Banyuwangi tidak hanya dikenal lewat keindahan alam dan festivalnya. Di balik itu, daerah di ujung timur Jawa Timur ini memiliki beragam tradisi, kesenian, ritual, hingga karya budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian di antaranya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia.
Gandrung menjadi salah satu kesenian yang paling lekat dengan identitas Banyuwangi. Namun, warisan budaya daerah ini juga mencakup berbagai tradisi dan ritual, seperti Seblang, Keboan, Mocoan Lontar Yusuf, Tumpeng Sewu, hingga Shalawat Badar. Lantas, apa saja Warisan Budaya Tak Benda dari Banyuwangi?
Mengenal Warisan Budaya Tak Benda Banyuwangi
Warisan Budaya Tak Benda bukan sekadar kesenian yang dipertontonkan kepada masyarakat. Di dalamnya terdapat pengetahuan, nilai, tradisi, ritual, ekspresi seni, serta praktik budaya yang hidup dan diwariskan dalam suatu komunitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekayaan budaya Banyuwangi tidak terlepas dari perjalanan sejarah wilayah Blambangan serta keberadaan masyarakat Osing yang masih mempertahankan berbagai tradisi leluhur. Berikut sejumlah Warisan Budaya Tak Benda yang berasal dari atau berkembang kuat di Banyuwangi.
1. Rengganis
Rengganis merupakan kesenian drama tradisional yang berkembang di Banyuwangi. Kesenian ini diperkirakan memiliki kaitan dengan perkembangan budaya dari Kerajaan Mataram Islam.
Pertunjukan Rengganis menarik karena tidak berdiri dari satu bentuk kesenian saja. Di dalamnya terdapat akulturasi dan kolaborasi berbagai jenis seni pertunjukan, antara lain wayang orang, kethoprak, ludruk, janger atau Damarwulan, Ande-Ande Lumut, Gandrung, dan bentuk kesenian lainnya.
Perpaduan tersebut membuat Rengganis memiliki karakter pertunjukan yang khas. Kesenian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana berbagai pengaruh budaya dapat bertemu dan berkembang menjadi bentuk kesenian baru di Banyuwangi.
2. Tari Gandrung
Tari Gandrung merupakan salah satu kesenian yang paling identik dengan Banyuwangi. Tarian tradisional ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi telah menjadi salah satu simbol identitas budaya masyarakat Banyuwangi.
Tari gandrung Banyuwangi (Foto: Eka Rimawati/ detikjatim) |
Gandrung memiliki ciri khas yang mudah dikenali melalui kostum yang mencolok, gerakan tari yang gemulai, serta musik pengiring tradisional. Pada awal perkembangannya, Gandrung berkaitan dengan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah.
Pertunjukannya juga tidak terlepas dari sejumlah ritual untuk memohon keselamatan. Seiring perkembangan zaman, fungsi Gandrung ikut berubah dan berkembang. Tarian ini kemudian semakin sering tampil dalam berbagai kegiatan budaya, acara adat, festival, hingga perayaan masyarakat.
Tari Gandrung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2013. Status tersebut semakin menguatkan posisi Gandrung sebagai salah satu kesenian yang tidak dapat dipisahkan dari identitas Banyuwangi.
3. Seblang Bakungan
Seblang merupakan salah satu tradisi yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Suku Osing, khususnya di Desa Olehsari dan Desa Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Ritual Adat Seblang Bakungan Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani/detikJatim) |
Berbeda dengan pertunjukan tari pada umumnya, Seblang merupakan bagian dari rangkaian ritual adat yang memiliki dimensi spiritual. Tradisi ini masih dipertahankan masyarakat hingga sekarang dan dipercaya berkaitan dengan hubungan manusia, leluhur, serta keselamatan desa.
Penari Seblang juga tidak dipilih secara sembarangan. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, pemilihan penari berkaitan dengan proses supranatural dan garis keturunan penari Seblang sebelumnya.
Dalam pelaksanaannya, penari dipercaya mengalami kondisi trance atau berada dalam keadaan di luar kendali kesadaran normal. Masyarakat meyakini kondisi tersebut berkaitan dengan masuknya roh leluhur yang kemudian membantu penari menjalankan ritual.
Seblang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2014. Pelaksanaannya pun tidak dapat dilakukan sembarang waktu karena mengikuti ketentuan adat yang dipercaya masyarakat.
