- Sejarah Tradisi Endhog-endhogan Banyuwangi Dari Tradisi Maulid Menjadi Identitas Budaya Banyuwangi
- Filosofi Telur dalam Tradisi Endhog-endhogan
- Filosofi Kembang Endhog dan Jodang dalam Tradisi Endhog-endhogan
- Rangkaian Tradisi Endhog-endhogan 1. Membuat Kembang Endhog 2. Kirab Jodang 3. Pembacaan Berzanji dan Selawat 4. Pembagian Kembang Endhog
Tradisi endhog-endhogan menjadi salah satu warisan budaya Banyuwangi yang masih lestari hingga kini. Tradisi ini digelar masyarakat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan ciri khas telur rebus yang dihias menjadi kembang endhog, kemudian ditancapkan pada jodang atau batang pohon pisang yang telah dihias.
Perayaan endhog-endhogan tidak hanya berlangsung di satu wilayah. Tradisi ini berkembang di berbagai desa di Kabupaten Banyuwangi, terutama di wilayah yang menjadi tempat tinggal masyarakat Osing.
Selain menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, endhog-endhogan juga menjadi ruang bagi masyarakat Banyuwangi untuk berkumpul, bergotong royong, berbagi, serta menjaga keberlangsungan budaya lokal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Tradisi Endhog-endhogan Banyuwangi
Sejarah tradisi endhog-endhogan memiliki sejumlah versi. Berdasarkan informasi Banyuwangi Tourism, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, tradisi endhog-endhogan telah ada di Banyuwangi sejak 1911.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari Perpustakaan Budaya Digital, tradisi endhog-endhogan disebut muncul setelah Islam masuk ke wilayah Kerajaan Blambangan. Sumber tersebut mengutip sejarawan lokal Banyuwangi Suhailik, yang menyebut kemunculan tradisi ini sejak akhir abad ke-18.
Perbedaan catatan tersebut menunjukkan bahwa sejarah awal endhog-endhogan memiliki lebih dari satu versi. Karena itu, tahun kemunculannya tidak dapat disebut sebagai satu angka yang mutlak.
Dalam cerita lisan masyarakat Banyuwangi, tradisi ini dikaitkan dengan KH Abdullah Faqih, yang merupakan santri Kiai Syaikhona Kholil. Ia kemudian mengembangkan telur rebus yang dihias dan ditancapkan pada batang pohon pisang atau jodang sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi.
Dari Tradisi Maulid Menjadi Identitas Budaya Banyuwangi
Jurnal "Identitas Kota Ujung Timur Pulau Jawa: Tradisi Endhog-Endhogan di Banyuwangi dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW" yang ditulis Moch Sholeh Pratama menyebut tradisi endhog-endhogan berkembang dari tradisi yang berkaitan dengan dakwah hingga menjadi bagian dari identitas budaya Banyuwangi.
Endhog-endhogan pada awalnya berkembang di kalangan masyarakat Osing. Seiring waktu, tradisi tersebut semakin dikenal dan dilaksanakan oleh berbagai lapisan masyarakat Banyuwangi dalam berbagai bentuk. Perkembangan tersebut juga terlihat dari bentuk kembang endhog yang semakin beragam.
Dilansir dari jurnal "Makna Kultural dan Nilai Religius Tradisi Kembang Endhog-endhogan dalam Peringatan Muludan Nabi di Banyuwangi" karya Agista Nora Kanahaya, Agus Machfud Fauzi, dan Diyah Utami, tradisi kembang endhog dapat beradaptasi dengan perkembangan masyarakat tanpa menghilangkan fungsi religiusnya.
Hiasan kembang endhog pun tidak selalu berbentuk bunga, tetapi dapat dibuat menyerupai berbagai bentuk, seperti barong, ular naga, pesawat, hingga kerucut. Meski bentuk dan teknik pembuatannya menyesuaikan kreativitas masyarakat, telur tetap menjadi unsur utama dalam tradisi ini.
Filosofi Telur dalam Tradisi Endhog-endhogan
Telur menjadi unsur utama dalam tradisi endhog-endhogan. Dalam bahasa Jawa, endhog berarti telur. Dalam tradisi ini, telur yang telah direbus kemudian dihias dengan kembang endhog dan ditancapkan pada jodang sebagai bagian dari rangkaian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Penggunaan telur tidak sekadar menjadi hiasan, tetapi memiliki makna simbolik. Tiga bagian telur, yakni cangkang, putih telur, dan kuning telur, dimaknai sebagai iman, Islam, dan ihsan.
