kain di bawah paparan sinar matahari langsung. Kain cukup diangin-anginkan atau dijemur di tempat yang tidak terkena matahari secara langsung agar warnanya tidak cepat luntur.

Begitu pula ketika menyetrika. Gunakan suhu yang tidak terlalu tinggi. Kain juga dapat diberi alas saat disetrika untuk membantu melindungi permukaan batik dari panas secara langsung.



(ihc/irb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads