Arca Dwarapala menjadi salah satu peninggalan masa Hindu-Buddha yang masih dapat dijumpai di sejumlah situs bersejarah Jawa Timur. Sosoknya mudah dikenali dari bentuk tubuh yang besar, wajah garang, mata melotot, taring, hingga senjata gada yang dibawanya.
Dalam tradisi Hindu-Buddha, Dwarapala memiliki fungsi sebagai penjaga pintu atau ruang suci. Keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan bangunan candi, tetapi juga dipercaya berperan sebagai pelindung dari berbagai kekuatan jahat.
Dalam jurnal Universitas Negeri Malang berjudul "Arca Dwarapala Raksasa Gaya Seni Kadiri, Singhasari & Majapahit" karya Deny Yudo Wahyudi dan Slamet Sujud Purnawan Jati, disebutkan sejumlah Dwarapala raksasa yang berada di Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Arca Dwarapala?
Dwarapala merupakan arca penjaga objek atau ruang yang dianggap suci. Dalam bahasa Sanskerta, istilah dwara berarti pintu atau gapura, sedangkan pala berarti penjaga.
Dwarapala juga berkaitan dengan kelompok Yaksa yang dalam kepercayaan masa lalu dipandang sebagai makhluk gaib dan memiliki kaitan dengan perlindungan serta kesuburan.
Arca Dwarapala umumnya dibuat berpasangan dan memiliki penggambaran yang terkesan menyeramkan. Sosoknya digambarkan dengan wajah demonis, mata besar atau melotot, bibir menyeringai hingga memperlihatkan taring, serta membawa gada sebagai salah satu atributnya.
Posisi duduk bersimpuh juga menjadi ciri yang dapat ditemukan pada Dwarapala berukuran raksasa di Jawa Timur. Meski dikenal sebagai penjaga pintu candi, penempatannya tidak selalu tepat di depan pintu bangunan suci.
Dwarapala berukuran besar diduga juga dapat berfungsi menjaga kompleks bangunan yang lebih luas, bahkan kemungkinan sebuah gerbang kota.
Keberadaan arca-arca tersebut membuat Dwarapala tidak hanya menarik dari sisi bentuknya, tetapi juga penting untuk melihat perkembangan seni dan kebudayaan pada masa lalu. Di Jawa Timur, sejumlah Dwarapala raksasa masih dapat dijumpai di beberapa situs bersejarah dengan karakter dan latar masa yang berbeda.
Dwarapala di Berbagai Wilayah Jawa Timur
Terdapat empat Dwarapala raksasa di Jawa Timur yang menjadi objek kajian, yakni Dwarapala Totok Kerot di Kediri, Raos Pacinan di Pasuruan, Singosari di Malang, dan Candi Penataran di Blitar. Keempatnya memperlihatkan karakter gaya seni yang berkembang pada masa Kadiri, Singhasari, hingga Majapahit.
1. Dwarapala Totok Kerot di Kediri
Salah satu Dwarapala raksasa di Jawa Timur berada di kawasan Totok Kerot, Kabupaten Kediri. Arca ini memiliki tinggi sekitar 3 meter dan digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh.
Dwarapala Totok Kerot menjadi salah satu contoh gaya seni masa Kadiri. Arca ini memiliki wajah yang berkesan demonis dengan mata besar dan menonjol.
Bagian rambutnya dibuat ikal dan terurai hingga bagian belakang tubuh. Salah satu tangannya masih terlihat berada di atas paha, sementara tangan lainnya telah terputus. Pada tangan yang tersisa terlihat bentuk seperti menggenggam.
Berdasarkan kelaziman atribut Dwarapala, benda yang digenggam tersebut diduga merupakan gada, yang memang menjadi salah satu senjata atau atribut khas arca penjaga.
2. Dwarapala Raos Pacinan di Pasuruan
Berikutnya ada Dwarapala Raos Pacinan yang berada di Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Di lokasi tersebut terdapat sepasang Dwarapala raksasa dengan tinggi sekitar 2 meter.
Keduanya berada di depan teras berundak yang kini hanya tersisa sebagian. Di sekitar situs juga ditemukan pecahan batu bata, gerabah, dan keramik.
Dwarapala Raos Pacinan menjadi salah satu contoh gaya seni Singhasari awal. Kedua arca digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh. Kondisinya sudah cukup aus, tetapi ciri sebagai Dwarapala masih dapat dikenali.
Salah satu arca terlihat memegang tali jerat, sementara pasangannya juga memiliki posisi tangan yang berbeda. Keberadaan situs di Desa Carat juga menarik karena nama tersebut mengingatkan pada Rabut Carat, sebuah tempat suci yang disebut dalam konteks masa Singhasari-Majapahit.
3. Dwarapala Singosari di Malang
Dwarapala Singosari menjadi salah satu arca penjaga yang paling dikenal di Jawa Timur. Arca yang mewakili gaya seni masa Singhasari ini berada di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Terdapat sepasang Dwarapala raksasa dengan tinggi sekitar 3 meter. Keduanya dibuat dari batu andesit putih dan berada di sebelah barat gugusan percandian Singosari.
Dwarapala Singosari memiliki penggambaran wajah yang garang dengan mata besar, gigi dan taring yang terlihat ketika menyeringai. Sosoknya juga dilengkapi berbagai hiasan dan atribut, termasuk gada.
Salah satu hal yang menarik dari Dwarapala Singosari adalah detail busananya. Penelitian tersebut menyebut gaya busana arca ini sebagai yang paling lengkap di antara Dwarapala raksasa yang dikaji. Hiasannya meliputi ikat kepala, hiasan telinga, kalung, tali kasta, kelat bahu, gelang, kain, gelang kaki, hingga gada.
4. Dwarapala Candi Penataran di Blitar
Wilayah Jawa Timur lainnya yang memiliki Dwarapala raksasa adalah Blitar, tepatnya di kompleks Candi Penataran, Desa Penataran, Kecamatan Nglegok. Dwarapala di Candi Penataran terdiri atas sepasang arca yang berada di sisi kanan dan kiri bekas gapura masuk halaman pertama kompleks percandian.
Kedua arca ini menjadi contoh gaya seni masa Majapahit. Dwarapala Candi Penataran digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh dengan wajah yang memperlihatkan karakter demonis.
Candi Penataran sendiri merupakan kompleks percandian yang memiliki tiga halaman. Dwarapala yang dibahas dalam penelitian berada di pintu masuk halaman pertama.
Pada bagian lapik arca disebut terdapat angka tahun 1292 M. Penggambaran Dwarapala Penataran juga memiliki sejumlah detail, mulai dari tata rambut, hiasan telinga, kalung, kelat bahu, gelang, hingga atribut gada.
Dwarapala Jadi Penanda Perkembangan Seni Jawa Timur
Keberadaan Dwarapala di berbagai wilayah Jawa Timur tidak hanya menarik dari sisi bentuknya yang besar dan khas. Arca-arca tersebut juga dapat menjadi bagian penting untuk memahami perkembangan seni, keagamaan, dan kebudayaan pada masa lalu.
Penelitian terhadap empat Dwarapala raksasa tersebut menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan dalam penggambaran tubuh, busana, atribut, serta gaya ukiran. Perbedaan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan gaya seni pada masa Kadiri, Singhasari hingga Majapahit.
Dari empat lokasi tersebut, Dwarapala Totok Kerot mewakili gaya Kadiri, Raos Pacinan mewakili gaya Singhasari awal, Dwarapala Singosari mewakili gaya Singhasari, sedangkan Dwarapala Candi Penataran mewakili gaya Majapahit.
Dengan demikian, Dwarapala bukan sekadar patung raksasa yang berdiri di kawasan situs kuno. Arca tersebut menyimpan informasi mengenai cara masyarakat masa lalu memaknai ruang sakral, perlindungan, kekuatan, serta perkembangan seni pada zamannya.