Di antaranya, ritual Seblang di Bakungan biasanya dilaksanakan pada awal bulan Syawal, tepatnya mulai 3 Syawal. Bagi masyarakat Suku Osing, ritual ini dipercaya memiliki fungsi sebagai tolak bala, yakni upaya untuk mengusir marabahaya dan membuang kesialan dari desa.
Rangkaian ritual dimulai sebelum pertunjukan Seblang. Warga terlebih dahulu menggelar tumpengan bersama di sepanjang jalan desa. Setelah itu, masyarakat melaksanakan salat Magrib dan salat hajat secara berjamaah di masjid setempat.
Ritual kemudian dilanjutkan dengan parade obor mengelilingi desa atau ider bumi. Di bawah cahaya obor, warga kembali makan tumpeng bersama di sepanjang jalan desa.
Setelah rangkaian tersebut, dilakukan pembacaan mantra untuk penari Seblang. Ketika berada dalam kondisi trance, penari kemudian menari mengikuti iringan musik atau gending tradisional, di antaranya Kodok Ngorek dan Seblang Lukinto.
4. Janger Banyuwangi
Janger selama ini identik dengan kesenian dari Bali. Namun, Banyuwangi juga memiliki Janger dengan karakter budaya yang berbeda. Di Banyuwangi, kesenian ini dikenal pula sebagai teater Banyuwangi atau Damarwulan.
Janger Banyuwangi merupakan hasil akulturasi budaya Bumi Blambangan dengan budaya Bali. Jejak percampuran budaya tersebut dapat dilihat dari penggunaan gamelan dan busana yang memiliki pengaruh Bali.
Menariknya, bahasa yang digunakan dalam pertunjukan justru menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Osing. Perpaduan berbagai unsur tersebut membuat Janger Banyuwangi memiliki karakter tersendiri.
Janger Banyuwangi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2018. Selain berfungsi sebagai hiburan, pertunjukan ini juga membawa pesan tentang keteladanan serta menjadi refleksi terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dengan demikian, Janger tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga menjadi salah satu media untuk mempertahankan identitas budaya Banyuwangi yang terbentuk dari pertemuan berbagai pengaruh budaya.
5. Shalawat Badar
Warisan budaya Banyuwangi tidak hanya berupa tari dan ritual adat. Ada pula karya budaya dalam bentuk syair keagamaan yang memiliki sejarah erat dengan perjalanan bangsa Indonesia, yakni Shalawat Badar.
KH Ali Manshur Siddiq penulis dan pencipta Selawat Badar (Foto: Istimewa /Dok Keluarga KH Ali Manshur) |
Shalawat Badar diciptakan oleh KH Ali Manshur Shiddiq di Banyuwangi pada 1962. Karya tersebut kemudian secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang berasal dari Provinsi Jawa Timur.
Penetapan tersebut dituangkan melalui Sertifikat Nomor 2194/F4/KB.08.06/2022 tertanggal 21 Oktober 2022. KH Ali Manshur dikenal sebagai tokoh pergerakan Nahdlatul Ulama (NU).
Ia pernah menjadi salah satu wakil Partai NU di Dewan Konstituante, lembaga yang kemudian dibubarkan Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 setelah gagal mencapai kesepakatan untuk merumuskan konstitusi negara dan Indonesia kembali menggunakan UUD 1945.
Shalawat Badar lahir dalam situasi politik dan sosial yang penuh ketegangan. Pada periode 1959-1965, Indonesia menghadapi berbagai persoalan politik dan menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia.
Dalam konteks tersebut, KH Ali Manshur yang saat itu menjabat Ketua PCNU Banyuwangi menciptakan Shalawat Badar sebagai doa untuk memohon keselamatan Indonesia.
6. Mocoan Lontar Yusuf
Mocoan Lontar Yusuf merupakan tradisi masyarakat Suku Osing Banyuwangi berupa pembacaan Lontar Yusuf. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat mempertahankan warisan sastra sekaligus praktik pembacaan naskah secara turun-temurun.
Lontar Yusuf merupakan naskah kuno yang ditulis menggunakan aksara Pegon dan berisi kisah Nabi Yusuf. Naskah tersebut tidak ditulis dalam bentuk prosa biasa, melainkan berupa puisi tradisional yang mengikuti aturan tertentu yang disebut pupuh.