Cangkang melambangkan iman, putih telur melambangkan Islam, sedangkan kuning telur melambangkan ihsan dan awal kehidupan. Makna tersebut menjadi salah satu simbol keagamaan yang melekat pada penggunaan telur dalam tradisi endhog-endhogan masyarakat Banyuwangi.
Filosofi Kembang Endhog dan Jodang dalam Tradisi Endhog-endhogan
Kembang endhog merupakan hiasan berbahan telur rebus yang dihias dengan tusuk bambu dan kertas warna-warni. Hiasan tersebut kemudian ditancapkan pada jodang, yakni batang atau pohon pisang yang turut dihias.
Kembang endhog tidak hanya menjadi hiasan dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Telur di dalamnya dimaknai sebagai simbol kelahiran, sedangkan jodang menjadi bagian dari visualisasi tradisi yang berkembang di masyarakat Banyuwangi.
Melansir kajian "Mendalami Makna Tradisi Kembang Endhog Dalam Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi" karya Arjuna Syarif Pringgo Nugroh dan Imam Ibnu Hajar, pohon pisang yang digunakan sebagai tempat menancapkan kembang endhog dipandang sebagai simbol keteguhan dan pantang menyerah karena dapat kembali tumbuh meskipun telah ditebang.
Jumlah kembang endhog dalam satu jodang juga dapat berbeda-beda, mulai dari 22, 27, 33, hingga 99 buah. Seperti dikutip dari jurnal UNISA Surabaya berjudul "Kembang Mulud: Tradisi Masyarakat Osing dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi" karya Nuril Abshor Hafizh dan Dwi Susanto.
Dengan demikian, telur, kembang endhog, dan jodang tidak hanya memperindah perayaan Maulid Nabi, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan dan kehidupan yang diwariskan melalui tradisi masyarakat Banyuwangi.
Rangkaian Tradisi Endhog-endhogan
Rangkaian tradisi endhog-endhogan Maulid Nabi di Banyuwangi dapat berbeda antara satu desa dan desa lainnya. Namun, secara umum terdapat beberapa tahapan yang menjadi bagian dari pelaksanaannya.
1. Membuat Kembang Endhog
Tahap awal dimulai dengan menyiapkan telur rebus, tusuk bambu, kertas warna-warni, dan pohon pisang. Tusuk bambu kemudian dihias menjadi kembang endhog dan dipasangkan dengan telur yang sudah matang.
Kembang endhog yang telah selesai dibuat selanjutnya ditancapkan pada jodang yang sudah dihias. Proses ini biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh warga sebagai bagian dari persiapan sebelum kirab jodang dan pembacaan selawat Berzanji.
2. Kirab Jodang
Setelah dihias dengan kembang endhog, jodang diarak keliling kampung. Jodang dapat dipanggul atau diangkut menggunakan becak, dengan iringan musik hadrah, patrol, terbang, atau rebana.
Kirab menjadi bagian yang memperlihatkan kemeriahan tradisi endhog-endhogan di Banyuwangi, sekaligus melibatkan masyarakat secara bersama-sama dalam perayaan Maulid Nabi.
3. Pembacaan Berzanji dan Selawat
Setelah kirab selesai, masyarakat Banyuwangi berkumpul di masjid atau musala untuk mengikuti pembacaan kitab Berzanji. Dalam masyarakat Osing, kegiatan ini dikenal sebagai serakalan.
Pembacaan dilakukan secara bergantian, kemudian dilanjutkan dengan berdiri bersama untuk melantunkan selawat Nabi Muhammad SAW. Tahapan ini menjadi bagian utama tradisi karena tetap menempatkan peringatan kelahiran Nabi sebagai inti endhog-endhogan.
4. Pembagian Kembang Endhog
Rangkaian tradisi endhog-endhogan kemudian ditutup dengan pembagian kembang endhog kepada masyarakat. Telur hias yang telah diarak dibagikan sebagai simbol berkah dan rasa syukur.
Pembagian biasanya dilakukan setelah pembacaan selawat atau pengajian, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dan kegiatan lainnya sesuai kebiasaan masyarakat setempat.