Secara keseluruhan, Lontar Yusuf terdiri atas 12 pupuh, 593 bait, dan 4.366 larik. Angka tersebut menunjukkan bahwa tradisi Mocoan Lontar Yusuf bukan hanya berkaitan dengan kegiatan membaca, tetapi juga menyimpan kekayaan sastra dan pengetahuan tradisional masyarakat Osing.
7. Keboan Aliyan
Di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, masyarakat masih mempertahankan tradisi Keboan atau Kebo-keboan. Ritual adat ini berkaitan erat dengan kehidupan agraris masyarakat.
Ritual Keboan di Desa Aliyan Banyuwangi. (Foto: Istimewa/dok. Humas Pemkab Banyuwangi) |
Keboan merupakan ritual permohonan kepada Tuhan agar sawah masyarakat diberikan kesuburan dan hasil panen berlangsung dengan baik. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Suro. Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah ketika sejumlah petani mengalami kondisi trance dan bertingkah seperti kerbau.
Dalam tradisi tersebut, kerbau dipandang sebagai mitra petani dalam mengolah sawah sekaligus simbol yang dipercaya dapat membantu menghalau malapetaka selama musim tanam hingga panen. Rangkaian Keboan diawali dengan kenduri desa yang dilaksanakan sehari sebelumnya.
Warga kemudian bergotong royong mendirikan gapura dari janur di sepanjang jalan desa. Gapura tersebut dihiasi hasil bumi sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan. Pada pagi harinya, masyarakat menggelar selamatan di empat penjuru desa.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan ider bumi atau berkeliling desa. Para petani yang telah didandani menyerupai kerbau kemudian mengikuti perjalanan tersebut. Mereka melakukan gerakan yang menggambarkan siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi lahan, hingga menabur benih padi.
Dalam kondisi trance, para peserta berjalan layaknya kerbau yang sedang bekerja di sawah. Mereka juga berkubang, bergumul dengan lumpur, dan berguling-guling di sepanjang jalan.
Peralatan membajak bahkan dipasang di pundak mereka sehingga penampilannya menyerupai kerbau yang sedang membantu petani. Tradisi Kebo-keboan hingga kini dipertahankan secara turun-temurun di dua dusun di Desa Aliyan, yakni Dusun Aliyan dan Dusun Sukodono.
8. Angklung Banyuwangi
Angklung Banyuwangi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya yang mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Penetapan tersebut tidak berlangsung secara instan.
Prosesnya melalui kajian yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Kajian tersebut penting karena Angklung Banyuwangi memiliki karakter yang berbeda dari angklung yang berkembang di daerah lain.
Salah satu unsur yang menjadi perhatian adalah karakter musiknya. Arkeolog dan Epigraf Museum Blambangan Banyuwangi, Bayu Ariwibowo, mengatakan karakter musik yang khas menjadi salah satu kunci penilaian.
Menurutnya, alat musik tradisional dengan karakteristik unik khas ujung timur Pulau Jawa tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang layak mendapatkan pengakuan sebagai WBTb.
9. Tumpeng Sewu
Tumpeng Sewu merupakan ritual adat masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi. Tradisi ini berupa makan bersama dengan menyajikan ribuan tumpeng di sepanjang jalan desa.
Tradisi Tumpeng Sewu (Foto: Eka Rimawati/detikJatim) |
Tumpeng Sewu dipercaya sebagai warisan adat leluhur dan menjadi salah satu tradisi yang masih dipertahankan masyarakat Kemiren. Ritual tersebut biasanya digelar sekitar satu pekan sebelum Idul Adha.
Saat ritual berlangsung, akses jalan menuju Desa Adat Kemiren ditutup mulai sekitar pukul 18.00. Masyarakat maupun pengunjung yang hendak menuju lokasi harus berjalan kaki sebagai bentuk penghormatan terhadap jalannya ritual.
Di sepanjang jalan, warga menyiapkan ribuan tumpeng yang ditutup dengan daun pisang. Hidangan tersebut dilengkapi lauk khas masyarakat Kemiren, terutama pecel pitik dan sayuran.
Pecel pitik menjadi salah satu unsur penting dalam Tumpeng Sewu. Hidangan tersebut berupa ayam kampung yang dipanggang kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan bumbu khas Osing.
Setelah salat Magrib, ritual dimulai. Dengan penerangan temaram dari obor, masyarakat duduk bersama di atas tikar atau karpet yang telah digelar di depan rumah masing-masing. Tumpeng Sewu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2014. Tradisi ini juga menjadi bagian dari rangkaian Festival Banyuwangi.





